Penenun kain semakin bergairah sambut Asian Games 2018
Jumat, 8 Juni 2018 19:05 WIB
Dok. (Antarasumsel.com/Nova Wahyudi/dol/17)
Palembang (ANTARA News Sumsel) - Sejumlah penenun kain khas Sumatera Selatan yakni tajung, blongsong dan blongket semakin semangat menyambut Asian Games XVIII dengan menyetok barang untuk memanfaatkan momen Asian Games XVIII tahun 2018.
Ketua Komunitas Wirausaha Muda Kampung (Kowum) Kain Tuan Kentang Syarifuddin di Palembang. Jumat, mengatakan, menyetok barang ini sudah dilakukan sejak awal tahun ini dengan harapan saat Asian Games memiliki barang cukup banyak untuk dijual.
"Nanti saat Asian Games ada sekitar 15.000-an pendatang, tentunya kami tidak ingin momen ini lewat begitu saja," kata dia.
Meski memahami manfaat dari menyetok barang ini, menurut Syarifuddin, tidak semua penenun dapat melakukannya karena terkendala modal.
"Bisnis kain ini tidak mudah, modalnya hingga empat lapis yakni untuk benang, tenaga kerja, stok, dan kebutuhan sehari-hari. Jika dialokasikan untuk menyetok dari sekarang maka akan menggangu aliran modal lain," kata Syarifuddin.
Ia yang dijumpai di pelatihan UMKM Badan Ekonomi Kreatif mengatakan perwakilan dari pemerintah sudah beberapa kali menyampaikan peluang usaha saat Asian Games.
Namun, pengrajin merasa kesulitan jika harus meminjam ke bank karena khawatir akan menggangu aliran uang dalam bisnis secara keseluruhan mengingat harus menyisihkan lagi untuk membayar pinjaman.
"Ini yang sedang dicarikan solusinya diantara kawan-kawan anggota komunitas, apakah membentuk koperasi kedepannya atau bagaimana. Saat ini, para anggota komunitas terdiri dari 14 penenun tajung, blongsong, blongket, dan jumputan masih dalam periode pengutan internal," kata dia.
Abdurahman, anggota Kowun lainnya, mengatakan sementara ini sudah ada kesepakatan diantara pengrajin untuk mulai menyetok kain setidaknya satu lembar dalam satu pekan terkait dengan momen Asian Games.
"Sudah ada komitmen untuk mulai menyetok, tapi alangkah lebih baiknya jika ada pemodal besar yang tertarik melirik bisnis ini," kata dia.
Saat ini wirausaha yang khusus membuat kain tenun tajung, blongsong, blongket (blongsong motif songket), blongket tabur emas (ada variasi benang emas) di kluster Tuan Kentang berjumlah delapan orang.
Dari jumlah tersebut diperkirakan produk kain tenun yang dihasilkan setiap pekan berjumlah 450 lembar dan sejauh ini selalu terserap oleh pasar.
Satu lembar kain biasanya dikerjakan selama dua hari oleh seorang tenaga kerja.
Ketua Komunitas Wirausaha Muda Kampung (Kowum) Kain Tuan Kentang Syarifuddin di Palembang. Jumat, mengatakan, menyetok barang ini sudah dilakukan sejak awal tahun ini dengan harapan saat Asian Games memiliki barang cukup banyak untuk dijual.
"Nanti saat Asian Games ada sekitar 15.000-an pendatang, tentunya kami tidak ingin momen ini lewat begitu saja," kata dia.
Meski memahami manfaat dari menyetok barang ini, menurut Syarifuddin, tidak semua penenun dapat melakukannya karena terkendala modal.
"Bisnis kain ini tidak mudah, modalnya hingga empat lapis yakni untuk benang, tenaga kerja, stok, dan kebutuhan sehari-hari. Jika dialokasikan untuk menyetok dari sekarang maka akan menggangu aliran modal lain," kata Syarifuddin.
Ia yang dijumpai di pelatihan UMKM Badan Ekonomi Kreatif mengatakan perwakilan dari pemerintah sudah beberapa kali menyampaikan peluang usaha saat Asian Games.
Namun, pengrajin merasa kesulitan jika harus meminjam ke bank karena khawatir akan menggangu aliran uang dalam bisnis secara keseluruhan mengingat harus menyisihkan lagi untuk membayar pinjaman.
"Ini yang sedang dicarikan solusinya diantara kawan-kawan anggota komunitas, apakah membentuk koperasi kedepannya atau bagaimana. Saat ini, para anggota komunitas terdiri dari 14 penenun tajung, blongsong, blongket, dan jumputan masih dalam periode pengutan internal," kata dia.
Abdurahman, anggota Kowun lainnya, mengatakan sementara ini sudah ada kesepakatan diantara pengrajin untuk mulai menyetok kain setidaknya satu lembar dalam satu pekan terkait dengan momen Asian Games.
"Sudah ada komitmen untuk mulai menyetok, tapi alangkah lebih baiknya jika ada pemodal besar yang tertarik melirik bisnis ini," kata dia.
Saat ini wirausaha yang khusus membuat kain tenun tajung, blongsong, blongket (blongsong motif songket), blongket tabur emas (ada variasi benang emas) di kluster Tuan Kentang berjumlah delapan orang.
Dari jumlah tersebut diperkirakan produk kain tenun yang dihasilkan setiap pekan berjumlah 450 lembar dan sejauh ini selalu terserap oleh pasar.
Satu lembar kain biasanya dikerjakan selama dua hari oleh seorang tenaga kerja.
Pewarta : Dolly Rosana
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkot Palembang beri pelatihan tenun songket bagi anak putus sekolah
12 November 2024 16:35 WIB, 2024
Terpopuler - Info Sumsel
Lihat Juga
Angin puting beliung rusak empat sekolah di OKU Selatan, tak ada korban jiwa
05 April 2026 21:12 WIB
Pemkab Muara Enim bangun jembatan gantung senilai Rp2,9 miliar di Desa Danau Rata
05 April 2026 21:06 WIB
Pohon tumbang tutup jalan di tiga kecamatan OKU Timur, lalu lintas dempat lumpuh
04 April 2026 19:49 WIB
Jalan penghubung antardesa Sosoh Buay Rayap di OKU nyaris putus akibat longsor
02 April 2026 21:56 WIB
Berdayakan ekonomi inklusif, Kemensos beri modal usaha bagi disabilitas di OKU
01 April 2026 20:45 WIB