Logo Header Antaranews Sumsel

Pengamat harapkan tender pembangkit PLN transparan

Rabu, 28 September 2016 00:32 WIB
Image Print
Petugas tengah melakukan penggantian kabel di wilayah Musi II Palembang, Rabu (16/10). (Foto Antarasumsel.com/13/Feny Selly/Aw)

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengharapkan PT PLN (Persero) lebih profesional dan transparan mengenai tender mesin yang termasuk megaproyek pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW.

"Saya juga mengimbau PLN untuk berlaku transparan dengan membeberkan parameter dan indikator mesin yang digunakan dalam proyek berkapasitas 2x800 MW dalam tender proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap dan Gas (PLTGU) Jawa 1," kata Fahmy, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa.

Menurut Fahmy, dalam tender PLTGU Jawa 1, PLN melibatkan anak usahanya yakni PT PJB (PT Pembangkit Jawa Bali), dan bila digelar secara transparan, peserta tender lain memiliki efisiensi mesin, harga dan kompetensi yang lebih baik.

Untuk itu Fahmy meminta keterlibatan anak usaha PLN, PT PJB sebagai salah satu peserta tender, mesti disikapi PLN secara fair dan transparan.

Ia menilai kalau indikatornya kompetensi dan track record, maka ada konsorsium lain dengan mesin yg lebih efisien yang bisa memenangi tender.

"Setiap 1 persen efisiensi kontribusinya bisa 2 juta dolar AS per tahun. Apabila umur proyek 20-25 tahun, bisa dibayangkan berapa persen pemborosan uang negara," ujarnya.

Senada dengan itu, sebelumnya anggota DPR Komisi VII Kurtubi juga mengaku tidak setuju jika anak usaha PT PLN mengikuti tender megaproyek kelistrikan dengan melibatkan konsorsium yang di dalamnya ada perusahaan swasta asing Mitsubishi.

Menurutnya pembagian saham untuk PLTGU Jawa 1 tidak bisa dimiliki mayoritas PT PJB. "Persoalannya di situ ada swasta asing," ujar Kurtubi.

Ia mengakui lebih bagus jika PLN meminjam uang ke bank untuk menggarap sendiri proyek PLTGU Jawa 1, karena dengan begitu kepemilikan pembangkit listrik akan dikuasai 100 persen perseroan.

Menurut catatan, pembatalan tender PLTU Jawa 5 dan memilih anak usaha PLN yakni PT Indonesia Power sebagai pelaksananya dengan cara penunjukan langsung mendapat sorotan sejumlah kalangan.

Megaproyek 35.000 MW yang dicanangkan pemerintah bisa berjalan lancar dengan batas tenggat waktu sesuai yang telah direncanakan yakni 2019. Apalagi hal ini menjadi taruhan kinerja di masa kepemimpinanya saat ini.
Sebagai informasi peserta konsorsium PLTGU Jawa 1 diikuti empat konsorsium, yaitu konsorsium PT Pertamina, Marubeni, Sojitz, General Electric, konsorsium Medco, Korea Power Electric Corporation (Kepco) dan Nebras Power Qatar, konsorsium Mitsubishi, PJB, Rukun Raharja, dan konsorsium Adaro, Sembcorp.



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026