Logo Header Antaranews Sumsel

Bank SumselBabel dalam pengawasan BI

Selasa, 7 Mei 2013 20:01 WIB
Image Print
Dirut Bank SumselBabel Asfan Fikri Sanaf (Foto Antarasumsel.com/13/Doly Rosana/Aw)

Palembang (ANTARA Sumsel) - Bank Sumsel-Babel masih dalam pengawasan Bank Indonesia meski telah mengalami penurunan rasio kredit macet dari 7,9 persen pada Oktober 2012 menjadi 4,8 persen pada akhir April 2013.

"Saat ini Bank Sumsel masih dalam kondisi 'warning' dari BI karena ditargetkan menembus angka empat persen hingga akhir tahun," kata Direktur Utama PT Bank Sumsel-Babel Asfan Fikri Sanaf seusai mengukuhkan kontingen Bank Sumsel-Babel pada Porseni X di Palembang, Selasa.

Ia mengatakann, untuk mengejar target itu, pihaknya membentuk tim yang khusus mengejar pada peminjam kredit agar mematuhi jadwal pembayaran.

"Harus ditegaskan di sini, bahwa kredit bermasalah ini terjadi disebabkan karena sektor rill yang mengalami gejolak pada 2012 menyusul anjloknya harga komiditi (karet dan sawit), jadi bukan karena peminjamnya yang melarikan diri," katanya.

Sementara, Sekretaris Perusahaan Faisol menambahkan, penyehatan rasio kredit bermasalah itu menjadi perhatian utama Bank Sumsel Babel sejak awal tahun.

Beberapa waktu lalu, pihaknya telah berdiskusi dengan perwakilan Bank Indonesia serta DPRD Sumsel mengenai permasalahan itu.

"Bank Sumsel sudah menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit yang berpatokan dengan aturan Bank Indonesia," katanya.

Namun, ia melanjutkan, sejak dikeluarkan aturan baru dalam Peraturan Bank Indonesia mengenai pembiayaan kredit tidak hanya dilihat kemampuan peminjam dalam membayar setoran pokok dan bunga tapi juga resiko usaha dalam lima tahun ke depan, membuat NPL kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) perusahaannya menjadi terjun bebas.

"Keadaan ini demikian memberatkan karena penyaluran kredit Bank Sumsel sebagian besar ke sektor pertanian karet dan sawit yang dipandang BI cukup beresiko. Setidaknya, terdapat Rp300 miliar dana yang tertahan di sana yang saat ini sedang dikejar pembayarannya," katanya.

Meski dalam situasi sulit, pihaknya optimitis mampu mengatasi permasalahan itu mengingat NPL sifatnya fluktuatif.

"Sebelum terjadi gejolak harga komiditi, NPL Sumsel masuk dalam kategori lancar yakni 2,8 persen," katanya.

Sementara, Asisten Direktur/Kepala Tim Pengawasan Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Wilayah VII Palembang, Achmad Darimy, beberapa waktu mengatakan, toleransi Bank Indonesia pada rasio kredit bermasalah berkisar 1-5 persen.



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026