Logo Header Antaranews Sumsel

KPU Sumsel sosialisasi Pemilu di kampus UBD

Kamis, 12 Desember 2013 22:49 WIB
Image Print
Komisioner KPU Sumsel bersama sejumlah akademisi setempat memberikan penjelasan mengenai Pemilu dalam acara "KPU Goes To Campus" di Universitas Bina Darma. (Foto Antarasumsel.com/13/Yudi Abdullah)
...Kekuatan suara pemilih pemula cukup besar sekitar 30 persen dari total pemilih di Sumsel yang mencapai sekitar 5,7 juta jiwa lebih, sehingga jangan sampai kekuatan tersebut tidak dimanfaatkan...

Palembang (ANTARA Sumsel) - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sumatera Selatan melakukan sosialisasi Pemilu Legislatif 2014 kepada mahasiswa yang merupakan pemilih pemula di Kampus Universitas Bina Darma (UBD) Palembang, Kamis.

Kegiatan sosialisasi yang dikemas dalam acara "KPU Goes To Campus" terselenggara atas kerja sama antara pengurus Radio Komunitas Universitas Bina Darma Palembang dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Selatan.

Dalam kegiatan sosialisasi Pemilu 2014 kepada pemilih pemula di lingkungan kampus perguruan tinggi swasta terkemuka di Palembang itu, tampil sebagai pembicara anggota KPU Sumsel Divisi Sosialisasi dan Kampanye Ahmad Naafi SH, MKn, akademisi Universitas Sriwijaya yang juga mantan anggota KPU Sumsel Drs Joko Siswanto MSi, dan akademisi Universitas Bina Darma yang juga mantan anggota DPR RI H.A.Truman SO Bakri SH, MHum.

Anggota KPU Sumsel Divisi Sosialisasi dan Kampanye Ahmad Naafi dalam kesempatan itu memberikan penjelasan kepada ratusan mahasiswa, dosen, dan tamu undangan lainnya tentang tahapan pemilu dan teknis penggunaan hak suara pada hari pemungutan suara 9 April 2014.

Tahapan Pemilu 2014 sekarang ini diantaranya menetapkan daftar pemilih tetap (DPT), dan memberikan kesempatan kepada para calon anggota legislatif (caleg) melalukan kampanye tertutup di daerah pemilihannya masing-masing.

Dalam proses pendekatan caleg kepada masyarakat calon pemilih, berpeluang terjadinya pelanggaran seperti memasang alat peraga kampanye sebelum masanya dan di luar zona yang ditetapkan.

Selain itu juga perlu diwaspadai aksi bagi-bagi uang atau yang dikenal `money politic" kepada masyarakat yang diharapkan menjatuhkan pilihannya kepada caleg dari partai politik tertentu pada saat pemungutan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Mahasiswa selaku pemilih pemula yang dikenal sebagai agen pembangunan dan kritis terhadap sesuatu penyimpangan yang terjadi di tengah-tengah kehidupan sosial, politik, dan bermasyarakat, diharapkan dapat berperan aktif menghentikan pelanggaran yang dapat mencoreng pelaksanaan pesta demokrasi rakyat lima tahunan itu

Untuk menghentikan pelanggaran itu, mahasiswa dengan sikap idealisme itu diharapkan tidak melayani caleg dari parpol tertentu yang melakukan "money politic" serta melaporkan aksi tersebut kepada KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) untuk diambil tindakan penertiban sesuai UU Pemilu.

Selain berperan aktif menghentikan praktik politik kotor, mahasiswa selaku pemilih pemula diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan menggunakan hak suaranya yang pertama kali dalam Pemilu Legislatif 9 April 2014 dengan baik sesuai dengan hati nurani, kata Naafi.

Sementara akademisi dan pengamat politik dari Universitas Sriwijaya Joko Siswanto mengatakan, mahasiswa harus berperan aktif dalam menyukseskan Pemilu 2014, karena dapat menentukan nasib bangsa lima tahun ke depan.

Kekuatan suara pemilih pemula cukup besar sekitar 30 persen dari total pemilih di Sumsel yang mencapai sekitar 5,7 juta jiwa lebih, sehingga jangan sampai kekuatan tersebut tidak dimanfaatkan untuk mendukung caleg dan partai politik yang memiliki kepedulian terhadap rakyat serta membawa kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik lagi, kata Joko.

Sedangkan menurut akademisi Universitas Bina Darma yang juga pernah menjadi anggota DPR RI era tahun 80-an H.A.Truman SO Bakri menambahkan, dalam kondisi politik di negara yang sedang mencoba menerapkan demokrasi secara luas, mahasiswa sebagai pemilih pemula dan generasi muda penerus bangsa harus mulai dari sekarang aktif mengawal perjalanan demokrasi bangsa ini sesuai dengan jalurnya.

Jika mahasiswa yang diharapkan menjadi pemimpin di masa depan tidak perduli dengan proses demokrasi dan justru ikut merusaknya dengan membiarkan politik uang dan bahkan tidak memanfaatkan hak pilihnya atau menjadi golongan putih (golput), bisa menghambat terwujudnya cita-cita para pejuang kemerdekaan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar dan sejahtera, ujar Truman.



Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026