Melestarikan Lanskap Sembilang Dangku

id lanskap sembilang dangku,app sinar mas,karhutla sumsel,buaya sinyulong,masyarakat peduli restorasi,klhk,masyarakat pedul

Melestarikan Lanskap Sembilang Dangku

Siti Wahyuni, warga Dusun Pancuran, Desa Muara Merang bekerja di kebun pembibitan (nusery) Kelompok Masyarakat Peduli Restorasi, Rabu (29/12/21). (ANTARA/Dolly Rosana/21)

Saya ingin anak-anak muda di sini peduli lingkungan, itu target saya. Itulah di dalam KMPA, saya libatkan mayoritas anak milenial dari total 109 orang
Palembang (ANTARA) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat pada 2015 yang menghanguskan ratusan ribu hektare di kawasan Muara Merang, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, demikian menyiksa.

Warga setempat terpaksa mengungsi karena bencana kabut asap mengakibatkan kualitas udara dan jarak pandang menurun drastis selama berbulan-bulan.

Saat itu, kawasan Muara Merang yang terbakar menjadi sorotan karena berada di Lanskap Sembilang Dangku, yakni tempat keberadaan Taman Nasional Berbak-Sembilang dan Suaka Margasatwa Dangku.

Salah seorang korban karhutla tersebut, Sahal Abdullah Faqih Suyuthi (46) mengisahkan betapa ia dihadapkan persoalan pelik ketika itu.

“Saya berharap jangan sampai bencana ini terjadi lagi dan menimpa anak cucu saya,” kata Suyuthi yang disambangi di kebun pembibitan (nursery) warga Desa Muara Merang, Rabu (29/12).

Peristiwa buruk itu ternyata menjadi pelecut bagi Suyuthi untuk mengajak warga setempat aktif dalam kegiatan pencegahan karhutla, mulai dari mengedukasi dari rumah ke rumah hingga patroli keluar-masuk desa. Ia pun dipercaya mengemban tugas sebagai Ketua Kelompok Masyarakat Peduli Api (KMPA) Bromo Sakti, Dusun Pancuran, Desa Muara Merang.

 

Kapal pengangkut potongan kayu



Setelah karhutla hebat itu, KMPA berjibaku bersama para pemangku kepentingan yakni pemerintah, perusahaan, TNI/Polri untuk mencegah karhutla dengan lebih mengedepankan upaya mitigasi.

Buahnya pun terasa karena kasus karhutla menurun drastis di kawasan tersebut dalam lima tahun terakhir. Bahkan, pada dua tahun terakhir ini sama sekali tidak terjadi.

Menurutnya, ini lantaran kencangnya edukasi mengenai larangan membuka lahan dengan cara bakar, serta adanya penangkapan dan peradilan bagi pelaku pembakaran lahan oleh aparat penegak hukum.

Karhutla terakhir kali terjadi di Lanskap Sembilang pada 2019, namun hanya membakar beberapa puluh hektare (Ha).

“Namun, kebakaran ini sempat menurunkan semangat saya, apa yang sudah terjadi (suksesi secara alami, red) maupun penanaman yang kami lakukan sendiri kembali nol lagi karena terbakar,” kata Suyuthi.

Atas pengalaman dalam rentan lima tahun itu, ia menilai penyelamatan lingkungan tak boleh terpaku pada pemadaman api.

Oleh karena itu, sejak dua tahun terakhir, ia mensyukuri upaya pun sudah menitikberatkan pada pelestarian lingkungan yakni memulihkan (restorasi) hutan gambut yang terdegradasi di Lanskap Sembilang ini.

Lantaran itu, Suyuthi tak segan meminjamkan lahannya seluas 8.000 meter persegi untuk dijadikan lokasi kegiatan pembibitan tanaman khas gambut. Ia pun sudah menandatangani kontrak selama lima tahun dengan perusahaan mitra pemasok APP Sinar Mas untuk pemanfaatan lahan tersebut.

Bagi Suyuthi, apa pun akan diberikannya demi pelestarian alam ini. Sebelumnya ia pun telah menghibahkan lahan seluas 2,5 hektare untuk membantu Badan Restorasi Gambut (BRG) dalam menjalankan program penanaman coklat, pinang dan nanas bersama masyarakat.

“Saya ingin anak-anak muda di sini peduli lingkungan, itu target saya. Itulah di dalam KMPA, saya libatkan mayoritas anak millenial dari total 109 orang,” kata dia.

Masyarakat Peduli Restorasi

Lanskap Sembilang Dangku berada di wilayah Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin, Sumsel, yang mencakup 19 kecamatan dan 223 desa dengan luas area lanskap sekitar 1,6 juta Ha, serta berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa lebih.

