Eksportir Sumsel rentan diombang-ambing importir

id Eksportir,Importir,Dinas perdagangan

Ilustrasi- Pengrajin memilah pucuk daun nipah yang telah diproses di kawasan 3 Ulu Palembang, Sumsel, Selasa (21/11). Pucuk daun nipah yang diproses warga kawasan 3 Ulu saat ini mampu menjadi komoditas ekspor dengan negara tujuan Malaysia dan Thailand. (ANTARA News Sumsel/Feny Selly/I016/17)

Palembang (ANTARA News Sumsel) - Ekspor Sumsel masih rentan diombang-ambing negara tujuan akibat permainan isu-isu di luar negeri yang membuat pelaku usaha merugi. 

"Negara tujuan ekspor kadang pintar sekali membuat isu-isu saat harga turun untuk menunda pembayaran, jadi yang rugi jelas pelaku usaha. Sedangkan kalau harga sedang naik importir justru memilih diam, ini sebenarnya masalah klasik namun para eksportir belum banyak tahu," kata Kepala Dinas Perdagangan Sumsel Yustianus saat membuka edukasi Free Trade Agreement (FTA) kepada pelaku usaha, perbankan dan akademisi di Palembang, Kamis. 

FTA merupakan perjanjian antara dua negara atau lebih untuk membangun sebuah area perdagangan bebas di mana perdagangan dalam bentuk barang dan jasa dapat dilakukan dengan melampaui batas-batas umum (batas geografis) tanpa tarif/penghalang, harus lebih banyak dipahami oleh eksportir, lanjut Yustianus. 

Menurutnya edukasi FTA sangat penting untuk eksportir maupun calon eksportir agar tidak mudah dimainkan pasar dan merugi, sebaliknya pelaku usaha bisa memanfaatkan FTA guna ikut meningkatkan nilai ekspor sumsel. 

Dia menjelaskan permasalahan isu-isu telah lama mendera Sumsel seperti pada tahun 1990 eksportir kayu terpaksa merugi karena negara tujuan menurunkan nilai pembayaran karena terpengaruh isu lingkungan bahkan keran ekspor kayu sampai ditutup. 

Tak jauh beda, saat ini komoditas minyak CPO terpapar isu lingkungan sehingga nilainya anjlok dan menekan sektor usaha perkebunan sawit, secara tidak langsung melemahkan posisi ekspor sumsel. 

"Apalagi ekspor Sumsel saat ini didominasi oleh Singapura melalui pihak ketiga, artinya indirect, yang direct (ekspor langsung ke negara tujuan) masih sedikit, maka solusi kami saat ini kami ajak agen dari afrika menggandeng negara-negara Afrika," ujar Yustianus. 

Lanjut Yustianus, pasar Afrika sangat potensial untuk jadi tujuan ekspor Sumsel terutama komoditas pertanian dan CPO, mengingat negara-negara berkembang di benua hitam tersebut tidak dalam pengaruh langsung perang dagang antara Amerika dan Tiongkok. 

Berdasarkan data Kemendag Nilai ekspor Sumatra Selatan sepanjang 2017 tercatat US 3,4 miliar, meningkat hampir dua kali  dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni US 1,9 miliar dan tahun 2018, Dinas Perdagangan memasang target US 2,9 miliar dari 60 negara tujuan ekspor Sumsel.

 
Pewarta :
Editor: Erwin Matondang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar