Logo Header Antaranews Sumsel

Mengikis "gap" pedagang pasar dengan bank

Senin, 14 September 2015 17:36 WIB
Image Print
Sejumlah pedagang mengakses pelayanan di Teras BRI Pasar Perumnas, Palembang, Sabtu. (Foto Antarasumsel.com/Dolly Rosana/15)
...Menabung di bank lebih rendah risikonya, misalnya terjadi penutupan bank maka dana yang disimpan akan dikembalikan melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)...

Bisnis bank keliling hingga kini tetap tumbuh subur di kalangan pedagang pasar meski lembaga jasa keuangan formal perbankan sudah demikian dekat dengan mereka.
Jasa keuangan ilegal ini tetap menjadi pilihan pedagang pasar, tak hanya karena kemudahan yang ditawarkan tapi karena kedekatan emosional yang terbangun sejak lama di antara keduanya.
Akibatnya kasus-kasus penipuan jasa bank keliling ini kerap terjadi, seperti yang dialami puluhan pedagang di Pasar Perumnas Palembang, Sumatera Selatan pada tiga pekan menjelang Lebaran, awal Juni lalu.
Tak seorang pedagang pun menyangka bahwa Meri, si penjual jasa bank keliling dengan reputasi baik selama 20 tahun ini akan kabur membawa semua uang yang ditabungkan kepadanya untuk kebutuhan Idul Fitri.
Cik Yen, penjual tahu di pasar tersebut yang dijumpai Sabtu (12/9), mengatakan, sama sekali tidak menyangka bahwa Meri akan bertindak setega itu mengingat sudah sangat 'dekat' dengannya.
"Saya malahan sering membantu dia sebagai tempat teman-teman menitipkan setoran. Tapi, kenyataannya saya juga tidak luput dari tipuannya," kata Cik Yen yang mulai berdagang sejak 10 tahun lalu ini.
Ia mengatakan telah lama mengenal Meri sehingga tidak sedikit pun terbersit kecurigaan, apalagi sudah beberapa kali tidak mendapatkan hambatan.
"Sialnya terjadi tahun ini, ada sekitar Rp2 juta uang saya yang raib, hasil tabungan selama tiga bulan secara harian. Bisa jadi, Meri mengalami kesulitan keuangan karena kondisi ekonomi yang turun sehingga banyak uang pedagang yang terpakai," ujar dia.
Setelah kejadian tersebut, Cik Yen mengaku jera berhubungan dengan jasa bank keliling. Tapi, ia pun dihadapkan persoalan baru yakni kesulitan untuk berdisiplin dalam menyisihkan uang.
"Dengan Meri ini sistemnya didatangi jadi mau tidak mau harus menabung Rp10 ribu atau Rp20 ribu setiap hari. Jadi tidak repot, nanti saat mau mengambil uang tinggal mengabari saja pada beberapa hari sebelumnya," kata dia.
Sejak tidak berhubungan lagi dengan jasa bank keliling, Cik Yen mengatakan tidak pernah menabung lagi, apalagi pelemahan ekonomi juga telah menggerus keuntungan hariannya.
"Pernah menabung sampai Rp500 ribu, dan disimpan di rumah, tapi akhirnya terpakai juga untuk kebutuhan rumah tangga. Sangat sulit untuk berdisiplin. Sementara untuk ke bank, rasanya malas, repot jika sekadar menabung Rp10 ribu atau Rp20 ribu," kata warga Jalan Keramasan Sako, Kelurahan Kemang Manis ini.
Sementara itu, Rita Apriana, pedagang lain yang juga tertipu mengatakan mulai memikirkan untuk menabung di bank yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
"Sementara ini saya menambung di rumah dulu Rp50 ribu per hari. Nanti jika sudah banyak baru disetor ke bank. Saya pun sudah ada rekening bank," kata warga Lorong Kavling, Kelurahan Sialang ini yang mengaku ditipu Rp6 juta.
Berbeda dengan Rita yang belum merealisasikan keinginannnya menabung di bank, Bambang Suparman, pedagang tempe yang juga mengalami nasib serupa mengatakan, sejak sebulan terakhir telah menabung di BRI.
"Mengapa harus mengulang kebodohan yang sama. Cukup satu kali saja, kini saya menambung di bank, pada bulan lalu bisa menyetor Rp2 juta. Tidak apa menyimpan sendiri dulu di rumah, tapi aman dan terjamin," kata Bambang.
Hingga kini, Budi yang tertipu hingga Rp14 juta ini masih berharap bahwa yang bersangkutan beritikat baik untuk mengembalikan uangnya.
"Memang rasanya tidak mungkin, apalagi Meri sudah menjual seluruh asetnya dan kabur entah ke mana. Tapi saya berharap polisi dapat membekuk Meri sehingga uang saya dapat dikembalikan," kata dia.

