Logo Header Antaranews Sumsel

Irak tolak ikut operasi militer di Selat Hormuz, tak mau provokasi Iran

Senin, 23 Maret 2026 19:17 WIB
Image Print
Kapal tanker Suezmax Shenlong berbendera Liberia, yang membawa minyak mentah, termasuk di antara kapal pertama yang mencapai India setelah krisis Timur Tengah, terlihat di Pelabuhan Mumbai di Mumbai, India, pada 12 Maret 2026, setelah berlayar melalui Selat Hormuz dari pelabuhan Ras Tanura di Arab Saudi. ANTARA/İmtiyaz Shaikh/Anadolu/pri.

Jakarta (ANTARA) - Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani, Senin, mengatakan bahwa operasi di Selat Hormuz tidak akan membantu pelayaran dan akan memprovokasi reaksi dari Iran, seraya menambahkan bahwa Irak tidak akan berpartisipasi di dalamnya.

Eskalasi seputar Iran telah menyebabkan blokade de facto Selat Hormuz, jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, dan juga telah memengaruhi tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.

Presiden AS Donald Trump telah menyerukan sejumlah negara untuk mengirim kapal ke selat tersebut.

"Kami tidak percaya pada solusi militer. Perlindungan bersenjata terhadap kapal akan memprovokasi reaksi dari Iran dan tidak akan berkontribusi pada pelayaran. Oleh karena itu, kami tidak akan berpartisipasi dalam aksi militer apa pun di Teluk Persia," kata al-Sudani kepada surat kabar Italia, Corriere della Sera.

Pada 19 Maret, enam negara -- Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang -- mengumumkan "kesiapan mereka untuk berkontribusi pada upaya yang tepat untuk memastikan jalur aman melalui" Selat Hormuz.

Beberapa negara lain kemudian ikut bergabung dalam pernyataan tersebut.

Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran merespons dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti



Pewarta:
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026