
Perlindungan pekerja sektor informal di Sumsel

....Saya akan memberikan Askessos secara bertahap kepada seluruh pekerja informal di provinsi ini yang jumlahnya mencapai 1,3 juta orang....
Palembang (ANTARA Sumsel) - Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui Gubernur H Alex Noerdin menyadari kondisi perlindungan bagi pekerja sektor informal di daerahnya belum memadai.
Nasib pekerja yang tidak memiliki penghasilan tetap itu, perlu mendapatkan perhatian lebih besar dan lebih serius dari Pemprov Sumsel.
Karena itu, Gubernur Alex Noerdin berupaya mengembangkan suatu Sistem Jaminan Sosial sebagai perwujudan sekuritas sosial dan wahana pemeliharaan kesejahteraan sosial yang digagas Kementerian Sosial sejak beberapa tahun terakhir, untuk diterapkan di provinsi yang dipimpinnya itu.
Guna merealisasikan Sistem Jaminan Sosial itu, Pemprov Sumsel menggandeng PT Jamsostek untuk dapat mengikutsertakan pekerja sektor informal menjadi peserta Asuransi Kesejahteraan Sosial (Askessos).
Program Askessos itu diluncurkan Gubernur Sumsel Alex Noerdin di Griya Agung Palembang pada 19 September 2012 lalu.
Peluncuran itu disaksikan oleh Direktur Pelayanan PT Jamsostek Achmad Riadi, sekaligus menyerahkan kartu peserta Askessos perdana secara simbolis kepada beberapa pekerja informal daerah ini.
Alex Noerdin berjanji akan melindungi semua pekerja sektor informal di provinsi yang dipimpinnya itu dengan jaminan Askessos.
"Saya akan memberikan Askessos secara bertahap kepada seluruh pekerja informal di provinsi ini yang jumlahnya mencapai 1,3 juta orang," ujar dia.
Pada tahap awal Askessos baru diberikan kepada 3.510 pekerja sektor informal di 11 kabupaten dan empat kota di provinsi berpenduduk sekitar 8,5 juta jiwa ini.
Pekerja informal yang telah mendapatkan perlindungan asuransi itu, seperti para penggali kuburan, pembantu rumah tangga, tukang ojek, tukang becak, dan sopir perahu motor tradisional (perahu "ketek") yang biasa mangkal di perairan Sungai Musi.
Setelah melihat masih banyak pekerja sektor informal yang belum terlindungi Askessos itu, program tersebut pada 2013 ini akan dilanjutkan dengan jumlah peserta yang lebih banyak lagi, kata Alex Noerdin.
Dia menjelaskan, selama ini pekerja sektor informal tidak ada yang memperhatikan.
Bila mereka mengalami sakit atau kecelakaan kerja, keluarganya akan sulit untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mengingat pencari nafkah utama mereka itu tidak bisa lagi mendapatkan penghasilan seperti sebelumnya.
Namun setelah diikutkan menjadi peserta asuransi, beban keluarga pekerja sektor informal bisa sedikit lebih ringan saat tulang punggung pencari nafkah keluarga mereka mengalami halangan untuk dapat bekerja.
Bagi pekerja sektor informal yang telah tercatat sebagai peserta saat mengalami sakit atau kecelakaan kerja, akan diberikan pertanggungan asuransi dari Jamsostek berupa biaya berobat hingga Rp20 juta.
Seandainya meninggal dunia, ahli warisnya diberikan santunan sebesar Rp20 juta.
Khusus pekerja informal yang mengalami sakit parah dan membutuhkan biaya berobat yang lebih besar lagi, jika santunan Askessos itu telah dipakai secara maksimal sebesar Rp20 juta, Pemprov Sumsel akan memberikan tambahan biaya berobat melalui Program Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin) atau berobat gratis, kata Gubernur setempat pula.
Terus Kembangkan Askessos
Program Askessos di Sumatera Selatan yang diluncurkan pada September 2012 lalu, merupakan program perlindungan asuransi bagi pekerja sektor informal yang pertama dilaksanakan di Sumatera.
Sesuai janjinya, Gubernur Sumsel pada 2013 ini siap melanjutkan program tersebut dengan menjangkau masyarakat yang tidak memiliki penghasilan tetap itu lebih banyak dari tahun sebelumnya.
Pemprov Sumsel melalui Dinas Sosial setempat pada tahun ini mengalokasikan dana Asuransi Kesejahteraan Sosial untuk pekerja sektor informal itu sebesar Rp3 miliar.
"Dana sebesar itu dialokasikan untuk melindungi 28 ribu pekerja sektor informal di 15 kabupaten dan kota di sini," kata Kepala Dinas Sosial Sumsel Apriyadi.
Sesuai arahan Gubernur Alex Noerdin, pihaknya akan terus berupaya mengembangkan program Askessos bagi pekerja sektor informal yang selama ini kurang diperhatikan, dan sulit mendapatkan perlindungan asuransi karena tidak memiliki penghasilan tetap.
Selain mengalokasikan dana premi Askessos dari APBD Sumsel, untuk menjangkau pekerja informal yang lebih banyak lagi, pihaknya juga berupaya mendapatkan dukungan dana dari Kementerian Sosial.
Apriyadi menjelaskan, melihat masih banyak pekerja sektor informal yang belum bisa dilindungi Askessos dengan dana yang dialokasikan saat ini, pihaknya akan melakukan seleksi secara ketat dalam perekrutan peserta asuransi itu sehingga benar-benar jatuh ke tangan orang yang tepat.
"Kami sekarang ini tengah menyiapkan perekrutan peserta baru Askessos, dengan menetapkan persyaratan sebagai pencari kerja utama dalam sebuah rumah tangga dan memiliki penghasilan di bawah Rp800.000 per bulan," ujar dia lagi.
Program Askessos merupakan suatu sistem perlindungan untuk memberikan pertanggungan dan perlindungan sosial bagi masyarakat pekerja sektor informal terhadap risiko penurunan tingkat kesejahteraan sosial akibat pencari nafkah utama dalam keluarga meninggal dunia, sakit, atau mengalami kecelakaan kerja.
Sebagai salah satu upaya penanggulangan kemiskinan, Askessos diharapkan dapat berfungsi memberikan jaminan sosial, baik dalam arti mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan sosial maupun mencegah terjadi kemiskinan.
Pengembangan Program Askessos itu secara terus menerus, diharapkan dalam waktu tidak terlalu lama lagi, seluruh masyarakat Sumsel yang memiliki pekerjaan tidak tetap dengan penghasilan yang sangat minim dapat dilindungi dengan asuransi itu, kata Apriyadi menambahkan pula.
Kehadiran Program Askessos yang diluncurkan Gubernur Alex Noerdin pada tahun 2012 lalu ini, benar-benar seperti memberikan angin surga bagi para pekerja sektor informal yang semula dianggap tidak mungkin, telah dapat diwujudkan.
"Kami selama ini sangat menginginkan mendapatkan perlindungan asuransi, namun karena pekerjaan kami serabutan dan tidak memiliki lembaga yang menaungi sebagai salah satu persyaratannya, keinginan itu selama ini hanya sekadar mimpi," ujar Romli, salah seorang petugas penggali kubur di kawasan TPU Naga Swidak Palembang.
Menurut dia, dengan adanya Askessos yang diluncurkan Pemprov Sumsel dalam setahun terakhir, keluarganya merasa lebih tenang.
Dia mengaku, selama ini keluarganya sangat cemas ketika dirinya mengalami kecelakaan kerja dan harus istirahat dalam waktu yang cukup lama.
"Bayangkan betapa cemasnya keluarga saya melihat orang yang menjadi tulang punggung keluarga tiba-tiba mengalami kecelakaan kerja, sementara tidak ada orang lain yang bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sebagai pengganginya," ujar dia pula.
Akibat kondisi itu, untuk menyambung kehidupan keluarga itu, selama tulang punggung keluarga tidak bisa bekerja dan tidak ada penghasilan lain, terpaksa harus menjual barang yang masih ada di rumah, bahkan menantikan belas kasihan tetangga atau mencari pinjaman kemana-mana.
Setelah menjadi peserta Program Askessos ini, kecemasan itu sudah tidak "menghantui" keluarganya lagi, mengingat bila terjadi kecelakaan kerja atau menderita sakit bahkan sampai meninggal dunia sekali pun, keluarga akan menerima santunan yang dapat digunakan untuk biaya penopang kehidupan sehari-hari.
Dia berharap, Askessos yang sudah berjalan ini dapat terus dilanjutkan oleh Pemprov Sumsel, agar manfaat perlindungan asuransi yang baru dinikmati sebagian kecil pekerja sektor informal itu dapat dinikmati semua rekan pekerja senasib.
Harapan itu kini semakin mengemuka, agar kondisi perlindungan bagi para pekerja sektor informal di Sumsel menjadi semakin membaik. (ANT-Y009)
Pewarta: Yudi Abdullah
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