Unit bank
Lingkungan pasar sebenarnya sudah demikian dekat dengan perbankan jika diamati secara fisik karena sejumlah kantor unit bank pada umumnya berlokasi di sana.
Namun, menggaet perdagang pasar tradisional untuk mengakses bank bukan perkara mudah mengingat mereka selama puluhan tahun telah terbius oleh kemudahan yang ditawarkan jasa bank keliling.
Yulia Sulastri, pedagang bubur di Pasar Perumnas, Palembang, mengatakan beragam perabot rumah tangga didapatnya dengan cara kredit dengan bank keliling.
"Jika tidak ada Meri, mungkin saya tidak akan punya barang di rumah," ujar Yulia, yang tetap memuji Meri meski sudah ditipu Rp6 juta.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan Sumatera Selatan Patahudin mengatakan, kenyataan inilah yang membuat bank kesulitan meningkatkan penetrasi di pedagang tradisional.
"Pedagang ini baru jera saat sudah kena batunya, contohnya seperti sekarang ini banyak terjadi karena beberapa pemilik jasa bank keliling, arisan, dan koperasi ilegal dikabarkan lari dari tanggung jawab. Besar kemungkinan, ini disebabkan si penjual jasa mulai serat aliran dananya karena ekonomi sedang turun," kata dia.
Untuk itu, OJK mengimbau pedagang pasar untuk menabung di lembaga resmi yang sudah berbadan hukum karena dana yang disimpan sudah dijamin oleh pemerintah.
"Kesadaran harus dibangun meski jasa bank keliling menjanjikan bunga yang lebih tinggi dari bank. Menabung di bank lebih rendah risikonya, misalnya terjadi penutupan bank maka dana yang disimpan akan dikembalikan melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)," kata Patahuddin.
LPS menjamin simpanan nasabah sesuai acuan suku bunga yang ditetapkan pemerintah seperti untuk bank umum sebesar 7,75 persen, dan BPR 10,25 persen.
Menurut dia, kondisi ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan menggunakan jasa bank keliling yang sama sekali tanpa penjaminan.
"Ada kalanya, manusia itu terbentur masalah dengan uang. Sehingga sangat rawan sekali uang yang dikumpulkan itu disalahgunakan," kata dia.
Untuk itu, OJK gencar menggelar kegiatan sosialisasi produk jasa keuangan ke pedagang pasar karena kasus-kasus bank keliling sempat marak di masyarakat beberapa waktu lalu.
Menurut dia mendekatkan pedagang dengan bank secara fisik bukan perkara sulit karena pada umumnya bank memiliki unit cabang di setiap pasar.
Namun menjadi sulit bagi bank karena pedagang mengharapkan suatu layanan yang mudah seperti layanan jasa bank keliling.
"Mereka maunya, menabung Rp10 ribu atau Rp20 ribu per hari dengan tidak perlu pergi ke bank. Untuk itu, OJK mendorong bank mengeluarkan produk khusus ke pedagang pasar dengan cara menggandeng kelompok pedagang sebagai tempat mengumpulkan uang, misalnya," kata dia.
Sebenarnya, ada jasa perbankan yang sudah benar-benar dekat dengan pedagang yakni Teras BRI atau kantor unit yang ditempatkan di dalam pasar, layaknya seperti lapak pedagang.
Salah seorang petugas Teras BRI Pasar Perumnas, Annisa mengatakan setiap hari terdapat satu hingga dua orang pedagang yang membuka rekening sehingga total secara bulanan berkisar 30 rekening baru.
"Tak hanya melayani tabungan, juga membuka konsultasi untuk meminjam uang (kredit), nanti untuk meminta persetujuannya baru ke di kantor unit yang ada di depan pasar," kata dia.
Terkait produk tabungan, ia menjelaskan, BRI menerima mulai dari nominal Rp10 ribu.
"Tapi pada umumnya pedagang menabung berkisar Rp50 ribu. Ada yang datang setiap hari, tapi ada juga yang setiap pekan," kata dia.
Pimpinan Wilayah BRI Palembang Erdianto Sigit yang dijumpai pada peluncuran e-retribusi dan peninjaun teras BRI di Pasar KM 5, Minggu (13/9) mengatakan, teras BRI ini mulai diritis pada 2008 dan saat ini sudah tersebar di 20 pasar Kota Palembang.
"Teras ini merupakan cikal bakal dari BRI unit, yang didalamnya terdapat mantri yakni petugas yang akan menghimpun dana dan menyalurkan dana (kredit)," kata dia.
Ia menambahkan, sejauh ini pertumbuhannya cukup pesat seiring dengan semakin meningkatnya kepedulian pedagang pasar terhadap risiko penggunanan jasa bank keliling.
Untuk tiga provinsi yakni Sumsel, Bangka Belitung dan Jambi sudah mencapai 131 teras.
"Bukan hanya menabung yang akan difasilitasi, tapi juga bagi pedagang yang akan membenarkan usahanya karena saat ini ada kredit usaha mikro dengan bunga hanya 12 persen per tahun," kata dia.
Berdasarkan survei OJK pada 2013 diketahui bahwa perbankan memiliki penetrasi tertinggi di masyarakat dengan mencapai 21,8 persen (terdapat 22 orang dari seratus orang).
Meski sudah tertinggi jika dibandingkan sektor jasa keuangan lainnya, tapi masih dibutuhkan kreatifitas dan inovasi kalangan perbankan agar mampu menyentuh pedagang pasar tradisional sehingga gap yang ada ini menjadi terkikis dengan sendirinya.








Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026