Indonesia dalami kerja sama "e-commerce" dengan tiongkok
Kamis, 24 Maret 2016 17:53 WIB
Ilustrasi - E-commerce. (Antarasumsel.com/Grafis/Aw)
Beijing, (ANTARA Sumsel) - Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengatakan pihaknya terus mendalami kerja sama di bidang "e-commerce" dengan Tiongkok, guna makin memaksimalkan ekspor produk unggulan Indonesia ke Negeri Panda.
"Kita terus dalami kerja sama bidang 'e-commerce' dengan Tiongkok, khususnya pemain-pemain raksasa 'e-commerce' negara itu seperti 'Alibaba' dan 'Tencent'," katanya, menjawab Antara di Beijing, Kamis.
Berbicara melalui layanan pesan singkat, di sela-sela Forum Boao, di Hainan, Tiongkok, Mendag Lembong mengatakan Tiongkok adalah mitra dagang nomor satu bagi sekitar 120 negara, termasuk Indonesia.
Perdagangan dengan Tiongkok, khususnya ekspor dari Indonesia ke negara berpenduduk terbanyak di dunia itu, akan optimal melalui platform "e-commerce" dari Tiongkok seperti "Alibaba", "Tencent" dan "WeChat", tuturnya menekankan.
Saat ini produk makanan dan minuman Indonesia telah dipasarkan secara global melalui "platform Alibaba.com", baik secara "Business to Business" (B2B) ataupun "Business to Consumer" (B2C).
"Melalui platform Alibaba.com, kita mencoba untuk memasarkan produk kita tidak saja di pasar Tiongkok, yang sangat besar, tetapi juga pasar global," tutur Duta Besar RI untuk Tiongkok merangkap Mongolia, Soegeng Rahardjo.
Ia mengatakan beberapa produk yang telah dipasarkan ke Tiongkok melalui Alibaba.com pada tahap awal, adalah sarang burung walet, kopi luwak, kudapan, seperti biskuit, keripik singkong KUSUKA, dan kerupuk udang Sidoarjo.
Dubes Soegeng menegaskan kerja sama dengan Alibaba Grup merupakan salah satu upaya untuk melakukan penetrasi pasar Tiongkok, khususnya, dan global umumnya.
Sementara itu Atase Perdagangan KBRI Beijing Dandy S Iswara mengatakan puluhan produk makanan minuman dan barang konsumsi lainnya dari Indonesia, siap memasuki pasar Tiongkok melalui Tmall.com, anak perusahaan penyedia jasa daring atau "online" terbesar di Tiongkok, Grup Alibaba.
Keseluruhan produk tersebut, akan diseleksi lebih dulu oleh pihak Tmall.com yang bekerja sama dengan "Indonesia Chamber of Commerce in China" (Inacham), sebelum tampil di platform mereka.
Tim manajemen Tmall memastikan, produk yang akan dipasarkan benar-benar makanan dan minuman khas Indonesia. Barang konsumsi pun juga harus khas Indonesia.
"Originalitas, keunikan, itu yang utama. Proses seleksi berkisar empat hingga lima bulan," ungkap Dandy.
Dandy menambahkan Tmall Global merupakan platform Business to Consumer (B2C) dari Grup Alibaba untuk produk yang belum memasuki pasar Tiongkok.
"Platform ini memberikan akses pengusaha Indonesia untuk dapat langsung menjual produknya langsung kepada konsumen di Tiongkok, tanpa melalui pihak importir atau distributor," ujarnya, menambahkan.
Selain itu, lanjut Dandy, produk yang masuk Tiongkok melalui fasilitas itu tidak dibebani pengecekan costums clearance yang panjang, tidak perlu membayar bea masuk, dan tidak dikenakan VAT (batasan untuk nilai transaksi tertentu).
Pasar Tiongkok telah menjadi pasar e-commerce terbesar dunia dengan total transaksi sebesar 287 triliun dolar AS, melebihi Amerika Serikat yang mencapai 263 triliun dolar AS pada 2013.
Bahkan, lanjut Dandy pada 2015 data penjualan ritel daring tercatat meningkat 33,3 persen dibandingkan 2014. Sedangkan untuk konsumen "cross border e-commerce" tercatat 40 miliar dolar AS pada 2015 dan diperkirakan meningkat hingga 50 persen pada 2016.
"Kita terus dalami kerja sama bidang 'e-commerce' dengan Tiongkok, khususnya pemain-pemain raksasa 'e-commerce' negara itu seperti 'Alibaba' dan 'Tencent'," katanya, menjawab Antara di Beijing, Kamis.
