
Pelaku penembakan terhadap Polisi semakin mengerucut

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Pengungkapan orang tidak dikenal pelaku penembakan terhadap beberapa anggota kepolisian di wilayah hukum Polda Metro Jaya menjadi ujian berat bagi institusi "korps cokelat tersebut.
Sedikitnya tiga dari empat anggota kepolisian di wilayah hukum Polda Metro Jaya, meninggal dunia lantaran ditembak orang tidak dikenal dalam kurun waktu kurang dari sebulan.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Rikwanto mengatakan pengungkapan kasus penembakan misterius sudah hampir mencapai 100 persen.
"Proses penyelidikan mencapai 90 persen, tingga tunggu waktu," kata Rikwanto.
Rikwanto menuturkan penyidik kepolisian masih menyelidiki dengan berbagai cara, termasuk memeriksa sejumlah saksi, menganalisa proyektil maupun selongsong peluru, serta mengidentifikasi sepeda motor yang ditinggal pelaku penembakan.
Rikwanto menambahkan tim gabungan Polda Metro Jaya dan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri bergerak mencari pelaku ke Bandung dan Tasikmalaya, Jawa Barat.
Penyidik kepolisian berupaya mencari orang yang terakhir kali mengendarai sepeda motor yang digunakan untuk mengeksekusi pelaku penembakan terhadap dua anggota Polsek Pondok Aren di Jalan Graha Raya, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, beberapa waktu lalu.
Selain itu, penyidik juga menyelidiki dugaan senjata api dan peluru yang digunakan eksekutor untuk menembak polisi berasal dari Cipacing, Sumedang, Jawa Barat.
"Kami akan kembangkan perakit senjata yang menjurus kepada pelaku, karena hasil penelitian selongsong yang ditemukan di Pondok Aren berasal dari senjata api rakitan," ungkap Rikwanto.
Kejadiannya berawal saat seorang anggota Satuan Lalulintas Polres Metro Jakarta Pusat, Aipda Patah Saktiyono ditembak dari arah belakang oleh pengendara sepeda motor di Jalan Cireundeu Raya, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (27/7) sekitar pukul 04.30 WIB.
Korban ditembak pengendara sepeda motor misterius saat akan berangkat dinas dari rumahnya di Kampung Pondok RT 03 RW 03 Bojong Sari, Depok, Jawa Barat, menuju Gambir, Jakarta Pusat.
Aipda Patah mengalami luka tembak pada bagian dada sebelah kiri, namun nyawan korban terselamatkan setelah warga sekitar membawa ke rumah sakit terdekat, kemudian menjalani perawataan intensif di Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur.
Belum lama peristiwa penembakan misterius terhadap anggota Polri kembali terjadi, kali ini menimpa seorang petugas Satuan Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polsek Cilandak, yakni Aiptu Dwiatno yang meninggal dunia, usai ditembak orang tidak dikenal pada bagian kepala belakang di sekitar Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (7/8) sekitar pukul 05.00 WIB.
Seakan sengaja membuat teror terhadap aparat kepolisian, dua anggota Polsek Pondok Aren, yakni Bripda Maulana dan Aipda Kus Hendratma gugur saat menjalankan tugasnya, setelah ditembak pengendara motor misterius di Jalan Graha Raya Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (16/8) sekitar pukul 21.30 WIB.
Peristiwa penembakan yang terakhir terjadi berawal ketika Aipda Kus akan mengikuti gelar pasukan dalam rangka Operasi Cipta Kondisi di Markas Polsek Pondok Aren.
Kemudian, korban dipepet dua orang yang mengendarai sepeda motor jenis matik warna hitam dan melepaskan tembakan ke arah kepala bagian belakang Aipda Kus hingga tersungkur.
Saat kejadian, empat anggota Buru Sergap (Buser) Polsek Pondok Aren yang menumpang mobil Avanza, melihat peristiwa tersebut dan mengejar motor pelaku.
Mobil tersebut menabrak motor pelaku hingga terperosok dan terguling ke saluran pembuangan air, namun salah satu pelaku turun dari motor dan menghampiri mobil yang ditumpangi empat anggota Buser tersebut, lalu menembak supir mobil, yakni Bripda Maulana.
Pelaku sempat terlibat baku tembak dengan anggota Buser, namun pelaku melarikan diri dengan cara merampas motor milik petugas satuan keamanan yang kebetulan melintas, sedangkan sepeda motor yang digunakan pelaku ditinggalkan di sekitar lokasi kejadian.
