Istilah preman di Indonesia muncul sejak masa VOC
Sabtu, 27 April 2013 19:03 WIB
Jakarta (ANTARA Sumsel) - Kata preman di Indonesia pasca peristiwa penembakan terhadap empat tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cebongan, muncul kembali yang diikuti aksi polisi menangkapi para preman jalanan.
Masyarakat sendiri terpecah karena ada yang mendukung penuh, tapi ada yang memandang aksi polisi itu hanya untuk pencitraan saja, karena yang ditangkap polisi hanya preman jalanan bukannya preman yang terorganisasikan.
Tapi terlepas dari itu, istilah preman tersebut menurut sejarawan Universitas Indonesia (UI) JJ Rijal kepada Antara, sebenarnya sudah sejak zaman baheula hadir di Indonesia atau sejak abad ke-17 masa pemerintahan VOC di Batavia.
Karena itu, ia menyebutkan kata Preman itu sendiri asal katanya dari bahasa Belanda, vreiman, artinya "orang bebas", namun keberadaannya bukan sebagai alat untuk melakukan tindak kekerasaan.
"Kata preman itu sendiri muncul di abad ke-17 masa pemerintahan VOC di Batavia," katanya.
Dijelaskan, dapat diartikan kata preman itu adalah orang yang tidak mengabdi pada struktur birokrasi VOC sebagai perusahaan multinasional kala itu.
"Mereka ini adalah pedagang bebas. Mereka inilah yang disebut sebagai vreiman atau orang bebas. Sejarah mencatat, vreiman ini adalah pemain ekonomi yang penting di Batavia. Pertanyaannya adalah kemudian, kapan istilah preman ini identik dengan produsen atau pelaku kekerasan, seperti saat ini?," katanya.
Pemodal
Ia menyebutkan kata preman ini sendiri muncul dan mulai identik dengan seseorang yang memberi perlindungan dengan kekuatan, itu mulai di awal abad ke-20, di mana banyak kaum modal menanamkan uangnya di dalam perkebunan-perkebunan pribumi, dalam bentuk daerah-daerah perkebunan yang luas misalnya, di Sumatera Timur atau Tanah Deli, sekitar kota Medan saat ini.
Di kawasan perkebunan Sumatera Utara itulah muncul pertama kali istilah preman dalam artian, banyak tenaga kerja pribumi mendapat perlakukan yang buruk dari tuan-tuan perkebunan.
"Mereka inilah yang kemudian dengan kharismanya dan kekuatan serta kemampuan menjual jasa sebagai mandor yang berposisi sebagai juru tawar kepada tuan-tuan perkebunan," katanya.
Istilah preman ini menambah khasanah istilah lama yang sudah mentradisi lebih tua, yaitu jago, parewa, atau jawara.
"Meskipun, kemudian secara historis akhirnya istilah preman lebih bisa bertahan, dibandingkan jago jawara dan lain-lain itu," katanya.
Kata jawara sendiri, kata dia, masih bertahan sampai sekarang masih bertahan namun hanya dikenal untuk di Banten dan Sunda saja. "Sedangkan preman hidup di seluruh Indonesia," katanya.
Dalam tulisannya juga, JJ Rijal menyatakan dalam sejarah Indonesia kekuasaan itu awalnya kontestasi kekuatan, misalnya naiknya Ken Arok di Tumapel, atau Amangkurat I di Mataram. Jadi dalam sejarah kekuasaan itu jago identik dengan kekuasaan karena seseorang memerintah karena wahyu kesaktian.
Ketika tiba masa kolonial banyak diceritakan bagaimana mereka itu tidak mampu menjaga seluruh wilayah teritorial kekuasaannya dan akhirnya mencomot jago-jago itu untuk perpanjangan tangan di daerah-daerah yang tidak mampu mereka jangkau.
"Bahkan polisi memanfaatkan jago, jawara, kecu, bromocorah, atau parewa untuk membantu kerja mereka," katanya.
Masa revolusi
Ia juga menyebutkan bahwa pada masa revolusi, hadir pula Bang Pi'i atau Imam Syafei, dirinya merupakan seorang jagoan di Jakarta karena memiliki daya kharisma yang besar dianggap bisa mengamankan Jakarta Raya.
Berkat kharismatik Bang Pi'i itu, kata dia, Presiden Soekarno juga mengangkatnya sebagai menteri keamanan Jakarta Raya.
"Ini menarik, seorang jagoan masih dalam struktur birokrasi," katanya seraya menyebutkan peristiwa Gerakan 30 September 1965 menggulung keberadaan Bang Pi'i.
Kemudian di akhir tahun 1970-an, muncul organisasi preman sadar, preman sadar ini merupakan kumpulan para pelaku kejahatan yang baru ke luar dari penjara dan mereka sadar untuk tidak melakukan tindak kejahatan kembali.
"Mereka berusaha mengorganisasikan untuk menjual jasa," katanya.
Penanganan "tahi ayam"
Sementara itu, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengkritisi kinerja kepolisian dalam operasi penangkapan preman saat ini dan dianggap hanya hangat-hangat "tahi ayam" saja.
"Sebenarnya operasi preman itu sudah sejak lama dilakukan polisi, namun sifatnya hangat-hangat tahi ayam," katanya.
Bahkan ia mengatakan operasi penangkapan preman itu paling lama hanya dilakukan selama tiga minggu saja.
"Setelah itu berhenti dan para preman beraksi kembali," katanya.
Karena itu, ia menilai operasi preman yang dilakukan saat ini oleh pihak kepolisian, tidak akan ampuh untuk menekan angka kriminalitas.
"Paling hanya menekannya untuk sementara saja," katanya.
Pasalnya para preman sudah menguasai kawasan-kawasan strategis di berbagai kota besar dan keberadaannya di"backingi" oleh polisi sendiri.
"Keberadaan preman tersebut umumnya dibackingi oleh oknum-oknum polisi yang mencari keuntungan pribadi di balik aksi premanisme tersebut," katanya.
Masyarakat sendiri terpecah karena ada yang mendukung penuh, tapi ada yang memandang aksi polisi itu hanya untuk pencitraan saja, karena yang ditangkap polisi hanya preman jalanan bukannya preman yang terorganisasikan.
Tapi terlepas dari itu, istilah preman tersebut menurut sejarawan Universitas Indonesia (UI) JJ Rijal kepada Antara, sebenarnya sudah sejak zaman baheula hadir di Indonesia atau sejak abad ke-17 masa pemerintahan VOC di Batavia.
Karena itu, ia menyebutkan kata Preman itu sendiri asal katanya dari bahasa Belanda, vreiman, artinya "orang bebas", namun keberadaannya bukan sebagai alat untuk melakukan tindak kekerasaan.
"Kata preman itu sendiri muncul di abad ke-17 masa pemerintahan VOC di Batavia," katanya.
Dijelaskan, dapat diartikan kata preman itu adalah orang yang tidak mengabdi pada struktur birokrasi VOC sebagai perusahaan multinasional kala itu.
"Mereka ini adalah pedagang bebas. Mereka inilah yang disebut sebagai vreiman atau orang bebas. Sejarah mencatat, vreiman ini adalah pemain ekonomi yang penting di Batavia. Pertanyaannya adalah kemudian, kapan istilah preman ini identik dengan produsen atau pelaku kekerasan, seperti saat ini?," katanya.
Pemodal
Ia menyebutkan kata preman ini sendiri muncul dan mulai identik dengan seseorang yang memberi perlindungan dengan kekuatan, itu mulai di awal abad ke-20, di mana banyak kaum modal menanamkan uangnya di dalam perkebunan-perkebunan pribumi, dalam bentuk daerah-daerah perkebunan yang luas misalnya, di Sumatera Timur atau Tanah Deli, sekitar kota Medan saat ini.
Di kawasan perkebunan Sumatera Utara itulah muncul pertama kali istilah preman dalam artian, banyak tenaga kerja pribumi mendapat perlakukan yang buruk dari tuan-tuan perkebunan.
"Mereka inilah yang kemudian dengan kharismanya dan kekuatan serta kemampuan menjual jasa sebagai mandor yang berposisi sebagai juru tawar kepada tuan-tuan perkebunan," katanya.