Berbicara melalui layanan pesan singkat, di sela-sela Forum Boao, di Hainan, Tiongkok, Mendag Lembong mengatakan Tiongkok adalah mitra dagang nomor satu bagi sekitar 120 negara, termasuk Indonesia.
Perdagangan dengan Tiongkok, khususnya ekspor dari Indonesia ke negara berpenduduk terbanyak di dunia itu, akan optimal melalui platform "e-commerce" dari Tiongkok seperti "Alibaba", "Tencent" dan "WeChat", tuturnya menekankan.
Saat ini produk makanan dan minuman Indonesia telah dipasarkan secara global melalui "platform Alibaba.com", baik secara "Business to Business" (B2B) ataupun "Business to Consumer" (B2C).
"Melalui platform Alibaba.com, kita mencoba untuk memasarkan produk kita tidak saja di pasar Tiongkok, yang sangat besar, tetapi juga pasar global," tutur Duta Besar RI untuk Tiongkok merangkap Mongolia, Soegeng Rahardjo.
Ia mengatakan beberapa produk yang telah dipasarkan ke Tiongkok melalui Alibaba.com pada tahap awal, adalah sarang burung walet, kopi luwak, kudapan, seperti biskuit, keripik singkong KUSUKA, dan kerupuk udang Sidoarjo.
Dubes Soegeng menegaskan kerja sama dengan Alibaba Grup merupakan salah satu upaya untuk melakukan penetrasi pasar Tiongkok, khususnya, dan global umumnya.
Sementara itu Atase Perdagangan KBRI Beijing Dandy S Iswara mengatakan puluhan produk makanan minuman dan barang konsumsi lainnya dari Indonesia, siap memasuki pasar Tiongkok melalui Tmall.com, anak perusahaan penyedia jasa daring atau "online" terbesar di Tiongkok, Grup Alibaba.
Keseluruhan produk tersebut, akan diseleksi lebih dulu oleh pihak Tmall.com yang bekerja sama dengan "Indonesia Chamber of Commerce in China" (Inacham), sebelum tampil di platform mereka.
Tim manajemen Tmall memastikan, produk yang akan dipasarkan benar-benar makanan dan minuman khas Indonesia. Barang konsumsi pun juga harus khas Indonesia.
"Originalitas, keunikan, itu yang utama. Proses seleksi berkisar empat hingga lima bulan," ungkap Dandy.
Dandy menambahkan Tmall Global merupakan platform Business to Consumer (B2C) dari Grup Alibaba untuk produk yang belum memasuki pasar Tiongkok.
"Platform ini memberikan akses pengusaha Indonesia untuk dapat langsung menjual produknya langsung kepada konsumen di Tiongkok, tanpa melalui pihak importir atau distributor," ujarnya, menambahkan.
Selain itu, lanjut Dandy, produk yang masuk Tiongkok melalui fasilitas itu tidak dibebani pengecekan costums clearance yang panjang, tidak perlu membayar bea masuk, dan tidak dikenakan VAT (batasan untuk nilai transaksi tertentu).
Pasar Tiongkok telah menjadi pasar e-commerce terbesar dunia dengan total transaksi sebesar 287 triliun dolar AS, melebihi Amerika Serikat yang mencapai 263 triliun dolar AS pada 2013.
Bahkan, lanjut Dandy pada 2015 data penjualan ritel daring tercatat meningkat 33,3 persen dibandingkan 2014. Sedangkan untuk konsumen "cross border e-commerce" tercatat 40 miliar dolar AS pada 2015 dan diperkirakan meningkat hingga 50 persen pada 2016.
Pewarta : Rini Utami
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menteri Perdagangan ungkap keramik impor ilegal senilai Rp9,8 miliar
03 December 2024 16:24 WIB, 2024
Kejagung nilai Menteri Perdagangan lain tak terkait kasusTom Lembong
19 November 2024 15:01 WIB, 2024
Pemerintah Indonesia larang "social commerce" fasilitasi transaksi dagang
25 September 2023 15:57 WIB, 2023
Terpopuler - Makro & Mikro
Lihat Juga
Desa Bukit Makmur raih penghargaan 15 desa terbaik nasional Program BRILiaN 2025
11 November 2025 15:18 WIB
Pusri resmikan Rumah Kompos di Desa Tebat Benawa, dukung pengembangan kopi lokal
18 July 2025 16:03 WIB, 2025
Pusri tampilkan produk UMKM binaan di Pameran Produk Unggulan Sumsel 2025
03 July 2025 10:28 WIB, 2025