"Berdasarkan keterangan saksi menyebutkan salah satu pelaku mengalami luka dengan meneteskan darah dan memegang senjata api," ujar Rikwanto.
Hingga saat ini, pihaknya Polri belum dapat memastikan peristiwa penembakan misterius terhadap anggota Polri itu, terkait dengan aksi kelompok teroris atau tidak.
Namun, Polda Metro Jaya dibantu anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri menelusuri dugaan keterkaitan kelompok teroris dengan rentetan aksi penembakan orang tidak dikenal terhadap empat anggota Polda Metro Jaya tersebut.
Rikwanto menduga pelaku mengetahui korban merupakan anggota Polri dari atribut yang digunakan, seperti helm bertuliskan "Polisi' dan seragam celana berwarna coklat tua, serta ciri kendaraan sepeda motor yang ditumpangi korban.
Pelaku juga telah mengetahui jalur korban berdinas menuju tempat tugasnya dan membuntuti sejak berangkat dari rumah hingga memutuskan menembak korban di lokasi yang dianggap aman dan mudah pelaku untuk melarikan diri.
Eksekutor penembakan juga diduga terlatih menggunakan senjata api, pasalnya dilakukan dari jarak dekat dengan sekali tembakan yang mematikan.
Sebar Sketsa Pelaku
Penyidik kepolisian intensif memeriksa sejumlah saksi mata yang sempat melihat pelaku penembakan di Pondok Aren, kemudian membuat dan menyebarkan sketsa wajah kedua pelaku.
Berdasarkan keterangan saksi, Rikwanto menyebutkan salah satu pelaku yang terlibat penembakan dua anggota Polsek Pondok Aren, mengalami luka dengan ciri postur tubuh kurus yang merampas dan mengendarai sepeda motor milik petugas satpam, sedangkan pelaku bertubuh gemuk berperan mengeksekusi.
Pelaku yang bertubuh gemuk diperkirakan berusia 30 tahun, tinggi badan sekitar 170 cm, rambut panjang, hidung besar dan mengenakan jaket parasut warna hitam, sementara pelaku yang kurus dalam sketsa digambarkan berusia kurang lebih 27 tahun, tinggi badan mencapai 168 cm, kulit hitam, bertubuh kurus, potongan rambut ikal tipis dan mengenakan kaos berkerah warna coklat.
"Kami menyebarkan sketsa wajah kedua pelaku melalui media massa dan pusat keramaian," ucap Rikwanto.
Sejumlah warga juga berperan aktif menyebarkan sketsa wajah pelaku penembakan terhadap anggota kepolisian, di daerah perbatasan Depok dan Bekasi (Jawa Barat), Tangerang (Banten) dan Jakarta Selatan.
Bahkan, warga bersedia mengeluarkan dana sendiri untuk memperbanyak sketsa wajah pelaku, menurut Rikwanto menuturkan hal tersebut membantu kepolisian mengungkap pelakunya.
Selain menyebarkan sketsa, pihak kepolisian telah menyebar dengan meningkatkan kegiatan operasi penyekatan dan razia di wilayah perbatasan, guna mengantisipasi kejadian serupa tidak terulang kembali dan mempersempit ruang gerak pelaku.
Upaya lainnya, Polda Metro Jaya berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengaktifkan peran aparat kecamatan, kelurahan hingga meningkatkan fungsi ketua rukun tetangga untuk mendata ulang terhadap warga yang menyewa rumah atau kosan, khususnya terhadap warga pendatang baru.
"Kalau tamu lebih dari 1 x 24 jam wajib melapor ke RT/RW, sehingga nanti bisa diketahui ada siapa saja di rumah kost atau kontrakan tersebut," ujar Rikwanto.
Selain itu, Babinkamtibmas juga diimbau untuk meningkatkan intensitas kegiatan sambangi warga, karena petugas Babinkamtibmas merupakan ujung tombak kepolisian yang dapat menginformasikan bila terjadi hal yang mencurigakan dari kegiatan masyarakat.
Selidiki Motor Pelaku
Upaya represif bakal dilakukan aparat kepolisian terhadap pelaku penembakan misterius tersebut dengan cara menangkap kemudian diproses secara hukum setelah penyidik berhasil menangkap pelakunya.
Proses penyelidikan untuk mengungkap pelaku berawal dari olah tempat kejadian perkara termasuk peristiwa penembakan yang di Jalan Graha Raya, Pondok Aren, dengan menelusuri dan mengidentifikasi sepeda motor milik tersangka yang ditinggalkan di lokasi kejadian.
