
Pengamat: Digitalisasi jadi kunci transformasi pasar tradisional

Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi dari Universitas Jember Adhitya Wardhono PhD menilai, digitalisasi menjadi salah satu kunci transformasi pasar tradisional agar mampu bertahan dan bersaing di tengah pesatnya ekspansi ritel modern serta platform e-commerce.
Adhitya menilai digitalisasi bukan bertujuan mengubah karakter pasar tradisional, melainkan memperkuat daya saingnya di tengah perubahan perilaku masyarakat yang semakin mengutamakan kemudahan dan kecepatan bertransaksi.
“Dukungan utama dapat diberikan melalui pelatihan digital dan perbaikan pencatatan usaha, karena biasanya masih banyak yang manual. Pedagang juga perlu dibantu agar dapat menggunakan pembayaran non-tunai dan memasarkan produknya melalui kanal daring seperti QRIS,” kata Adhitya kepada ANTARA, Jumat.
Ia mengatakan pasar tradisional memiliki peran besar dalam menopang pedagang kecil dan menyerap produk lokal. Dalam hal ini pemerintah perlu mendorong digitalisasi pasar melalui pelatihan promosi produk secara daring, serta peningkatan kapasitas pedagang dalam memanfaatkan teknologi.
Upaya tersebut dinilai dapat menjaga eksistensi pasar sesuai perkembangan zaman dan memperluas jangkauan konsumen sekaligus meningkatkan efisiensi usaha.
Selain transformasi digital, pemerintah juga perlu menjaga biaya usaha pedagang tetap kompetitif melalui efisiensi biaya sewa, retribusi, dan distribusi. Dengan demikian, pasar tradisional dapat mempertahankan keunggulannya dalam menawarkan harga yang terjangkau sekaligus memberikan pelayanan yang semakin sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Di sisi lain, Adhitya mengatakan revitalisasi pasar tradisional akan dapat memberikan dampak ekonomi yang besar, karena meningkatkan aktivitas transaksi sekaligus memperkuat perputaran uang di daerah. Pasar yang lebih tertata menurutnya akan menarik lebih banyak konsumen dan meningkatkan omzet pedagang.
Ia juga menyoroti revitalisasi pasar tidak hanya sekadar perbaikan fisik, namun juga daya beli masyarakat perlu diperkuat melalui peningkatan pendapatan dan pengendalian harga pangan.
“Makanya, revitalisasi pasar jangan hanya sekadar membuat pasar terlihat lebih baik, lebih lanjut, pemerintah perlu memastikan dengan ini transaksi meningkat dan manfaat ekonominya dirasakan oleh pedagang maupun masyarakat,” katanya.
Adhitya menekankan hal yang perlu diperbaiki ke depan dari revitalisasi pasar adalah tata kelola setelah pembangunan selesai serta pendampingan kepada pedagang. Rekomendasi utamanya menjadikan pasar tradisional sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah, bukan hanya sekadar objek renovasi.
Evaluasi juga diharapkan tidak hanya menghitung jumlah pasar yang direnovasi, tetapi harus melihat perubahan jumlah pengunjung dan omzet pedagang, agar pasar tetap menjadi ruang usaha masyarakat dan penggerak ekonomi lokal.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pengamat nilai digitalisasi kunci transformasi pasar tradisional
Pewarta: Fitra Ashari
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
