Logo Header Antaranews Sumsel

Pengamat: Media berperan tingkatkan pemilih pemula

Selasa, 4 Juni 2013 13:48 WIB
Image Print
Pemilih Pemula (Foto ANTARA/Reuters)

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Peran media massa diperlukan dalam upaya meningkatkan partisipasi pemilih pemula dengan memberikan informasi mengenai pentingnya memberikan hak suara pada pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, kata pengamat politik Sebastian Salang.

"Peran media bersama masyarakat sipil harus mampu memberikan pendidikan politik kepada anak-anak muda, bahwa berpartisipasi dalam pemilu adalah hak mereka dan di tangan mereka nasib bangsa ini ditentukan," kata Salang di Jakarta, Selasa.

Selain media, kelompok pegiat pemilu dan lembaga pendidikan juga perlu bersinergi untuk meyakinkan pemilih muda dalam menggunakan hak pilih mereka pada pesta demokrasi lima tahunan di Tanah Air.

"Sinergitas itu diperlukan, kalau tidak maka kita bersiap saja akan mengalami celah antargenerasi, seolah-olah pemilu itu urusan orang tua, bukan anak muda," tambahnya.

Oleh karena itu, penyampaian pendidikan politik kepada para pemilih pemula harus dilakukan sesuai dengan perkembangan teknologi informasi yang dimanfaatkan oleh kaum muda dalam memperoleh informasi.

"Dengan teknologi informasi yang berkembang pesat seperti sekarang ini, mereka bisa memanfaatkan itu untuk menilai kira-kira siapa calon yang pantas didukung," tutur Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) itu.

Salang menilai pendekatan politik yang dilakukan oleh parpol saat ini masih konvensional, sehingga kurang menyentuh aspirasi para pemilih pemula.

"Kebutuhan anak muda itu yang harus diperhatikan dan dijawab oleh parpol saat ini. Kalau parpol 'gagap' menangkap perkembangan kaum muda jaman sekarang, maka mereka tidak bisa menarik simpati pemilih pemula," jelasnya.

Kecendurungan partisipasi pemilih pemuda di pemilu, khususnya pemilihan umum kepala daerah (pilkada), menurutnya semakin merosot dengan angka partisipasi pemilih hingga di bawah 50 persen di sejumlah daerah.

Penurunan partisipasi pemilih tersebut disebabkan oleh skeptisisme dan sinisme kaum muda terhadap manfaat pemilu yang dirasakan secara langsung.

Para pemilih muda pun mulai merasa bahwa memberikan dukungan suara dalam pemilu, yang merupakan bagian dari sistem demokrasi di Tanah Air, merupakan hak yang bisa saja untuk tidak dilakukan.

"Ketika mereka tidak merasakan manfaatnya secara langsung, maka kemudian mereka memilih untuk tidak memilih. Baik pemilu nasional maupun pilkada trennya seperti itu," ujarnya.



Pewarta:
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026