
Seberapa siap Indonesia menghadapi ancaman resesi

Jakarta (ANTARA) - Dalam beberapa bulan terakhir, probabilitas resesi di Amerika Serikat menunjukkan tren meningkat dan mendekati ambang psikologis 50 persen.
Angka ini bukan sekadar statistik teknis, melainkan sinyal dini yang selama beberapa dekade terbukti berkorelasi kuat dengan perlambatan ekonomi global. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan nuansa yang lebih kompleks: risiko memang meningkat, tetapi belum sepenuhnya memasuki wilayah "50:50" menurut banyak pelaku pasar.
Laporan dari Moody's Analytics bahkan dinilai lebih pesimistis dibandingkan dengan konsensus Wall Street. Di sisi lain, pemodelan dari Oxford Economics memberikan perspektif penting, yaitu dunia baru akan terdorong ke jurang resesi jika harga minyak melonjak hingga sekitar 140 dolar AS per barel dan bertahan setidaknya selama dua bulan. Artinya, resesi global saat ini bukanlah keniscayaan, melainkan sangat bergantung pada intensitas dan durasi guncangan, terutama dari sisi energi dan geopolitik.
Di sinilah peran kawasan Timur Tengah menjadi krusial. Gangguan pada jalur distribusi energi global, khususnya melalui Selat Hormuz, berpotensi memicu lonjakan harga minyak secara drastis.
Pewarta: Dr Aswin Rivai *)
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
