Vaksin anak sebabkan stroke adalah hoaks
Senin, 8 November 2021 23:54 WIB
Salah satu pelajar menerima suntikan vaksin dari tenaga kesehatan di sentra vaksin Kejati DKI di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Rabu (3/11/2021). ANTARA/Sihol Hasugian
Jakarta (ANTARA) - Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 dr Reisa Broto Asmoro menegaskan kabar yang menyebutkan vaksin bisa menyebabkan stroke adalah informasi yang keliru dan tidak benar atau hoaks.
"Kementerian Kominfo telah klarifikasi info itu dan memang merupakan berita yang keliru atau hoax. Tidak ada keterkaitan antara stroke dengan vaksin anak," kata Reisa dalam dalam bincang-bincang siaran sehat bertajuk "Tetap Waspada Saat COVID-19 Melandai" yang dipantau di Jakarta, Senin.
Sebelumnya beredar informasi berupa tangkapan layar dari akun sosial media di luar negeri yang menerangkan stroke pada anak merupakan efek samping dari vaksinasi. Reisa memastikan sekalipun tangkapan layar tersebut menerangkan informasi dengan menggunakan bahasa Inggris, informasi itu dipastikan tidak benar.
Reisa mengingatkan kepada masyarakat untuk kritis dalam menerima informasi mengenai COVID-19 yang tersebar di media sosial, terlebih lagi berasal dari sumber informasi tidak resmi yang tak dapat dipercaya.
"Kita harus antisipasi berita yang kita daptkan itu valid atau tidak, benar atau tidak," kata Reisa.
Dia mengarahkan masyarakat untuk mengecek laman kominfo.go.id target="_blank">
Reisa juga mengajak para orang tua untuk tidak ragu memvaksinasi COVID-19 anaknya sebagai upaya perlindungan dari virus corona. Dia menyebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah menerbitkan izin penggunaan darurat untuk vaksin Sinovac bagi anak usia 6 sampai 11 tahun, maupun anak usia 11 hingga 17 tahun.
Pada kesempatan berbeda, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan pemerintah berencana bekerja sama dengan sekolah untuk memvaksin anak berusia 6 sampai 11 tahun.
“Kemungkinan untuk anak usia 6-11 tahun, ini kan anak-anak sekolah, kita akan kerja sama dengan sekolah masing-masing. Kita tahu terdapat ‘bulan imunisasi anak’ di sekolah setiap tahun, jadi kita nanti akan gunakan mekanisme ini,” kata Nadia.
"Kementerian Kominfo telah klarifikasi info itu dan memang merupakan berita yang keliru atau hoax. Tidak ada keterkaitan antara stroke dengan vaksin anak," kata Reisa dalam dalam bincang-bincang siaran sehat bertajuk "Tetap Waspada Saat COVID-19 Melandai" yang dipantau di Jakarta, Senin.
Sebelumnya beredar informasi berupa tangkapan layar dari akun sosial media di luar negeri yang menerangkan stroke pada anak merupakan efek samping dari vaksinasi. Reisa memastikan sekalipun tangkapan layar tersebut menerangkan informasi dengan menggunakan bahasa Inggris, informasi itu dipastikan tidak benar.
Reisa mengingatkan kepada masyarakat untuk kritis dalam menerima informasi mengenai COVID-19 yang tersebar di media sosial, terlebih lagi berasal dari sumber informasi tidak resmi yang tak dapat dipercaya.
"Kita harus antisipasi berita yang kita daptkan itu valid atau tidak, benar atau tidak," kata Reisa.
Dia mengarahkan masyarakat untuk mengecek laman kominfo.go.id target="_blank">
Reisa juga mengajak para orang tua untuk tidak ragu memvaksinasi COVID-19 anaknya sebagai upaya perlindungan dari virus corona. Dia menyebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah menerbitkan izin penggunaan darurat untuk vaksin Sinovac bagi anak usia 6 sampai 11 tahun, maupun anak usia 11 hingga 17 tahun.
Pada kesempatan berbeda, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan pemerintah berencana bekerja sama dengan sekolah untuk memvaksin anak berusia 6 sampai 11 tahun.
“Kemungkinan untuk anak usia 6-11 tahun, ini kan anak-anak sekolah, kita akan kerja sama dengan sekolah masing-masing. Kita tahu terdapat ‘bulan imunisasi anak’ di sekolah setiap tahun, jadi kita nanti akan gunakan mekanisme ini,” kata Nadia.
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kejati Sumsel tangani buron korupsi Covid-19 yang ditangkap di Jabar
06 February 2025 7:20 WIB, 2025
Terpopuler - Pendidikan & Kesehatan
Lihat Juga
Kemendag: Indonesia ekspor obat pereda nyeri senilai Rp2,4 miliar ke Korsel
14 February 2026 10:21 WIB