Psikolog: sesuaikan ekspektasi agar tidak bosan di rumah

id di rumah aja,psikologi,liburan,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, info sumsel

Psikolog: sesuaikan ekspektasi agar  tidak bosan di rumah

Ilustrasi (Pexels)

Jakarta (ANTARA) - Berada di rumah bisa terasa seru dengan menyesuaikan ekspektasi, sehingga hal-hal sepele seperti pergi ke toko kelontong bisa terasa bagai liburan kata Konselor Employee Assistance Program di BUMN dan Lembaga Negara, Mira Amir.

"Kita perlu mengatur prioritas kita, saat ini prioritas bersenang-senang atau tetap sehat?" kata Mira yang juga psikolog kepada ANTARA beberapa waktu lalu.

Bosan itu wajar akibat hampir setahun belakangan tidak bebas bepergian, tapi mengingat prioritas terpenting dapat jadi siasat agar rutinitas tetap menyenangkan.

Di masa pandemi, prioritas terpenting adalah menjaga tubuh tetap sehat dari ancaman virus corona yang sudah mengubah kehidupan masyarakat secara global.

Mira mengatakan, jika tidak yakin protokol kesehatan yang ketat bisa diterapkan di luar rumah, maka ingatlah bahwa yang terbaik adalah tetap sehat di lingkungan yang bisa dikontrol oleh setiap individu, yakni tempat tinggal masing-masing.

Di bawah tekanan kondisi yang memaksa untuk beradaptasi, manusia punya cara baru untuk bersenang-senang sehingga kesehatan batin juga ikut terjaga.

Sebelum pandemi, seseorang mungkin baru merasa bisa bebas dari rasa penat dengan cara berlibur ke luar kota atau luar negeri, jauh dari suasana rumah yang itu-itu saja. Untuk saat ini, sesuaikan standard itu dengan situasi terkini agar kegembiraan bisa diraih dari hal kecil.

"Dengan mengacu kepada prioritas, kita bisa tetap keluar rumah tapi merasa juga seperti sedang rekreasi."

Jajan di warung atau toko kelontong, salah satu tempat yang masih rutin didatangi untuk membeli keperluan sehari-hari, bagi sebagian orang bisa terasa bagai berlibur.

Mira menjelaskan, manusia punya kebutuhan untuk menentukan sesuatu secara bebas. Ketika kebebasan untuk menentukan sesuatu yang besar tidak memungkinkan, cari alternatif lain, seperti memilih barang apa yang akan dibeli di toko kelontong.

"Prinsipnya, manusia itu fleksibel, apalagi dalam kondisi sempit seperti sekarang. Akhirnya otak kita menyumbangkan alternatif-alternatif terbatas. Itu justru yang sehat. Kalau manusia masih berpikir yang namanya liburan itu ke tempat jauh dan tidak kesampaian, itu hanya menyiksa diri sendiri."
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar