Logo Header Antaranews Sumsel

Longsor menimbun putra bungsuku

Kamis, 17 Januari 2013 09:29 WIB
Image Print
Ilustrasi - Pencarian korban longsor akibat hujan lebat (FOTO ANTARA)
....Saya sudah berusaha menolong anak saya, menarik tangannya yang menggapai-gapai minta tolong, tapi air dan tanah terus masuk ke rumah hingga anak saya tertimbun longsor....

Bogor (ANTARA Sumsel) - Syamsudin (60) tekurap dilantai, dengan wajah tertunduk ditumpukan tangannya yang dilipat ke depan mukannya. Sesekali ia mengeryit menahan sakit saat petugas puskesmas mengoles luka lecet di betis kiri dan kanannya.

Pria tua itu terlihat rapi mengenakan baju koko warna kuning muda dan celana bahan warna coklat susu.

Luka lecet di kaki Syamsudin menjadi tanda, Selasa (15/1) pagi nan kelam. Ia berhasil selama dari longsor tanah yang menerjang rumahnya.

Meski demikian, ia tak mampu menahan kesedihan, putra bungsunya tewas tepat dihadapannya setelah tertimbun tanah.

"Saya sudah berusaha menolong anak saya, menarik tangannya yang menggapai-gapai minta tolong, tapi air dan tanah terus masuk ke rumah hingga anak saya tertimbun longsor," kata Syamsudin mencoba menceritakan peristiwa longsor yang terjadi pukul 06.00 WIB.

Pagi itu pukul 04.30 WIB, Syahrudin telah terjaga dan bersiap menuju Musola Lebok Bagong untuk menunaikan Shalat Subuh.

Usai Shalat, ia segera ke dapur memasak nasi dan menjarang sup untuk sarapan anak-anaknya.

"Saat itu di rumah hanya ada saya dan dua anak saya. Istri saya sudah berangkat kerja di Diklat SGA," katanya.

Nasi terjarang, Syamsudin mulai mengaduk sop sayur buatannya. Begitu matang ia segera mematikan api dari kompor gas di dapur.

"Pagi itu memang hujan, selesai masak saya dengar bunyi "bruk" kayak suara tanah rubuh," ujarnya.

Di kamar depan tengah tidur Herman, anak ke dua Syahrudin, sedangkan Suhendi (12) anak bungsunya sedang tidur di kamarnya.

Sementara itu, anak tertua Syamsudin sedang berada di rumah kerabatnya di lain desa.

Herman yang baru pulang bekerja sebagai satpam di SGA tertidur di kamar depan, berhasil keluar dari rumah saat longsor terjadi.

Sedangkan Syahrudin, yang berlari dari dapur mencoba menyelamatkan Suhendi yang tidur di kamarnya sambil minta tolong.

"Saya dengar anak saya minta tolong, separoh badannya sudah tertimbun tanah, saya coba mengeruh tanah, menggapai tangannya. Tapi air dan tanah terus turun sampai menimbun tubuh anak saya," katanya dalam kepiluan.

Syamsudin tidak dapat menyelamatkan anaknya, karena saat itu ia juga terjebak ditibunan tanah.

Ia beruntung, posisinya terbantu oleh kursi sehingga ia bisa tertahan sehingga lumpur tanah hanya menimbuh sampai badannya.

Sekitar jam 08.00 WIB, Tim SAR gabungan BPBD, TNI, Polres Bogor dan masyarakat berhasil mengevakuasi dua dari enam korban longsor di Kampung Legog Bagong.

Kedua korban adan Suhendri dan Harris (55) tetangga Syamsudin.

Suhendri ditemukan tewas setelah selama satu jam lebih tertimbun tanaha longsor.

Syamsudin pasarah, anak bungsunya dipanggil yang kuasa mendahalui dirinya.

"Saya mau bagaimana lagi, saya menjerit, menangis anak saya tidak bisa hidup lagi. Saya awalnya berharap saya saja yang mati duluan, ternyata anak saya malah. Padahal saya sudah pasrah saat longsor menimbun tubuh saya," katanya.

Evakuasi Longsor
Sekitar 250 personel gabungan dari BPBD Kabupaten Bogor dan Jawa Barat, anggota Polres Bogor, TNI, PMI dan sejumlah masyarakat bahu membahu bekerja sama mengevakuasi empat korban yang masih tertimbun hingga pukul 12.00 WIB.

