Logo Header Antaranews Sumsel

Pelindo rancang Pelabuhan Tanjung Carat jadi pusat logistik modern

Rabu, 27 Mei 2026 09:31 WIB
Image Print
Ilustrasi - Kapal pesiar ekspedisi raksasa, Scenic Eclipse II asal Kroasia sandar di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar, Selasa (8/4/2025). ANTARA/HO/Pelindo Reg 4

Palembang (ANTARA) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional II Cabang Palembang menyebutkan Proyek Pelabuhan Palembang Baru (New Palembang Port) di Tanjung Carat dirancang sebagai pelabuhan laut dalam (deep sea port) modern guna meningkatkan efisiensi logistik dan daya saing ekspor Sumatera Selatan.

Manager Komersial Pelindo Regional II Palembang Irtanto Armawan di Palembang, Selasa, mengatakan pelabuhan tersebut nantinya mampu melayani kapal-kapal kargo berukuran besar sehingga dapat memperkuat konektivitas logistik nasional di wilayah Sumatera bagian selatan.

“Pelabuhan Tanjung Carat dirancang sebagai pelabuhan laut dalam berkapasitas besar yang mampu melayani kapal-kapal berukuran besar, sehingga meningkatkan efisiensi logistik dan daya saing ekspor daerah,” katanya.

Ia menjelaskan selama ini arus ekspor dan impor di Sumatera masih banyak bergantung pada pelabuhan besar seperti Belawan dan Tanjung Priok karena sebagian pelabuhan daerah masih berfungsi sebagai feeder port atau pelabuhan pengumpul.

Pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat diharapkan dapat mengubah pola distribusi tersebut melalui penyediaan fasilitas bongkar muat yang lebih modern dan berkapasitas besar.

“Beberapa pelabuhan di Sumatera selama ini lebih memilih distribusi melalui pelabuhan besar karena biaya dan jaringan kapal lebih stabil,” jelasnya.

Ia menambahkan pembangunan pelabuhan dilakukan melalui sinergi pemerintah dan pihak swasta menggunakan skema investasi kerja sama pemanfaatan barang milik negara (KSP BMN) tanpa menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Konsorsium pengembangan proyek tersebut terdiri atas PT Pelindo (Persero), PT Samudera Pasai Indonesia, dan PT Sumatera Selatan Energy Gemilang (SSEG).

Ke depan, konsorsium itu akan membentuk Special Purpose Vehicle (SPV) atau Badan Usaha Pelabuhan (BUP) sebagai entitas pengelola operasional sekaligus membuka peluang investasi global dalam pengembangan fasilitas penunjang pelabuhan.

Secara strategis, Pelabuhan Tanjung Carat diproyeksikan menjadi terminal utama berbagai komoditas unggulan Sumatera Selatan seperti batu bara, crude palm oil (CPO), karet, dan kopi.

Pelabuhan tersebut juga dirancang beroperasi selama 24 jam penuh guna menekan biaya logistik regional dan mendukung pertumbuhan kawasan industri baru di sepanjang koridor logistik.

Irtanto optimistis kehadiran pelabuhan laut dalam itu akan mendorong transformasi ekonomi Sumatera Selatan dari daerah penghasil komoditas mentah menjadi pusat logistik dan industri strategis di Sumatera.

“Dampaknya diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan industri, lapangan kerja baru, peningkatan ekspor, serta efisiensi distribusi barang,” ujar dia.



Pewarta:
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026