
Pemilu lebih baik daripada kudeta militer

Purwokerto (Antaranews Sumsel ) - Pemilihan umum sangat penting karena pemilu lebih baik daripada kudeta militer, kata Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Andi Ali Said Akbar.
"Tujuan pemilu sebagai sarana mencapai kesejahteraan masyarakat, mekanisme untuk menyeleksi para pemimpin pemerintahan, dan alternatif kebijakan umum serta mobilisasi dukungan rakyat terhadap negara," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu.
Andi mengatakan hal itu saat menjadi pembicara dalam diskusi Menyambut Kepemimpinan Baru Jawa Tengah dengan tema "Deklarasi Cerdas Memilih" yang diselenggarakan oleh Jateng Institute di Aula FISIP Unsoed Purwokerto dalam rangka menghadapi Pemilihan Kepala Daerah Serentak 2018, khususnya Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng.
Ia mengatakan bahwa wajah politik di Indonesia saat ini menunjukkan bahwa negara makin demokratis. Akan tetapi, partai politik makin pragmatis dan pemilih makin apatis.
Menurut dia, kondisi partai di Indonesia berada dalam tahap krisis kepercayaan.
Partai banyak menuai kritik karena hanya berfungsi dalam aktivitas merebut, pertahankan, dan membagi kekuasaan. Partai hanya hidup saat pemilu, pilkada, kongres, munas, dan kegiatan partai yang lainnya, katanya.
Ia mengatakan bahwa golput tidak pernah menjadi solusi dan golput tidak akan menang pada pemilu.
Menurut dia, tren partisipasi masyarakat cenderung menurun sejak Pemilu 1999 sampai dengan Pemilu 2014. Salah satu penyebabnya informasi yang kurang dari para kandidat.
Ketua Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Banyumas Unggul Warsiadi mengatakan bahwa pihaknya sebagai penyelenggara pemilu di dalam melaksanakan sosialisasi harus pandai meyakinkan masyarakat.
"Masyarakat saat ini cenderung bosan dengan sesuatu berkaitan dengan pemilu baik pemilihan anggota legislatif, Pemilu Presiden, maupun pemilihan kepala daerah," katanya.
pilkada serentak yang akan digelar pada tahun 2018 merupakan gelombang ketiga atau terakhir. Nantinya pada tahun 2024 akan digelar berbarengan dengan pemilihan anggota legislatif dan Pemilu Presiden.
Terkait dengan tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada Jateng di Banyumas, Unggul mengatakan bahwa pada tahun 2013 sekitar 59,43 persen dan cenderung menurun dari Pilkada Jateng 2008 yang sebesar 60,23 persen.
"Demikian juga pada Pilkada Banyumas 2013 sebesar 67,37 persen atau menurun dari Pilkada Banyumas 2008 yang sebesar 72,96 persen," katanya.
Dalam kesempatan itu, dia memberikan tips untuk menjadi pemilih cerdas, yakni pastikan terdaftar sebagai pemilih, kenali calon yang akan dipilih, ketahui program visi dan misi, cermati rekam jejak calon, dan diskusikan dengan berbagai unsur masyarakat.
"Jangan lupa, pastikan suaramu diberikan secara sah," katanya.
Pengamat ekonomi Witjaksono mengatakan bahwa pemimpin sebenarnya amanah dari Allah Swt. melalui tangan para pemilih.
Oleh karena itu, pemimpin harus amanah karena akhlaknya nanti yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Selain itu, pemimpin harus mengubah kesejahteraan masyarakatnya sehingga dalam memilih pemimpin yang pertama adalah akhlaknya.
Sementara itu, Bakal Calon Gubernur Jateng Sudirman Said mengatakan bahwa penguasa berbeda dengan pemimpin. Kalau penguasa bekerja dengan kekuasaannya, sedangkan pemimpin bekerja dengan pengaruhnya atau karisma.
"Jadi, yang harus kita cari adalah seorang pemimpin yang memiliki 'track record' (rekam jejak, red.) bagus. Teruslah berlatih dan beraktivitas untuk menjadi seorang pemimpin," katanya.
Ia mengatakan bahwa partai politik harus membuka lebar kesempatan bagi kader-kader terbaik untuk masuk ke dalam proses politik.
"Oleh karena itu, saya maju menjadi calon gubernur. Visi dan misi kami untuk membawa perubahan bagi rakyat Jateng demi kesejahteraan rakyat dengan berbagai program yang dapat diimplementasikan secara langsung bagi rakyat," katanya.
Pewarta: Sumarwoto
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
