Warga budidayakan puyuh petelur
Senin, 10 Desember 2012 9:02 WIB
Telur Puyuh (FOTO IST)
Lubuklinggau (ANTARA Sumsel) - Sejumlah warga Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan sejak beberapa bulan terakhir mulai membudidaya puyuh petelur, karena hasilnya cukup menjanjikan dengan banyak konsumen di daerah itu.
"Saat ini pasaran telur puyuh di Kota Lubuklinggau per kilogramnya Rp25.000, dalam sebulan puyuh yang saya pelihara bisa menghasilkan 60 kilogram telur puyuh," kata Rudi Purwanto, salah seorang peternak di Kelurahan Pelita, Kecamatan Lubuklinggau Barat I, Senin.
Usaha ternak puyuh petelur tersebut kata dia, baru dilakoninya sejak pertengahan 2012, saat ini dirinya telah memelihara 250 ekor indukan puyuh yang setiap harinya 90 persen bertelur atau sekitar 200 butir telur dihasilkan.
Telur puyuh itu dijual per kg Rp25.000, sedangkan untuk per butir Rp200, dari usaha itu pendapatan yang dihasilkan Rudi per bulannya mencapai Rp1,5 juta.
Selain membudidayakan puyuh petelur Rudi, juga menjual anakan puyuh hasil dari penetasan yang dilakukannya sendiri, kemudian puyuh untuk konsumsi terutama untuk pedagang nasi pecel lele.
Proses penetasan telur ini dilakukan dengan menggunakan mesin penetasan yang biasanya akan memakan waktu hingga 17 hari. Jika sudah menetas bibit puyuh ini dijual per ekornya Rp2.500 untuk umur seminggu, Rp5.000 puyuh berumur 15 hari serta Rp10.000 usia 30 hari dan Rp15.000 umur 45 hari.
Bibit burung puyuh biasanya dijual Rudi kepada pelanggan yang memesan untuk membudidayakan baik berasal dari Kota Lubuklinggau maupun dari daerah lainnya.(T.KR-NMD/ANT)
"Saat ini pasaran telur puyuh di Kota Lubuklinggau per kilogramnya Rp25.000, dalam sebulan puyuh yang saya pelihara bisa menghasilkan 60 kilogram telur puyuh," kata Rudi Purwanto, salah seorang peternak di Kelurahan Pelita, Kecamatan Lubuklinggau Barat I, Senin.
Usaha ternak puyuh petelur tersebut kata dia, baru dilakoninya sejak pertengahan 2012, saat ini dirinya telah memelihara 250 ekor indukan puyuh yang setiap harinya 90 persen bertelur atau sekitar 200 butir telur dihasilkan.
Telur puyuh itu dijual per kg Rp25.000, sedangkan untuk per butir Rp200, dari usaha itu pendapatan yang dihasilkan Rudi per bulannya mencapai Rp1,5 juta.
Selain membudidayakan puyuh petelur Rudi, juga menjual anakan puyuh hasil dari penetasan yang dilakukannya sendiri, kemudian puyuh untuk konsumsi terutama untuk pedagang nasi pecel lele.
Proses penetasan telur ini dilakukan dengan menggunakan mesin penetasan yang biasanya akan memakan waktu hingga 17 hari. Jika sudah menetas bibit puyuh ini dijual per ekornya Rp2.500 untuk umur seminggu, Rp5.000 puyuh berumur 15 hari serta Rp10.000 usia 30 hari dan Rp15.000 umur 45 hari.
Bibit burung puyuh biasanya dijual Rudi kepada pelanggan yang memesan untuk membudidayakan baik berasal dari Kota Lubuklinggau maupun dari daerah lainnya.(T.KR-NMD/ANT)
Pewarta :
Editor : AWI-SEO&Digital Ads
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Program "Karo Mamang" PEP Ramba Field berdayakan ekonomi perempuan Mangunjaya Muba
24 April 2026 12:34 WIB
Sinar Mas Agribusiness and Food perkuat ekonomi desa melalui budidaya lele berbasis teknologi
12 March 2026 15:40 WIB
PT Bumi Andalas Permai dukung budidaya kepiting bakau di Desa Sungai Batang OKI
12 February 2026 14:15 WIB
PT Bumi Andalas Permai dukung pengembangan budidaya madu kelulut di Air Sugihan
28 November 2025 16:23 WIB
Pemkab Banyuasin target pertahankan penghasil ikan patin terbesar di Sumsel
17 October 2025 8:06 WIB
Kelompok budidaya ikan Tunas Makmur sukses domestikasi ikan belida putak, dukung implementasi regulasi baru KKP
18 September 2025 10:08 WIB
Terpopuler - Info Bisnis
Lihat Juga
Kopi Tebat Benawa, saat tradisi dan inovasi Pusri bertemu di kaki Gunung Dempo
22 April 2026 16:45 WIB