Lanskap Sembilang Dangku didominasi oleh kawasan hutan yang secara keseluruhan mengambil porsi 65,02 persen dari total luas lahan, yang terdiri dari 16,40 persen kawasan konservasi, 1,40 persen kawasan lindung, dan 47,22 persen merupakan kawasan hutan dengan fungsi produksi.

Areal di luar kawasan hutan pada lanskap ini didominasi oleh areal perkebunan, yaitu 20,26 persen dari total luas lanskap.

Hal tersebut secara sepintas menggambarkan bahwa lanskap Sembilang Dangku didominasi oleh area dengan fungsi produksi, baik berupa perkebunan maupun Hutan Tanaman Industri (HTI) yang meliputi 67,48 persen dari total area lanskap.
Anggota Masyarakat Peduli Restorasi (MPR) melakukan e-radikasi di kawasan hutan konservasi di Kecamatan Bayung Lencir, Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, Rabu (29/12/2021). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU)


Pemulihan alami sebenarnya sudah terjadi dalam masa lima tahun terakhir sejak karhutla hebat, tapi tetap membutuhkan campur tangan manusia untuk menanam kembali tanaman khas gambut (revegetasi) dan e-radikasi (pembunuhan tanaman akasia) di areal restorasi.

Kegiatan pun meningkat dari sekadar KMPA menjadi Kelompok Masyarakat Peduli Restorasi (KMPR), yakni masyarakat diajak untuk peduli pada pemulihan ekosistem lahan gambut karena tinggal berdampingan dengan kawasan lindung tersebut.

Kegiatan ini dikawal oleh Gerakan Cinta Desa (G-Cinde) yakni gerakan yang diinisiasi oleh multi pihak yakni APP Sinar Mas dan Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta Pemerintah Kabupaten Muba.

Dalam kegiatan ini terdapat empat perusahaan hutan tanam industri (HTI) mitra pemasok APP Sinar Mas yang terlibat yakni PT Bumi Persada Permai, PT Rimba Hutani Mas dan PT Sumber Hijau Permai dan PT Tri Pupa Jaya.

Warga setempat diajak melakukan beragam kegiatan restorasi yakni pembuatan pokok kompos, pembibitan, budidaya lele dalam ember (budikdamber) dan kegiatan restorasi berupa penanaman (revegetasi) serta e-radikasi. Untuk dua kegiatan yakni revegetasi ditargetkan 131,8 Ha dan e-radikasi seluas 1.700 Ha.

Kepala Bidang Jaringan Masyarakat Peduli Restorasi Gendro Hariyanto yang merupakan warga setempat, mengatakan terdapat sekitar 30 warga di desa itu yang terlibat dalam kegiatan restorasi ekosistem hutan.

Selama dua tahun terakhir, warga menggunakan lahan milik Suyuthi untuk kegiatan pembibitan.

Para ibu-ibu itu menanam tanaman anakan seperti jelutung rawa, durian, meranti, tumi, pinang, gelam dan medang dengan terlebih dahulu diberikan pelatihan.

Dalam masa itu, KMPR ini mampu memproduksi ribuan bibit yakni 1.200 bibit tembesu angin pada 2020 senilai total Rp12 juta, kemudian dilanjutkan sebanyak 16.400 bibit pada 2021.

Sejauh ini, bibit tersebut sebatas dibeli oleh perusahaan mitra pemasok APP Sinar Mas untuk digunakan dalam program restorasi revegetasi.

Koordinator Gerakan Cinta Desa Eko Waskito mengatakan kegiatan restorasi ini bukan hanya sebatas pemulihan alam, tapi juga membantu perekonomian warga sekitar kawasan hutan lindung.

Pola pemberdayaan masyarakat ini akan terus ditingkatkan atau tidak sebatas menjadikan perusahaan sebagai pembeli (offtaker). Ke depan, G-Cinde akan menggandeng BUMDes setempat agar bisnis bisa berjalan lebih profesional.

Namun, ini butuh kerja keras karena BUMDes di Desa Muara Merang ini diketahui sedang mangkrak, begitu juga dengan dua desa lainnya yang juga sudah memiliki KMPR di kawasan ini, kata dia.

Untuk itu perlu kolaborasi dari berbagai pihak untuk memacu masyarakat sekitar kawasan hutan untuk berdaya dari sisi ekonomi, namun tetap menjaga lingkungannya.

Salah satunya memotivasi warga untuk aktif dalam kegiatan penanaman kembali (revegetasi). Aktivitas ini tak bisa dilakukan secara serampangan. Anggota KMPR harus melubangi tanah sekitar 40 meter untuk memasukkan pupuk kompos seberat 2-5 Kg. Tanaman ini pun diperiksa secara rutin untuk memastikan tidak ada tanaman penggangu.

