Dokter sebut terapi target membuat sel kanker jadi mudah dikendalikan

id terapi target,sel kanker,pembedahan, kemoterapi,berita sumsel, berita palembang, antara palembang,Tes IVA untuk mendeteksi kanker serviks atau mulut r

Dokter sebut terapi target membuat sel kanker jadi mudah dikendalikan

Tes IVA untuk mendeteksi kanker serviks atau mulut rahim (ANTARA/HO-Klinik Pelita)

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis kebidanan dan kandungan dr. Kartiwa Hadi Nuryanto, Sp.OG mengatakan terapi target pada tatalaksana kanker kandungan dapat membuat sel kanker menjadi lebih mudah dikendalikan pada saat melakukan pembedahan, kemoterapi dan radiasi. “Jadi pilihan apakah terapi berupa pembedahan, radiasi atau kemoterapi bisa ditentukan pada saat seorang dokter kanker melakukan pemeriksaan, jadi tidak semua harus dengan operasi, tidak semua harus diradiasi dan tidak semua harus di kemoterapi,” ucapnya dalam diskusi yang diikuti secara daring mengenai pengobatan pada kanker kandungan di Jakarta, Rabu.

Kanker kandungan, kata Kartiwa, bisa menyerang lima organ kandungan pada perempuan seperti rahim, indung telur, tuba yang melindungi rahim dan indung telur, vagina dan vulva.

Pada stadium awal, sel kanker akan lebih mudah diangkat dibanding jika sudah pada tahap stadium lanjut dengan angka kematian yang jauh lebih tinggi.

Ia mengatakan terapi target ini membuat sel kanker ‘kelaparan’ karena kekurangan oksigen sehingga pada saat melakukan kemoterapi dan radiasi sel kanker akan mati lebih cepat. Terapi ini merupakan tambahan pendukung untuk tiga pilihan utama dalam penatalaksanaan kanker kandungan yaitu pembedahan, radiasi dan kemoterapi.


“Pada stadium dua ke bawah itu kita masih bisa dilakukan tatalaksana pembedahan, begitu stadiumnya sudah naik dua ke atas maka untuk dilakukan tindakan pembedahan akan menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang jauh lebih tinggi dibandingkan kalau kita langsung melakukan radiasi atau kemoterapi,” ucapnya.

Penanganan kanker kandungan ini juga bergantung pada status perempuan tersebut sudah menikah dan memiliki anak atau belum yang menjadi pertimbangan dokter melakukan pembedahan.

Jika pasien belum memasuki masa menopause dan masih memerlukan fungsi ovarium maka pembedahan hanya dilakukan dengan mengambil rahim dan kelenjar getah bening di panggul untuk memastikan seluruh kanker yang mungkin menyebar sudah terangkat.

“Yang kami lakukan mengambil rahimnya, kalau misalnya pasien tersebut masih memerlukan fungsi ovarium maka kita akan tidak ambil ovariumnya karena bagaimanapun juga seorang perempuan yang belum menopause secara hormonal itu masih memerlukan fungsi dari ovarium,” ucap Kartiwa.

Jika pembedahan, radiasi dan kemoterapi tidak membuahkan hasil maka akan dilakukan konsep variatif dimana pada fase ini, dokter bekerja sama dengan keluarga memberi kenyamanan pada pasien agar tetap berfungsi sebagai seorang manusia seutuhnya tanpa melakukan tindakan pembunuhan sel kanker.

“Di mana pada titik variatif ini memang peran keluarga, peran masyarakat, peran pendekatan agama juga penting jadi pada titik variatif sangat dibutuhkan kerja sama yang baik dengan semua pihak yang bisa membuat pasien ini menjadi jauh lebih sehat,” ucapnya.