Penyidik kepolisian juga menganilisa barang bukti yang ditemukan pada tiga lokasi kejadian, seperti selongsong dan proyektil hampir mirip dengan ukuran kaliber 9,9 milimeter yang biasa digunakan senjata api jenis FN atau Baretta, sehingga dugaan sementara pelaku dari kelompok dengan pola yang sama, yakni sasaran anggota kepolisian yang berseragam.
Pihak Polda Metro Jaya meminta warga menginformasikan keberadaan sepeda motor milik petugas satuan pengamanan (Satpam) yang dirampas dua pelaku penembakan untuk kabur, usai mengeksekusi dua anggota Polsek Pondok Aren.
"Apabila menemukan sepeda motor Honda Supra Tahun 2006 bernomor polisi B-6620-SFS segera hubungi ke nomor 0815-6334-6633," pinta Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Slamet Riyanto.
Slamet mengutarakan informasi warga yang mengetahui keberadaan motor milik satpam tersebut, akan membantu menangkap pelaku penembakan tersebut.
Sepeda motor tersebut milik petugas satpam hendak membantu pengendara motor yang dikira korban kecelakaan lalulintas, namun ternyata anggota kepolisian yang ditembak orang tidak dikenal.
Slamet juga mengimbau warga yang mengetahui sepeda motor merk Yamaha Mio bernomor polisi D-6632-WD, agar menginformasikan kepada petugas kepolisian.
Pihak kepolisian telah menelusuri identitas sepeda motor yang ditinggalkan pelaku di Jalan Graha Raya. Berdasarkan penyelidikan motor tersebut atasnama inisial N dari Tasikmalaya, Jawa Barat, namun petugas menghadapi kendala, karena motor itu diduga hasil penggelapan perusahaan jasa pembiayaan kendaraan (leasing) pada 2010.
Gerebek Pabrik Pembuatan Pistol Rakitan
Karena peristiwa penembakan marak di wilayah hukum Polda Metro Jaya, petugas kepolisian merazia kepemilikan senjata api, kemudian aparat menangkap seorang residivis terduga kasus terorisme berinisial IQ di rumah kontrakannya Jalan Mandor Hasan, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (20/8) malam.
Petugas menyita dua pucuk senjata api dan ratusan butir peluru dan mengamankan tiga orang teman IQ yang berada di dalam rumah saat terjadi penangkapan tersebut.
Kemudian, Polres Metro Jakarta Timur menerima laporan penemuan kardus berisi senjata api dan amunisi peluru yang diduga milik seorang pengunjung yang menginap di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Aris Widagdo.
Aris menginap bersama seorang wanita di Anjungan Jawa TMII dengan meninggalkan kartu identitas berupa Surat Izin Mengemudi (SIM) A pada Selasa (20/8).
Aris menitipkan kardus minyak goreng kepada pegawai anjungan sebelum meninggalkan (check out) dari tempat penginapan tersebut, Kamis (22/8).
Karena tidak kunjung mengambil barang titipan tersebut, seorang pegawai penginapan, Sugeng Purwanta memanggil petugas satuan keamanan padepokan TMII, Dalimin untuk membuka kardus tersebut, Jumat (23/8) sekitar pukul 01.30 WIB.
Saat membuka kardus tersebut terdapat sepucuk senjata api kaliber 9, 479 butir peluru kaliber 7,62, satu tas berisi alat pancing, lima butir peluru karet, lima butir selongsong, 20 butir peluru jenis lain, kerangka pistol dan benda lainnya.
Anggota Polda Metro Jaya meringkus Aris di Hotel Citra Papan 2 Jalan Raya Cipacing, Bandung, Jawa Barat, Jumat (23/8) sekitar pukul 20.30 WIB.
Dari tangan Aris, anggota kepolisian mengamankan tiga laras senjata api dan dua silinder Revolver.
Berdasarkan keterangan Aris dan aparat gabungan Polda Metro Jaya bersama Polda Jawa Barat dan Polres Sumedang menggerebek tempat yang diduga pabrik senjata api rakitan di Cipacing, Sumedang, Jawa Barat, Minggu (25/8) dinihari.
Dari penggerebekan itu, polisi membekuk lima orang, yakni DS, YM, YMT, JW dan BD sebagai pengrajin senapan angin yang diduga memasok senjata api kepada para pelaku teror dan pelaku penembakan terhadap aparat kepolisian.
Pewarta: Oleh: Taufik Ridwan
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026