Medan yang curam serta sempit, sehingga akses lokasi longsor tidak bisa dijangkau oleh alat berat.

Secara manual, menggunakan cangkul, mesin pemotong sinso dan skop tanah, Tim SAR bersama-sama mencari empat korban lainnya yakni Karminah (40), Ita (12), Ronny (25) dan Robby.

Tepat sekitar pukul 13.00 WIB, Tim sAR berhasil menemukan keempat jenazah yang tertimbun material longsor di dua titik berbeda.

Tiga jenazah Karmina, Ita dan Ronny merupakan satu anggota keluarga yang terdiri dari ibu dan anak, ditemukan saling berkumpul di kamar rumahnya.

Satu korban Robby ditemukan terpisah tak jauh dari tiga korban lainnya.

Cuaca Ekstrim
Menurut Kepala BPBD Kabupaten Bogor, Yoes Sudrajat, hujan yang turun Selasa itu tergolong ekstrim karena turun lebih dari delapan jam.

"Hujannya lebih dari delapan jam, ini tergolong ekstrim. Karena jika hujan terjadi lama di Bogor berpotensi terjadi bencana," katanya.

Selain longsor, hujan yang terus mengguyur Bogor sejak pukul 02.00 WIB juga menyebabkan debit air Bendung Katulampa meningkat hingga sempat mencapai level 210 cm.

"Masyarakt kami imbau waspada, khususnya yang tinggal di wilayah rawan bencana seperti longsor dan angin kenjang," katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Cipayung, Cacuh Budiawan mengatakan, desa Cipayung memiliki luas sekitar 335 hektar dengan jumlah kepala keluarga ebanyak 4.000.

Menurutnya, banyak lahan warga disana sudah dijual dan dibangun villa. Villa tersebut umumnya dimiliki oleh warga Jakarta.

"Masyarakat sini tidak punya villa, cuma kerja jadi penjangga villa. Yang punya villa orang Jakarta," katanya.

Maraknya pembangunan di kawasan Puncak dengan villa dan hotel membuat masyarakat asli terpinggirkan dan hidup di sekitar tebingan.

"Masyarakat menjual tanahnya, dengan iming-iming dapat duit mahal. Sehingga posisi warga makin terpinggir," katanya.

Desa Legok Bagong berada dibawah tebingan yang dibagian atasnya dibangun pusat Diklat Scurity SGA.

Tebingan tersebut berdiri dengan kemiringan sekitar 70 derjat, tinggi sekitar 50 meter dan tidak memiliki talud atau turap.

Bupati Bogor Rachmat Yasin menyampaikan kepada pemilik gedung Diklat Scurity SGA untuk membantu korban longsor dengan membangun turap di tebingan longsor Kampung Legong Batok, Desa Cipayung, Kecamatan Megamendung.

"Bagaimanapun, perusahaan SGA ini harus ikut bertanggungjawab, diharapkan mereka untuk membangun turap di tebingan ini," kata Bupati saat mininjau lokasi longsor yang menewaskan enam orang.

Selain itu, Bupati juga menginstruksi warga yang tinggal di pinggiran tebing dekat Diklat SGA yang mengalami longsor tersebut untuk diungsikan sementara guna mengantisipasi terjadinya longsor susulan.

"Lokasi longsor harus bersih dari warga. Tidak boleh dulu dihuni. Sampai talud di sekitar tebingan dibangun," katanya.

Lokasi longsor terjadi di pemukiman warga yang berada dibawah tebingan tanah setingga lebih dari 50 meter dengan kemiringan hingga 70 derjat.

Posisi rumah warga berada dibawah Diklat Scurity SGA yang hanya berbatasan tebing tanpa dibangun talud dan perpohonan.

Diduga air selokan yang ada di sekitar Diklat SG, di sekitar lapangan yang berada di pinggiran tebing bagian atas tersebut mapet. Sehingga menyebabkan tanah labih hingga terjadi longsor.

Tanah tebingan ambruk dan menimbun rumah warga, selain tanah di dalam tanah juga mengalir air cukup deras yang berasal dari selokan.

Peristiwa longsor di Kampung Legok Bagong menjadi yang pertama di 2013 dengan menelan enam korban jiwa serta 48 jiwa mengungsi. Sepanjang 2013 ini juga, debit Bendung Katulampa meningkat mencapai 210 cm. (ANT)



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026