
Nilai tukar petani Sumsel 109,10 persen

Palembang (ANTARA Sumsel) - Badan Pusat Statistik Sumatera Selatan menyebutkan nilai tukar petani provinsi ini pada September 2013 sebesar 109,10 persen, menunjukkan secara umum daya beli petani di daerah itu semakin membaik dibandingkan kondisi tahun dasar 2007.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan Baehdi Ruswana di Palembang, Jumat, mengatakan, nilai tukar petani (NTP) Sumsel pada September 2013 itu, meningkat 0,27 persen yang disebabkan peningkatan indek harga diterima petani lebih besar dibanding peningkatan indek harga dibayar petani secara umum.
Ia menyebutkan NTP tersebut diketahui berdasarkan pantauan harga-harga pedesan di 47 kecamatan yang tersebar di 11 kabupaten di Sumatera Selatan.
Dikemukakannya, NTP padi dan palawija di Sumsel bulan September 2013 tercatat 122,55 persen, menunjukkan bahwa petani padi dan palawija relatif sejahtera dibandingkan dengan tahun dasar 2007.
NTP padi dan palawija merupakan indikator untuk menunjukkan kemampuan daya beli petani.
Perkembangan nilai tukar petani padi dan palawija cukup berfluktuasi, namun kemampuan nilai tukarnya masih lebih baik dibandingkan tahun dasar 2007.
NTP padi dan palawija tersebut berasal dari perbandingan antara indek harga diteima petani terhadap indek harga dibayar petani untuk konsumsi rumahtangga dan biaya peroduksi.
Namun, bila dibandingkan dengan bulan Agustus 2013, NTP padi dan palawija September 2013 mengalami penurunan sebesar 0,35 persen, katanya.
Kemudian NTP hortikultura pada September 2013 sebesar 113,85 persen, berarti tingkat kesejahteraan petani hortikultura Sumsel lebih baik dibandingkan kondisi tahun dasar 2007. Namun bila dibandingkan dengan kondisi bulan sebelumnya, NTP hortikultura bulan September 2013 mengalami peningkatan sebesar 1,33 persen.
Ia mengatakan, peningkatan NTP hortikultura bulan September 2013 itu karena indek harga diterima petani mengalami kenaikan sebesar 1,81 persen, dan indek yang dibayar juga ada kenaikan sebesar 0,37 persen.
Komoditas hortikultura meliputi sayur-mayur dan buah-buahan, dimana pada September 2013 indek harga komoditi itu mengalami kenaikan masing-masing sebesar 1,04 persen dan 2,04 persen.
Selanjutnya, NTP perkebunan rakyat di Sumsel September 2013 mengalami defisit dengan nilai 91,07 persen, bila dibandingkan bulan sebelumnya mengalami peningkatan sebesar 0,77 persen.
Hal ini, kata dia, disebabkan karena indek harga diterima pekebun megalami peningkatan sebesar 1,26 persen dan indek harga dibayar juga mengalami kenaikan 0,49 persen.
Indek harga yang diterima petani tanaman perkebunan rakyat (pekebun) pada September 2013 sebesar 129,24 persen, sedangkan pada bulan sebelumnya hanya 127,63 persen. Peningkatan ini terutama karena naiknya penerimaan petani dari komoditi karet dan kopi biji kering.
Sementara, indek harga yang dibayar pekebun pada September 2013 sebesar 141,91 persen atau naik 0,49 persen. Indek harga dibayar pekebun menunjukkan perubahan pengeluaran akan barang dan jasa yang dikonsumsi petani, baik untuk konsumsi rumahtangga maupun biaya produksi, katanya.
Pewarta: Oleh Muhammad Suparni
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
