
Bertahan hidup untuk suatu kemandirian

Palembang (ANTARA News) Mata Murni (45) berkaca-kaca mengamati putri tercintanya Fadillah (12) dari balik kaca ruang Medical Intensive Care Unit (MICU) Rumah Sakit Muhammad Husin, Palembang, Senin.
Kaki Lala, sapaan akrab Dillah, yang ditutupi selimut berwarna hijau terlihat bergerak dan sedikit mengangkat menandakan bahwa putri bungsunya itu telah kembali ke alam sadar.
Berada di jajaran pasien anak-anak lainnya, Lala terlihat tidur terlelap dengan tenangnya dan beberapa kali terlihat menggerakkan kepala.
Wanita pribumi itu sesekali menyeka air mata yang tak sadar telah mengalir di pipinya mengenang kekuatan sang putri tercinta bertahan hingga operasi ke-7 pembuatan saluran pembuangan kotoran (anus).
Betapa tidak, dari sepuluh anak yang mengalami nasib serupa, tinggal Fadillah yang bertahan, sementara rekan-rekannya telah terlebih dahulu menghadap Sang Pencipta.
Biasaya, para penderita bertahan hingga operasi kelima, sementara Lala telah melewati masa kritisnya pada dua operasi besar terakhir.
Sesekali dia menarik napas panjang mengenang betapa kuatnya sang putri menahan rasa sakit saat bor berukuran sebenar paku hingga sebesar jempol jari tangan melubangi daging untuk membuat lubang anus.
"Saya merawatnya dari bayi. Hingga usia 12 tahun, tak sekalipun saya pernah membentak Lala," ujar dia.
Tiba-tiba, seorang pemuda menghampiri dan menyapa ibu yang kesehariannya menjadi buruh cuci itu.
"Adek (Lala, red) sudah sadar, dari kecil dia begitu, benar-benar kuat," kata pemuda itu.
Pemuda itu ternyata perawat di rumah sakit tersebut yang sedang tidak bertugas. Selama bertahun-tahun mendapatkan perawatan medis, ternyata menumbuhkan suatu ikatan batin antara putrinya dengan sejumlah petugas.
Menurut Murni, Lala mendapatkan keistimewaan dari para pegawai rumah sakit itu, karena dianggap langkah karena mampu melewati usia 12 tahun.
"Semua membantu saya, dari satpam, hingga petugas bersih-bersih. Apalagi perawat dan dokter, mereka sangat peduli dengan Lala. Mungkin sangat langkah anak yang bisa bertahan seperti Lala, dokter dan perawat pun dapat kesempatan untuk belajar," kata dia.
Datangkan Tim Dokter dari Bandung
Pada operasi ke-7 itu, putrinya dioperasi oleh tim dokter asal Bandung, Jawa Barat.
Kesediaan lima orang dokter ahli itu, tak lain berkat dukungan dari dokter spesialis asal rumah sakit itu yang akrab disebut Dokter Sindu.
"Lala dipegang Dokter Sindu sejak awal, jadi dia yang mengusahakan. Jika kontrol, Lala selalu gratis, kadang-kandang justru dikasih uang," kata dia.
Semula, dia keberatan dengan desakan Dokter Sindu untuk segera mengoperasi Lala, tapi karena menyadari tidak ada gunanya jika menunda maka operasi pun diupayakan terlaksana.
Tim dokter asal Bandung itu pun sempat datang ke Palembang pada dua bulan lalu, dan terpaksa kembali karena ketidaksiapannya.
Selain faktor dana, Murni juga tidak siap secara mental karena hanya dua kemungkinan yang tersisa, yakni hidup atau mati karena infeksi.
"Saya bicara sambil menangis sejadi-jadinya, masak usaha saya membesarkan Lala selama 12 tahun akan sia-sia," ujar dia.
Berselang, dua bulan, akhirnya operasi yang ditunggu-tunggu dijalankan setelah pendanaan untuk kebutuhan selama berada di rumah sakit terpenuhi.
Operasi dilakukan selama delapan jam dari pukul 08.00 pagi, dan dinyatakan berhasil. Lala pun akan menjalani operasi ke-8 yakni pelebaran lubang vagina, satu bulan mendatang yang relatif tidak terlalu beresiko seperti operasi ke-7.
"Semua orang tidak percaya, Dokter berkata ini berkat kekuatan doa dan bukan karena kuasa manusia lagi," kata dia.
Bantuan Jamkesmas
Selama menjalani perawatan, Fadillah sama sekali tidak mengeluarkan dana karena dinangungi Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Biaya yang dikeluarkan relatif sedikit, itupun jika obat yang disediakan tidak tersedia melalui layanan itu.
"Misalnya darah tidak ada, maka pasien yang harus mengusahakan sendiri, dan beruntung sekali ada yang mau mendonorkan. Ada ibu yang bersedia membantu karena putrinya yang memiliki nasib sama seperti Lala, tapi sudah lebih dahulu meninggal," kata dia.
Pada hari operasi, Murni hanya mengeluarkan dana Rp300 ribu, itu pun untuk keperluan membeli obat karena tidak tersedia melalui Jamkesmas.
Meskipun menjalani operasi secara gratis sejak awal, tapi Murni tetap mengalami kesulitan dana karena tidak memiliki penghasilan tetap setelah suaminya menganggur sejak tiga bulan lalu.
"Uang yang ada hanya pemberian sejumlah orang yang peduli dengan Fadillah. Dokter juga menyumbang untuk Dillah," kata dia.
Sementara, dirinya tidak dapat berbuat banyak karena hidup sebatang kara di Kota Palembang.
"Saya sama sekali tidak punya keluarga di Palembang, karena setelah memutuskan menjadi mualaf, saya sama sekali tidak berkomunikasi dengan keluarga di Pulau Bangka," kata dia.
Perjalanan berat Murni dalam merawat Dillah sejak usia balita, seakan terbayarkan dengan berhasilnya operasi ke-7 itu pun dalam waktu dekat akan memiliki anus dan hidup secara mandiri.
"Bisa saja, saya berkeras Lala tidak usah memiliki anus dan memakai anus buatan. Tapi, saya tidak mau dia nantinya tergantung dan memberatkan orang. Saya ingin dia mandiri," kata dia.
Murni pun mengangap sakit yang diderita putrinya itu suatu cobaan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
"Mungkin Allah mau menguji keimanan saya, jika saya lemah bisa saja meminta bantuan dengan keluarga dan kembali ke keyakinan lama," ujar Murni yang sempat ditawari membawa putrinya berobat ke Singapura oleh kedua orangtuanya.
Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) patut menjadi contoh bagi daerah lain karena menerapkan Jamkesmas untuk pertama kali di Indonesia, sehingga membantu pemerintah pusat meningkatkan pelayanan kesehatan gratis kepada rakyat.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, sebanyak 16,4 juta jiwa rakyat Indonesia yang berada dalam naungan Jamkesmas, dan 2,7 juta jiwa di antaranya berada di Sumsel.
Program Jamkesmas daerah ini harus berjalan secara efektif, transparan dan akuntabel, sehingga memenuhi target memberikan pelayanan berobat gratis kepada masyarakat. (ANT-039)
Pewarta: Oleh Dolly Rosana
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
