Logo Header Antaranews Sumsel

Rela menunda menikah demi medali emas

Kamis, 28 Juni 2012 20:39 WIB
Image Print
Atlet karate putri andalan Sumatera Seloatan Meilina (Foto Antarasumsel.com/Dolly)
....Nanti jika sudah menikah ingin fokus mengurus keluarga, saya khawatir kalau dipaksakan akan memecah konsentrasi apalagi menjadi atlet bukan pekerjaan mudah....

Tidak seperti perempuan lain pada umumnya yang khawatir ketika memasuki usia kepala tiga, Meilina tetap santai meski usia mendekati 30 tahun karena keinginan menjadi yang terbaik pada Pekan Olahraga Nasional menjadi impian sejak lama.

Atlet putri karate Sumatera Selatan itu, rela menunda menikah demi medali emas pada ajang olahraga paling bergengsi Tanah Air di Riau, Pekan Baru, September 2012.

Padahal, tak sedikit pria yang mendekatinya untuk mempersunting sebagai istri karena telah mapan dari segi pendidikan dan pekerjaan.

"Hampir semua teman-teman sudah menikah tapi inilah pilihan hidup. Untuk berhasil harus fokus dan tidak boleh setengah-setengah," ujarnya di Palembang, Kamis (28/6).

Penyandang sabuk hitam itu masih memilih melajang meski telah memiliki sosok tambatan hati.

"Nanti jika sudah menikah ingin fokus mengurus keluarga, saya khawatir kalau dipaksakan akan memecah konsentrasi apalagi menjadi atlet bukan pekerjaan mudah. Keseharian dipenuhi jadwal latihan yang padat, ini yang membuat memilih menunda menikah," kata PNS Pemerintah Kota Lubuklinggau ini.

Kehidupan Mei, biasa ia disapa, didedikasikan pada olahraga karate sejak usia belia.

Sang ayah yang mula-mula mengenalkannya pada olahraga asal Negara Jepang itu pada usia 5 tahun.

Meski baru belajar tapi ia sudah menunjukkan mental sebagai seorang petarung.

"Baru tiga bulan latihan sudah juara pada ajang Kosgoro Cup tingkat provinsi untuk usia dibawah 10 tahun. Sejak itu saya mulai berlatih karate dan benar-benar serius saat memasuki usia belasan," ujar atlet kelahiran Palembang, 17 Mei 1983.

Keluarga karateka
Karate menjadi pilihan anggota keluarga Meilina karena sang ayah Al Guntur Hasan Basri merupakan pemegang sabuk hitam.

"Ayah, dua kakak, dan adik, semuanya menggeluti karate. Jadi, keharian memang tidak jauh-jauh dari dunia karate, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi bisa dikatakan selalu bicara karate," ujarnya.

Hanya saja, Meilana yang terbilang cukup berprestasi dari saudara-saudaranya karena memiliki kelebihan dari segi mental.

Prestasi terbaiknya ditorehkan pada PON Kaltim tahun 2008 dengan mengondol medali perak nomor kumite -61 kilogram, kemudian medali perunggu katak beregu pada PON Sumsel tahun 2004.

"Meilina berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain, jika bertanding maka jiwa petarungnya akan keluar. Ia benar-benar berani dan tidak ada yang ditakuti," kata sang ayah tercinta.

Pada Pekan Olahraga Nasional XVIII di Riau, September 2012, ia menjadi andalan Sumsel untuk meraih medali.

Tiga nomor bakal dilakoni gadis penyuka film mini seri Korea ini yakni katak beregu, kumite beregu, dan kumite perorangan -61.

Bersama dua rekannya, Yunda Anggraini dan Ira Maya Sofa, ia memupuk asa meraih dua medali emas.

"Target saya pada nomor katak beregu dan kumite perorangan. Khusus kumite harus lebih baik dari hasil tahun 2008 lalu dari perak menjadi emas," ujarnya.

Untuk laga itu, ia akan menjalani uji coba selama satu bulan ke Malaysia untuk memperbaiki teknik, taktik, dan mental sebelum turun pada ajang PON Riau.

"Selama ini menjalani pemusatan latihan di Lubuk Linggau dibawah arahan pelatih daerah Dadang Lesmana. Meski tidak gabung dengan atlet-atlet di Palembang tapi saya optimitis tidak kalah baik dari segi kualitas," katanya.

Meilina ingin memberikan kenangan manis pada PON terakhir karena akan memutuskan pensiun.

Akan tetapi, kecintaan mendalam pada olahraga bela diri itu membuatnya berkeinginan menjadi pelatih dengan target mencetak atlet-atlet berprestasi.

"Saya ingin anak-anak muda merasakan nikmatnya menjadi atlet karate, karena ada kepuasan tersendiri saat bertanding. Meski kalah, banyak yang didapat seperti bagaimana bersikap sportif dan mengakui keunggulan lawan," katanya.

Sementara, Sekretaris Umum Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia Husni Yosoef mengharapkan kiprah Meilina tetap berlanjut meski memutuskan pensiun sebagai atlet seusai PON Riau mendatang.

"Regenerasi atlet untuk sektor putri memang tidak berjalan baik di Sumsel, saya berharap Meilina dapat aktif seperti menjadi pelatih atau wasit. Sosok karateka seperti dia patut menjadi contoh bagi atlet-atlet muda karena mau mengorbankan masa muda demi meraih prestasi," ujarnya. (Dolly)



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026