Seratusan pelajar lomba melukis rumah Bung Karno

id bung karno, melukis, rumah bersejarah, pelajar, bengkulu, Sang Proklamator

Rumah Kediaman Bung Karno selama pengasingan di Bengkulu 1938-1942 (Antarasumsel.com/Awi)

Bengkulu (ANTARA Sumsel) - Sebanyak 172 orang pelajar tingkat SD dan SMP di Kota Bengkulu mengikuti lomba melukis cagar budaya Rumah Pengasingan Bung Karno yang ditempati Sang Proklamator saat menjalani pembuangan di Bengkulu.

"Lomba melukis cagar budaya, rumah pengasingan Bung Karno ini bagian dari rangkaian kegiatan jejak warisan budaya," kata Ketua Panitia Jejak Warisan Budaya, Bram Iswanto di Bengkulu, Selasa.

Ia mengatakan lomba melukis merupakan rangkaian kegiatan Jejak Warisan Budaya dalam Tutur, Nada, Gerak dan Coretan yang digelar Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi di Bengkulu.

Kegiatan itu dipusatkan di dua lokasi yakni cagar budaya Rumah Pengasingan Bung Karno di Kelurahan Anggut Atas dan Benteng Marlborough, benteng peninggalan kolonial Inggris di tepi Pantai Tapak Paderi Bengkulu.

"Kegiatan ini bagian dari pemanfaatan cagar budaya untuk masyarakat, karena salah satu fungsi cagar budaya adalah pemanfaatan," kata dia.

Pelaksana tugas Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah didampingi Maestro lukis Nusantara, Zaenal Beta membuka acara tersebut.

Maestro lukis asal Makassar, Zaenal Beta pun berkesempatan untuk melakukan demo melukis rumah Bung Karno berbahan tanah liat.

Aksi sang maestro yang melukis rumah bersejarah itu hanya dalam hitungan menit pun sempat menjadi tontonan.

Rumah Bung Karno yang ditempati saat menjalani pengasingan di Bengkulu kurun 1938-1942 merupakan rumah bersejarah yang menjadi salah satu objek wisata andalan Bengkulu.

Rumah dengan arsitektur perpaduan Tiongkok dan Eropa itu menjadi saksi bisu pembuangan Bung Karno di Bengkulu. Rumah dengan dua ruang tidur, satu ruang tamu dan ruang kerja serta ruang keluarga tersebut masih terawat dengan baik di bawah pengelolaan BPCB Jambi yang memiliki wilayah kerja di Provinsi Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan dan Bangka Belitung.
Pewarta :
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar