Kinerja ekspor ikan Sumatera Selatan anjlok
Jumat, 6 Maret 2020 18:50 WIB
Udang Belalang dipacking sebelum dikirim melalui cargo domestik. (Antara)
Palembang (ANTARA) - Kinerja ekspor hasil kelautan dan perikanan Sumatera Selatan mulai anjlok karena dampak pelemahan ekonomi yang terjadi di sejumlah negara akibat merebaknya virus Corona.
Kepala Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (SKIPM) Palembang Sugeng Prayogo di Palembang, Jumat, mengatakan, salah satu produk yang ekspornya merosot drastis adalah udang belalang, yakni hingga 90 persen pada periode Januari-Februari 2020 (year on year).
Ia mengatakan udang belalang hasil tangkapan nelayan Sumsel selama ini dikirim ke Jakarta untuk selanjutnya diekspor ke berbagai negara seperti Tiongkok, Malaysia dan Singapura.
Namun, sejak merebaknya virus Corona, pemesanan udang belalang ke negeri Tirai Bambu tersebut mengalami penurunan drastis.
“Pemesanan udang belalang ini sudah mengalami penurunan saat virus Corona merebak,” ujar dia.
Ia memaparkan pemesanan udang belalang pada Januari 2019 mencapai 363.020 ekor. Sementara di Februari 2019, jumlahnya meningkat menjadi 365.380 ekor.
Kemudian, jumlah tersebut menurun signifikan pada Januari 2020 yang hanya 215.300 ekor. Volume ekspor semakin anjlok pada Februari 2020 menjadi 39.100 ekor. "Dari data yang kami miliki, transaksinya memang turun sangat drastis," kata dia.
Selain udang belalang, Erik menambahkan, produk yang turut terimbas serangan corona adalah kepiting.
Menurutnya, jumlah kepiting yang diekspor pada Januari-Februari 2019 mencapai 55.532 ekor. Sementara pada tahun ini, ekspor kepiting hanya sebanyak 15.785 ekor.
Begitupun dengan produk ikan hias, yang mana untuk ikan hias jenis louhan mengalami penurunan pengiriman menjadi 297 ekor pada Januari 2020. Jumlah tersebut turun cukup besar jika dibandingkan tahun lalu yang mencapai 1.123 ekor.
Erik menjelaskan, merebaknya virus corona membuat beberapa penerbangan ke luar negeri, khususnya ke China banyak yang ditutup. Sementara proses distribusi sebagian produk perikanan diangkut menggunakan pesawat.
"Secara otomatis, jika penerbangan ditutup maka pengiriman barang ke luar negeri juga ikut tertunda," kata dia.
Namun demikian, pihaknya optimistis pemesanan produk tersebut akan kembali stabil setelah serangan virus corona berhasil ditanggulangi. “Kami berharap penanganan virus corona bisa cepat teratasi sehingga kondisi kembali stabil,” kata dia.
Kepala Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (SKIPM) Palembang Sugeng Prayogo di Palembang, Jumat, mengatakan, salah satu produk yang ekspornya merosot drastis adalah udang belalang, yakni hingga 90 persen pada periode Januari-Februari 2020 (year on year).
Ia mengatakan udang belalang hasil tangkapan nelayan Sumsel selama ini dikirim ke Jakarta untuk selanjutnya diekspor ke berbagai negara seperti Tiongkok, Malaysia dan Singapura.
Namun, sejak merebaknya virus Corona, pemesanan udang belalang ke negeri Tirai Bambu tersebut mengalami penurunan drastis.
“Pemesanan udang belalang ini sudah mengalami penurunan saat virus Corona merebak,” ujar dia.
Ia memaparkan pemesanan udang belalang pada Januari 2019 mencapai 363.020 ekor. Sementara di Februari 2019, jumlahnya meningkat menjadi 365.380 ekor.
Kemudian, jumlah tersebut menurun signifikan pada Januari 2020 yang hanya 215.300 ekor. Volume ekspor semakin anjlok pada Februari 2020 menjadi 39.100 ekor. "Dari data yang kami miliki, transaksinya memang turun sangat drastis," kata dia.
Selain udang belalang, Erik menambahkan, produk yang turut terimbas serangan corona adalah kepiting.
Menurutnya, jumlah kepiting yang diekspor pada Januari-Februari 2019 mencapai 55.532 ekor. Sementara pada tahun ini, ekspor kepiting hanya sebanyak 15.785 ekor.
Begitupun dengan produk ikan hias, yang mana untuk ikan hias jenis louhan mengalami penurunan pengiriman menjadi 297 ekor pada Januari 2020. Jumlah tersebut turun cukup besar jika dibandingkan tahun lalu yang mencapai 1.123 ekor.
Erik menjelaskan, merebaknya virus corona membuat beberapa penerbangan ke luar negeri, khususnya ke China banyak yang ditutup. Sementara proses distribusi sebagian produk perikanan diangkut menggunakan pesawat.
"Secara otomatis, jika penerbangan ditutup maka pengiriman barang ke luar negeri juga ikut tertunda," kata dia.
Namun demikian, pihaknya optimistis pemesanan produk tersebut akan kembali stabil setelah serangan virus corona berhasil ditanggulangi. “Kami berharap penanganan virus corona bisa cepat teratasi sehingga kondisi kembali stabil,” kata dia.
Pewarta : Dolly Rosana
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
984 orang tenaga kesehatandi Kabupaten OKU sudah divaksin COVID-19 booster kedua
15 October 2022 20:11 WIB, 2022
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
PEP Prabumulih tingkatkan produksi migas Sumur PBM-025 melalui 'well service'
11 February 2026 14:36 WIB
Produksi migas meningkat, Pertamina EP Zona 4 jaga kinerja keuangan tetap solid
11 February 2026 10:26 WIB
KAI Palembang catat 29.253 tiket Lebaran 2026 terjual, 50 persen dari kapasitas
10 February 2026 19:44 WIB
Kejati Sumsel tetapkan tiga tersangka kasus korupsi distribusi semen Rp74,3 miliar
10 February 2026 1:04 WIB