KKP : Model klaster percepat optimalisasi budidaya perikanan
Minggu, 1 Maret 2020 18:10 WIB
Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto. ANTARA/HO-Dokumentasi KKP
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan model budidaya perikanan berbasis klaster dalam rangka mempercepat optimalisasi sektor budidaya perikanan yang saat ini baru sekitar 10 persen tergarap di Tanah Air.
"Model pendekatan pengembangan budidaya berbasis klaster akan didorong untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan nilai tambah yang lebih besar. Komoditas udang akan fokus kita dorong untuk meraup devisa ekspor," kata Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto dalam rilis di Jakarta, Minggu.
Ia mengemukakan, bahwa keseriusan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dalam menggarap budidaya perikanan Indonesia dimulainya dari internal KKP, seperti peningkatan produksi benih, indukan, penyediaan lahan, hingga inovasi pakan mandiri.
Selain itu, ujar dia, KKP juga aktif membangun komunikasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda), pelaku usaha, dan pembudidaya perikanan, serta begitu juga dengan komunikasi dengan lintas lembaga dan kementerian.
Upaya KKP mengembangkan sektor budidaya mendapat sambutan positif dari pemerintah daerah, di antaranya Pemerintah Kabupaten Simeulue, Aceh yang dikenal sebagai kawasan kepulauan.
"Insya Allah, budidaya salah satu sektor andalan kami di bidang perikanan. Kami sedang menata pantai-pantai di Semeulue dan menggerakkan seluruh potensi nelayan yang ada di sana," ujar Bupati Semeulue Erli Hasim usai bertemu Menteri Edhy di Jakarta.
Komoditas yang siap dikembangkan di sektor budidaya di Semeulue antara lain lobster, udang, dan kerapu. Sedangkan rumput laut masih dalam tahap analisis.
Selain Pemkab Semeulue, Pemkab Sambas, Kalimantan Barat juga menyatakan kesiapannya. Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia ini memiliki 6.457 haktare potensi tambak. Dari angka tersebut, 2.691 haktare di antaranya sudah dimanfaatkan.
"Produksi budidaya tambak di tempat kami cukup besar, untuk udang windu misalnya mencapai 125 ton per tahun," ujar Bupati Sambas Atbah Romin Suhaili.
Selain udang windu, masyarakat Sambas juga melakukan budidaya udang vaname dengan produksi 150 ton per tahun, bandeng 875 ton, lalu ikan nila, kakap dan ikan lainnya yang jumlahnya mencapai 150 ton per tahun.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyatakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan menggunakan teknologi Recirculation Aquaculture System (RAS) dalam rangka menyiapkan pengembangan industri benih ikan nasional.
Menteri Edhy menyatakan bahwa teknologi perbenihan RAS dapat meningkatkan padat tebar hingga 7 kali lipat dibandingkan dengan sistem konvensional.
Selain itu, masih menurut dia, teknologi ini juga dinilai mampu memangkas masa pemeliharaan, menaikkan tingkat kelulusan hidup dan tingkat keseragaman ukuran.
"Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki, RAS dapat menjadi solusi mengatasi permasalahan kebutuhan benih ikan di seluruh Indonesia," katanya.
"Model pendekatan pengembangan budidaya berbasis klaster akan didorong untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan nilai tambah yang lebih besar. Komoditas udang akan fokus kita dorong untuk meraup devisa ekspor," kata Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto dalam rilis di Jakarta, Minggu.
Ia mengemukakan, bahwa keseriusan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dalam menggarap budidaya perikanan Indonesia dimulainya dari internal KKP, seperti peningkatan produksi benih, indukan, penyediaan lahan, hingga inovasi pakan mandiri.
Selain itu, ujar dia, KKP juga aktif membangun komunikasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda), pelaku usaha, dan pembudidaya perikanan, serta begitu juga dengan komunikasi dengan lintas lembaga dan kementerian.
Upaya KKP mengembangkan sektor budidaya mendapat sambutan positif dari pemerintah daerah, di antaranya Pemerintah Kabupaten Simeulue, Aceh yang dikenal sebagai kawasan kepulauan.
"Insya Allah, budidaya salah satu sektor andalan kami di bidang perikanan. Kami sedang menata pantai-pantai di Semeulue dan menggerakkan seluruh potensi nelayan yang ada di sana," ujar Bupati Semeulue Erli Hasim usai bertemu Menteri Edhy di Jakarta.
Komoditas yang siap dikembangkan di sektor budidaya di Semeulue antara lain lobster, udang, dan kerapu. Sedangkan rumput laut masih dalam tahap analisis.
Selain Pemkab Semeulue, Pemkab Sambas, Kalimantan Barat juga menyatakan kesiapannya. Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia ini memiliki 6.457 haktare potensi tambak. Dari angka tersebut, 2.691 haktare di antaranya sudah dimanfaatkan.
"Produksi budidaya tambak di tempat kami cukup besar, untuk udang windu misalnya mencapai 125 ton per tahun," ujar Bupati Sambas Atbah Romin Suhaili.
Selain udang windu, masyarakat Sambas juga melakukan budidaya udang vaname dengan produksi 150 ton per tahun, bandeng 875 ton, lalu ikan nila, kakap dan ikan lainnya yang jumlahnya mencapai 150 ton per tahun.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyatakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan menggunakan teknologi Recirculation Aquaculture System (RAS) dalam rangka menyiapkan pengembangan industri benih ikan nasional.
Menteri Edhy menyatakan bahwa teknologi perbenihan RAS dapat meningkatkan padat tebar hingga 7 kali lipat dibandingkan dengan sistem konvensional.
Selain itu, masih menurut dia, teknologi ini juga dinilai mampu memangkas masa pemeliharaan, menaikkan tingkat kelulusan hidup dan tingkat keseragaman ukuran.
"Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki, RAS dapat menjadi solusi mengatasi permasalahan kebutuhan benih ikan di seluruh Indonesia," katanya.
Pewarta : M Razi Rahman
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Unsri dan KKP terapkan teknologi IoT untuk pembenihan ikan betok di Palembang
15 August 2026 21:00 WIB
Peluang ekspor tuna ke Jepang terbuka, KKP tegaskan penguatan daya saing dimulai dari hulu
03 August 2026 9:42 WIB
Presiden hubungi Menteri KKP yang sempat pingsan saat jadi inspektur upacara
25 January 2026 16:58 WIB
Kelompok budidaya ikan Tunas Makmur sukses domestikasi ikan belida putak, dukung implementasi regulasi baru KKP
18 September 2025 10:08 WIB, 2025
Nelayan Sulsel diizinkan berlayar tanpa Surat Perintah Berlayar, respon 328 kapal berhenti operasi
15 April 2025 9:03 WIB, 2025
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB, 2025
Pusri tampilkan produk UMKM binaan di Pameran Produk Unggulan Sumsel 2025
03 July 2025 10:28 WIB, 2025