Kementerian Pertanian siapkan bibit padi unggul hadapi kekeringan
Penyuluh pertanian memperlihatkan padi unggulan hasil panen dari bibit inpari 30 di sawah Indrapuri, Aceh Besar, Aceh, Sabtu (30/3/2019). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian menyebutkan bibit padi varietas inpari 30 tahan terhadap genangan atau kekurangan air dan unggul dalam hal produktivitas yang dirata-rata 10 ton gabah per hektare. (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/wsj).
Kepala Balitbang Pertanian Fadjry Djufry mengatakan salah satu varietas unggul yang sudah disiapkan adalah Inpara (Inbrida Padi Rawa) yang dapat ditanam di lahan rawa lebak, jenis lahan yang produktif saat kemarau.
"Kami sudah siapkan Inpara untuk lahan-lahan rawa. Ini sudah berkembang di beberapa lokasi seperti Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan dan beberapa lokasi yang terendam," kata Fadjry di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, meskipun sejumlah daerah mengalami kekeringan, wilayah yang memiliki lahan rawa dapat mengoptimalkan produksi dengan didukung pemberian bibit unggul.
Selain Inpari, varietas unggul lainnya yang tahan terhadap kekeringan, yakni Inpago (inpari padi gogo), Dering (kedelai tahan kering) dan jagung hibrida.
Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Sumardjo Gatot Irianto menyarankan petani di lahan kering yang curah hujannya masih cukup, sebaiknya menggunakan varietas padi gogo jika bertanam kembali. Sebelum bertanam dan sesudah dipanen, petani harus mengecek kadar air, apakah masih atau sudah kering.
Pengecekan dapat dilakukan dengan mencabut sisa jerami. Jika mudah dicabut, lahan tersebut masih basah dan layak ditanami padi gogo.
Untuk pertanaman padi di lahan rawa, Gatot mengatakan pemerintah telah membuat proyek percontohan padi rawa, bahkan kini sudah ada yang panen. Hasilnya sudah terlihat. Jika sebelumnya petani menggunakan benih lokal (pertanaman 6 bulan), kini dengan benih Inpara-3 pertanaman padi hanya 3-4 bulan.
"Produktivitasnya juga meningkat. Jika sebelumnya hanya 2,5 ton per ha, kini menjadi 4,58 ton per ha. IP juga naik dari sebelumnya 100 menjadi 200 yang tanam pada Maret, Juli dan Agustus," kata Gatot.
Menurut dia, musim kemarau yang terjadi pada puncaknya Juli-Agustus ini menjadi kesempatan untuk mengoptimalisasi lahan rawa yang dapat produktif di tengah kekeringan.
Daerah lahan rawa lebak seperti di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Lampung, Riau, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat dapat dioptimalkan untuk meningkatkan luas tambah tanam (LTT).
Berdasarkan data Ditjen Tanaman Pangan, wilayah potensi lahan kering yang masih terdapat air sekitar 2,3 juta hektare (ha) berada di 152 kabupaten di 14 provinsi. Provinsi tersebut yaitu, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Sementara itu, potensi lahan rawa seluas 675.000 ha berada di 31 kabupaten di 6 Provinsi, yakni, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Selatan.
Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Banyuasin optimalkan Lahan Cetak Sawah Rakyat guna perkuat ketahanan pangan
27 March 2026 14:24 WIB
Pemkot Palembang optimalisasi 3.000 hektare sawah tingkatkan ketahanan pangan
31 January 2026 9:23 WIB
Petani di Aceh digaji negara selama pemulihan lahan sawah terdampak bencana
17 January 2026 9:19 WIB
OKI salurkan 142.700 kilogram benih padi dari Kementan untuk sawah terdampak banjir
15 January 2026 8:16 WIB
Kabupaten Banyuasin jadi penghasil beras nomor satu nasional, produksi satu juta ton
10 January 2026 14:53 WIB
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB