
Bank Sumsel Babel kawal rasio NPL jaga likuiditas perusahaan

Palembang (ANTARA) - Bank Pembangunan Daerah PT Bank Sumsel Babel fokus mengawal rasio kredit bermasalah (NPL) tidak melampaui batas ambang untuk menjaga likuiditas keuangan perusahaan.
Direktur Utama PT BSB Achmad Syamsudin di Palembang, Kamis, mengatakan, upaya ini untuk merespons isu terkini berupa adanya ancaman resesi pada 2023.
“Yang kita takuti NPL, jangan sampai melewati 3,0 persen. Jadi kita jaga betul,” kata Syamsudin.
Ia mengatakan kondisi saat ini berbeda dibandingkan tahun 1998 ketika Indonesia mengalami krisis moneter.
Saat itu, NPL terbilang tinggi sehingga menyebabkan kenaikan suku bunga yang tak terkendali.
Namun, data terbaru BSB menunjukkan NPL masih dibawah 3,0 persen atau terbilang aman mengingat batas ambang dari Otoritas Jasa Keuangan yakni 5,0 persen.
Meski demikian, BSB yang bergerak di sektor perbankan tetap harus mewaspadai berbagai kemungkinan.
Untuk itu, dari sisi internal, BSB akan memperkuat manajemen risiko serta membuat beberapa simulasi tekanan kredit dan tekanan likuiditas untuk melatih organisasi menghadapi krisis.
Namun terpenting, Syamsudin mengajak semua pihak tetap mengedepankan optimisme dalam menghadapi situasi ini, berupa kenaikan harga pangan dan inflasi tinggi.
Sumsel sebagai daerah lumbung pangan yang mengalami surplus produksi beras dan berpotensi dalam perkebunan jagung sepatutnya tetap optimistis dalam menghadapi keadaan ini.
Selain itu, yang terpenting yakni menjaga sektor UMKM karena sektor ini sejatinya baru pulih dari pandemi. Apalagi, belum lama ini terdampak lagi oleh kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak pada 3 September 2022.
“Saran saya, program relaksasi (restrukturisasi) kredit yang akan berakhir pada Maret nanti diperpanjang untuk membantu UMKM,” kata dia.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi Provinsi Sumatera Selatan pada bulan September 2022 mengalami inflasi sebesar 1,26 persen (mtm), 5,60 persen (ytd) dan 6,70 persen (yoy).
Beberapa komoditas dominan penyumbang andil inflasi kumulatif Januari sampai September 2022 yang kiranya menjadi perhatian TPID, antara lain bensin, cabai merah, beras, angkutan udara dan telur ayam ras.
Pewarta: Dolly Rosana
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