Istilah preman ini menambah khasanah istilah lama yang sudah mentradisi lebih tua, yaitu jago, parewa, atau jawara.
"Meskipun, kemudian secara historis akhirnya istilah preman lebih bisa bertahan, dibandingkan jago jawara dan lain-lain itu," katanya.
Kata jawara sendiri, kata dia, masih bertahan sampai sekarang masih bertahan namun hanya dikenal untuk di Banten dan Sunda saja. "Sedangkan preman hidup di seluruh Indonesia," katanya.
Dalam tulisannya juga, JJ Rijal menyatakan dalam sejarah Indonesia kekuasaan itu awalnya kontestasi kekuatan, misalnya naiknya Ken Arok di Tumapel, atau Amangkurat I di Mataram. Jadi dalam sejarah kekuasaan itu jago identik dengan kekuasaan karena seseorang memerintah karena wahyu kesaktian.
Ketika tiba masa kolonial banyak diceritakan bagaimana mereka itu tidak mampu menjaga seluruh wilayah teritorial kekuasaannya dan akhirnya mencomot jago-jago itu untuk perpanjangan tangan di daerah-daerah yang tidak mampu mereka jangkau.
"Bahkan polisi memanfaatkan jago, jawara, kecu, bromocorah, atau parewa untuk membantu kerja mereka," katanya.
Masa revolusi
Ia juga menyebutkan bahwa pada masa revolusi, hadir pula Bang Pi'i atau Imam Syafei, dirinya merupakan seorang jagoan di Jakarta karena memiliki daya kharisma yang besar dianggap bisa mengamankan Jakarta Raya.
Berkat kharismatik Bang Pi'i itu, kata dia, Presiden Soekarno juga mengangkatnya sebagai menteri keamanan Jakarta Raya.
"Ini menarik, seorang jagoan masih dalam struktur birokrasi," katanya seraya menyebutkan peristiwa Gerakan 30 September 1965 menggulung keberadaan Bang Pi'i.
Kemudian di akhir tahun 1970-an, muncul organisasi preman sadar, preman sadar ini merupakan kumpulan para pelaku kejahatan yang baru ke luar dari penjara dan mereka sadar untuk tidak melakukan tindak kejahatan kembali.
"Mereka berusaha mengorganisasikan untuk menjual jasa," katanya.
Penanganan "tahi ayam"
Sementara itu, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengkritisi kinerja kepolisian dalam operasi penangkapan preman saat ini dan dianggap hanya hangat-hangat "tahi ayam" saja.
"Sebenarnya operasi preman itu sudah sejak lama dilakukan polisi, namun sifatnya hangat-hangat tahi ayam," katanya.
Bahkan ia mengatakan operasi penangkapan preman itu paling lama hanya dilakukan selama tiga minggu saja.
"Setelah itu berhenti dan para preman beraksi kembali," katanya.
Karena itu, ia menilai operasi preman yang dilakukan saat ini oleh pihak kepolisian, tidak akan ampuh untuk menekan angka kriminalitas.
"Paling hanya menekannya untuk sementara saja," katanya.
Pasalnya para preman sudah menguasai kawasan-kawasan strategis di berbagai kota besar dan keberadaannya di"backingi" oleh polisi sendiri.
"Keberadaan preman tersebut umumnya dibackingi oleh oknum-oknum polisi yang mencari keuntungan pribadi di balik aksi premanisme tersebut," katanya.
Pewarta : Oleh Riza Fahriza
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
MUI berharap penggunaan istilah dan simbol agama harus pada tempat yang pas
26 March 2024 11:13 WIB, 2024
Universitas Jambi undang Arsiparis Kerajaan Belanda ajar artikulasi istilah hukum
24 September 2022 18:52 WIB, 2022
Gubernur Sumbar: Istilah "uang senang" oleh Riau lukai hati warga Sumbar
31 July 2020 19:57 WIB, 2020
Terpopuler - Lipsus
Lihat Juga
Gelamai dan Lepat Binti, penganan khas Bengkulu diminati pasar Malaysia dan Singapura
31 October 2022 21:22 WIB, 2022