Sejak dilakukan pada November-Desember 2021, sudah menjangkau lokasi penanamannya yakni di areal konsesi PT RHM seluas 79,8 Ha, PT TJP 24,6 Ha, PT SHP 26,4 Ha dan sisanya di PT BPP sehingga total mencapai 131,8 Ha.

Tak hanya revegetasi, dalam program restorasi Lanskap Sembilang ini juga dilakukan e-radikasi di atas lahan seluas 1.700 Ha, yang mana sebagian besar dilakukan di areal konsesi PT Rimba Hutani Mas seluas 1.400 Ha. E-radikasi yakni mematikan tanaman akasia di lokasi konservasi dengan cara melukai kulitnya. Biasanya tanaman ini akan mati dengan sendirinya dalam dua bulan.

Siti Wahyuni, warga setempat mengatakan dirinya mendapatkan pemasukan senilai Rp400 ribu dalam kegiatan pembibitan tanaman tersebut.

Sementara untuk budikdamber dalam periode Juli-September 2021 sudah merasakan panen sebanyak satu kali, yang mana hasilnya sebanyak 40 Kg ikan lele lalu dijual ke warga kampung hingga ke pasar.

Para ibu-ibu yang beranggotakan 14 orang warga setempat secara bergantian mengawasi dua kegiatan tersebut yakni nurseri dan budikdamber.

“Lumayan untuk tambahan pemasukan bagi keluarga. Bantu-bantu suami,” kata Siti.

Kolaborasi

Lanskap Sembilang Dangku berada di dua kabupaten Sumsel yakni Musi Banyuasin dan Banyuasin menjadi perhatian karena beberapa areal gambut telah terdegradasi akibat karhutla.

Berbagai pihak berkolaborasi, mulai dari perusahaan, pemerintah, lembaga sosial masyarakat, warga untuk memulihkannya dengan target mencapai 25 ribu Ha dari total luas kawasan 1,6 juta Ha.

Head of Landscape Conservation, Health, Safety & Environment Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas, Jasmine N.P. Doloksaribu mengatakan pihaknya bersama Yayasan Dagang Hijau (IDH), Gerakan Cinta Desa (G-Cinde) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Banyuasin telah merealisasikan pemulihan di lahan seluas 5.338 Ha, sedangkan target seluas 12.708 Ha hingga akhir tahun 2022.

APP Sinar Mas peduli terhadap pemulihan Lanskap Sembilang karena terdapat lima perusahaan hutan tanam industri (HTI) yang menjadi mitra pemasok berada di dalamnya, dengan total mengelola areal seluas 202.528 Ha.

Dalam kegiatan restorasi hutan ini, APP Sinar Mas mendorong terjadinya kolaborasi bersama masyarakat di antaranya melalui kegiatan pembibitan, pemeliharaan ternak, pemantauan tutupan lahan gambut hingga kegiatan restorasi berupa menyuksesi alami lahan terdegradasi.

“Upaya ini tak lain untuk menjaga komitmen perusahaan untuk menjalankan bisnis yang berkelanjutan,” kata Jasmine.

Bukan hanya menjalankan program pemulihan kawasan tersebut, pihaknya juga melalukan upaya pelestarian fauna buaya sinyulong dan harimau sumatera di kawasan tersebut.

Sementara itu, Peneliti Muda Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Mimi Salminah mengatakan pihaknya telah mengembangkan Sistem Monev Restorasi Ekosistem Areal Konsesi Pemasok Kayu APP Sinar Mas yang nantinya bisa diakses publik pada 2022.

Melalui sistem monitoring ini, pemerintah ingin melihat sejauh mana komitmen dari APP Sinar Mas untuk merestorasi gambut yang terdegradasi dan memastikan areal hutan alami tidak digunakan.

“Kami sudah menetapkan tiga poin monitoring yang dapat dijadikan indikator dan parameter kegiatan restorasi yakni vegetasi, hidrologi dan sosial ekonomi, kata dia.

Lanskap Sembilang Dangku memiliki nilai penting konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistemnya, karena di dalamnya terdapat hutan mangrove, hutan pantai, hutan dataran rendah, lahan gambut dan ekosistem lain yang menjadi habitat bagi hidupan liar baik flora maupun fauna.

Nilai penting Lanskap Sembilang Dangku bagi konservasi terbukti dengan keberadaan tiga kawasan konservasi yaitu Taman Nasional Sembilang, Suaka Margasatwa Dangku, dan Suaka Margasatwa Bentayan yang secara total mengambil porsi 16,40 persen dari total luas areal.

Namun, nilai penting ini tak bisa bertahan jika tidak semua pihak memiliki tanggung jawab untuk menjaganya.*
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2022