Ilmuwan identifikasi ada 37 struktur gunung api aktif di Planet Venus
Selasa, 21 Juli 2020 15:39 WIB
Pesawat Cassini mengintai Planet Venus yang terang dan berawan dari punggung Saturnus. (NASA/JPL-Caltech/Space Science Institute ) (Ist)
Washington (ANTARA) - Sejumlah ilmuwan telah mengidentifikasi 37 struktur gunung api di Planet Venus yang belum lama ini dan kemungkinan sampai saat ini masih aktif.
Temuan itu menunjukkan ada aktivitas geologis yang dinamis di Venus dan menegaskan planet itu bukan ruang yang pasif.
Para peneliti memusatkan kajiannya pada struktur seperti cincin yang disebut coronae. Struktur coronae terbentuk dari batu panas yang naik dari perut planet. Adanya coronae menjadi bukti kuat adanya aktivitas magma dan tektonik pada permukaan Venus belum lama ini, kata para peneliti, Senin (20/7).
Banyak ilmuwan berpikir Venus tidak memiliki aktivitas geologis aktif selama 500 juta tahun terakhir. Pasalnya, mereka menduga Venus tidak banyak memiliki lempeng tektonik, komponen yang mengubah bentuk permukaan Bumi.
"Kajian kami menunjukkan beberapa aliran panas dalam perut planet dapat mencapai permukaan sampai hari ini. Dengan demikian, sangat jelas Venus secara geologis tidak mati atau dalam fase dorman (tidur, red) sebagaimana yang banyak diyakini sebelumnya," kata Anna Glcher, ketua penelitian yang telah menerbitkan kajiannya di jurnal Nature Geoscience.
Glcher merupakan Ahli Bumi dan Planet di Institute of Geophysics di Zurich, Swiss.
Tujuan penelitian Glcher salah satunya ingin mengetahui jenis fitur geologi yang hanya dapat terbentuk di corona -- palung curam yang mengelilingi struktur cincin api coronae.
Para peneliti pun menelusuri sejumlah citra satelit Planet Venus yang diambil oleh pesawat ulang-alik NASA, Magellan, pada 1990-an untuk menemukan coronae yang sesuai. Dari 133 coronae yang diteliti, 37 di antaranya menunjukkan tanda aktif dalam 2-3 juta tahun terakhir atau hanya sekejap mata dalam waktu geologi.
"Menurut saya, banyak struktur ini yang masih aktif sampai hari ini," kata peneliti yang ikut dalam studi tersebut, Laurent Montesi. Ia merupakan ahli geofisika University of Maryland, Amerika Serikat.
Coronae merupakan struktur berbentuk lapangan yang di dalamnya ada aliran lahar serta retakan-retakan besar membentang di area lingkaran besar. Sedikitnya, 37 coronae ditemukan di dalam lingkaran besar sisi selatan Planet Venus, termasuk di antaranya satu corona besar dengan diameter sepanjang 1.300 mil (2.100 kilometer) yang dinamakan Artemis.
Venus merupakan planet yang paling dekat dan berukuran lebih kecil dari Bumi. Permukaan Venus ditutupi oleh awan yang mengandung asam sulfur dan suhu di planet itu cukup untuk membuat timah mencair.
Sumber: Reuters
Temuan itu menunjukkan ada aktivitas geologis yang dinamis di Venus dan menegaskan planet itu bukan ruang yang pasif.
Para peneliti memusatkan kajiannya pada struktur seperti cincin yang disebut coronae. Struktur coronae terbentuk dari batu panas yang naik dari perut planet. Adanya coronae menjadi bukti kuat adanya aktivitas magma dan tektonik pada permukaan Venus belum lama ini, kata para peneliti, Senin (20/7).
Banyak ilmuwan berpikir Venus tidak memiliki aktivitas geologis aktif selama 500 juta tahun terakhir. Pasalnya, mereka menduga Venus tidak banyak memiliki lempeng tektonik, komponen yang mengubah bentuk permukaan Bumi.
"Kajian kami menunjukkan beberapa aliran panas dalam perut planet dapat mencapai permukaan sampai hari ini. Dengan demikian, sangat jelas Venus secara geologis tidak mati atau dalam fase dorman (tidur, red) sebagaimana yang banyak diyakini sebelumnya," kata Anna Glcher, ketua penelitian yang telah menerbitkan kajiannya di jurnal Nature Geoscience.
Glcher merupakan Ahli Bumi dan Planet di Institute of Geophysics di Zurich, Swiss.
Tujuan penelitian Glcher salah satunya ingin mengetahui jenis fitur geologi yang hanya dapat terbentuk di corona -- palung curam yang mengelilingi struktur cincin api coronae.
Para peneliti pun menelusuri sejumlah citra satelit Planet Venus yang diambil oleh pesawat ulang-alik NASA, Magellan, pada 1990-an untuk menemukan coronae yang sesuai. Dari 133 coronae yang diteliti, 37 di antaranya menunjukkan tanda aktif dalam 2-3 juta tahun terakhir atau hanya sekejap mata dalam waktu geologi.
"Menurut saya, banyak struktur ini yang masih aktif sampai hari ini," kata peneliti yang ikut dalam studi tersebut, Laurent Montesi. Ia merupakan ahli geofisika University of Maryland, Amerika Serikat.
Coronae merupakan struktur berbentuk lapangan yang di dalamnya ada aliran lahar serta retakan-retakan besar membentang di area lingkaran besar. Sedikitnya, 37 coronae ditemukan di dalam lingkaran besar sisi selatan Planet Venus, termasuk di antaranya satu corona besar dengan diameter sepanjang 1.300 mil (2.100 kilometer) yang dinamakan Artemis.
Venus merupakan planet yang paling dekat dan berukuran lebih kecil dari Bumi. Permukaan Venus ditutupi oleh awan yang mengandung asam sulfur dan suhu di planet itu cukup untuk membuat timah mencair.
Sumber: Reuters
Pewarta : Genta Tenri Mawangi
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Besok sore, masyarakat dapat mengamati peristiwa konjungsi planet Merkurius-Venus di langit Barat Bumi
21 May 2020 21:40 WIB, 2020
Bintang tenis AS Venus Williams ajak netizen berolahraga melalui daring
06 April 2020 20:38 WIB, 2020
Venus ungkap insiden "berdarah" hingga tersingkir dari ganda putra Wimbledon
12 July 2019 7:43 WIB, 2019
Barty dekati peringkat satu dunia setelah mengalahkan Venus di Birmingham
22 June 2019 9:27 WIB, 2019
Terpopuler - Warta Bumi
Lihat Juga
Pemprov Sumsel-Icraf luncurkan aplikasi SiAlam permudah akses perhutanan sosial
10 December 2025 18:10 WIB