Kemenkes: Varian Delta enam kali lebih cepat menular dari Alfa
Selasa, 29 Juni 2021 14:22 WIB
Tangkapan layar Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi (kanan) saat agenda webinar Ruang Tamu yang diselenggarakan Holopis secara virtual di Jakarta, Selasa (29/6/2021). ANTARA/Andi Firdaus
Jakarta (ANTARA) - Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengemukakan varian Delta enam kali lebih cepat menular bila dibandingkan dengan varian Alfa.
"Kenaikan kasus kita sangat signifikan dibanding Desember 2020 dan Januari 2021. Penyebabnya mobilitas tinggi di Ramadhan dan libur Idul Fitri serta protokol kesehatan yang kendor," katanya dalam agenda webinar Ruang Tamu yang diselenggarakan Holopis secara virtual di Jakarta, Selasa.
Menurut Siti Nadia, varian Delta lebih mempercepat laju penularan namun belum ditemukan bukti yang cukup kuat bahwa varian B1617.2 asal India itu memiliki kemampuan menyebabkan efikasi vaksin berkurang.
Baca juga: Menlu Retno melobi India agar longgarkan izin ekspor obat ke Indonesia
Untuk itu pemerintah terus mengupayakan percepatan vaksinasi untuk mengurangi laju penularan. "Sebab di beberapa daerah kita juga menemukan varian ini," katanya.
Ketaatan masyarakat pada protokol kesehatan yang semakin berkurang, kata Siti Nadia, berpotensi memfasilitasi varian baru menyebar di masyarakat.
"Delta ini kecepatan menularnya enam kali dari varian Alfa. Temuan kasus harian kita saat ini menyentuh angka di atas 15 ribu orang beberapa belakangan ini," katanya.
Baca juga: Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri positif COVID-19
Siti Nadia menambahkan sebuah jurnal di Australia melaporkan kecepatan penularan varian Delta jika dihitung berdasarkan waktu berkisar 10 sampai 15 detik.
"Sehingga orang yang berpapasan tanpa pakai masker sudah bisa membuat orang itu positif atau tertular," katanya.
Baca juga: Polda-PHRI Sumsel buka layanan GeNose di hotel dan kafe
Sementara varian yang lama membutuhkan waktu 10 sampai 20 menit untuk bisa membuat seseorang bisa terpapar. "Delta ini bisa 10 kali kali lipat kecepatan penularannya dari varian lama (Wuhan)," katanya.
"Kenaikan kasus kita sangat signifikan dibanding Desember 2020 dan Januari 2021. Penyebabnya mobilitas tinggi di Ramadhan dan libur Idul Fitri serta protokol kesehatan yang kendor," katanya dalam agenda webinar Ruang Tamu yang diselenggarakan Holopis secara virtual di Jakarta, Selasa.
Menurut Siti Nadia, varian Delta lebih mempercepat laju penularan namun belum ditemukan bukti yang cukup kuat bahwa varian B1617.2 asal India itu memiliki kemampuan menyebabkan efikasi vaksin berkurang.
Baca juga: Menlu Retno melobi India agar longgarkan izin ekspor obat ke Indonesia
Untuk itu pemerintah terus mengupayakan percepatan vaksinasi untuk mengurangi laju penularan. "Sebab di beberapa daerah kita juga menemukan varian ini," katanya.
Ketaatan masyarakat pada protokol kesehatan yang semakin berkurang, kata Siti Nadia, berpotensi memfasilitasi varian baru menyebar di masyarakat.
"Delta ini kecepatan menularnya enam kali dari varian Alfa. Temuan kasus harian kita saat ini menyentuh angka di atas 15 ribu orang beberapa belakangan ini," katanya.
Baca juga: Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri positif COVID-19
Siti Nadia menambahkan sebuah jurnal di Australia melaporkan kecepatan penularan varian Delta jika dihitung berdasarkan waktu berkisar 10 sampai 15 detik.
"Sehingga orang yang berpapasan tanpa pakai masker sudah bisa membuat orang itu positif atau tertular," katanya.
Baca juga: Polda-PHRI Sumsel buka layanan GeNose di hotel dan kafe
Sementara varian yang lama membutuhkan waktu 10 sampai 20 menit untuk bisa membuat seseorang bisa terpapar. "Delta ini bisa 10 kali kali lipat kecepatan penularannya dari varian lama (Wuhan)," katanya.
Pewarta : Andi Firdaus
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pakar: Secara epidemiologis Omicron lebih berbahaya dari varian Delta
20 February 2022 18:04 WIB, 2022
Menkes: Kenaikan kasus COVID-19 akibat Omicron bisa lebih tinggi dari Delta
08 February 2022 17:19 WIB, 2022
Menkes : Varian AY.4.2 berpotensi mengkhawatirkan, picu kasus sejumlah negara di Eropa
25 October 2021 18:44 WIB, 2021