Festival Ngarak Telok di Bangka Selatan

id Tradisi ngarak telok,Bangka Selatan,festival ngarak telok

Festival Ngarak Telok di Bangka Selatan

Warga Bangka Selatan gelar tradisi ngarak telok serujo di Toboali, Bangka Selatan, Minggu (ANTARA News Sumsel/Aprionis)

Toboali (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menggelar Festival Ngarak Telok Serujo sebagai upaya pemerintah daerah untuk mempromosikan warisan budaya masyarakat ke tingkat nasional dan internasional.

"Kegiatan seperti ini merupakan upaya pemerintah menjaga eksistensi potensi budaya, sehingga dapat membawa dampak yang positif terhadap pembangunan sektor pariwisata," kata Bupati Bangka Selatan Justiar Noer di Toboali, Minggu.

Ia mengatakan Festival Ngarak Telok Serujo ini merupakan rangkaian event Toboali City On Fire yang mengusung konsep 'Unforgetable Taste' atau cita rasa legendaris yang bermaksud menampilkan cita rasa budaya masyarakat Bangka Selatan.

"Kami mengangkat tradisi telok serujo yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda nasional, sehingga festival tersebut menjadi bagian dari event Toboali City on Fire menjadi salah satu ajang yang paling ditunggu tunggu oleh masyarakat untuk disaksikan," katanya.

Menurut dia Festival Ngarak Telok Serujo dimaksudkan untuk dapat memberikan sentuhan yang berbeda dengan Carnaval lainnya yang menjamur di Indonesia.

"Kami ingin menampilkan cita rasa sentuhan kepada masyarakat bahwa ngarak telok serujo merupakan cagar budaya tak benda nasional yang harus dilestarikan bersama, khususnya di Kabupaten Bangka Selatan," katanya.

Ia menambahkan Festival Telok Seruja memiliki arti, telok adalah telor ayam dan serujo berarti kembang atau bunga. Telor yang menggambarkan harapan keluarga dan pengantin untuk memperoleh keturunan yang baik ini dimasukkan dalam wadah yang disebut dengan “sumpit berduri”.

Sumpit berduri bermakna tempat yang aman dan terhindar dari gangguan, sehingga diharapkan keturunan dari pengantin menjadi anak yang baik, terhindar dari segala marabahaya dan mempunyai keimanan dan ketaqwaan yang berlandaskan Al qur’an.

Sumpit berduri pada zaman dahulu terbuat dari bahan alami yang dapat dianyam, seperti daun kelapa, daun pandan, dan daun pisang.

"Marilah kita bersama sama menjaga warisan budaya yang telah diwariskan turun temurun agar tetap terjaga eksistensinya, terlebih telok serujo juga masuk dalam cagar budaya tak benda nasional yang patut kita semua banggakan," katanya. 

 
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar