Logo Header Antaranews Sumsel

Demam berdarah mulai memakan korban

Kamis, 3 Januari 2013 19:54 WIB
Image Print
Ilustrasi nyamuk penyebab penyakit DBD (Foto istimewa/13)
...Korban meninggal tersebut terserang penyakit antara tiga sampai empat hari yakni dua warga Desa Sripendowo, tiga warga Desa Legundi, satu warga Desa Sidoasih dan satu warga Pematangpasir...

Kalianda, Lampung (ANTARA Sumsel) - Sebanyak tujuh warga dari empat desa di Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung meninggal dunia akibat penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang menyerang daerah itu dalam sepekan terakhir.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Puskesmas Kecamatan Ketapang, Herwin, di Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Kamis. mengatakan, korban meninggal tersebut terserang penyakit antara tiga sampai empat hari yakni dua warga Desa Sripendowo, tiga warga Desa Legundi, satu warga Desa Sidoasih dan satu warga Pematangpasir.

Ia menyebutkan, warga yang meninggal itu semuanya adalah anak-anak dengan usia dibawah 15 tahun, yakni Cut Khaerani Asri (9), Lulut Suastika (11), Khusnul Salima (7), Destri Yuniar (4), Wulan Amelia (4), M Baim (9), dan Rizki (3,5) yang meninggal saat dirawat di rumah sakit setempat.

"Sebagian masih mendapat perawatan di rumah sakit di Kalianda dan Bandarlampung," kata dia.

Herwin mengatakan, kecamatan itu merupakan daerah endemis penyebaran penyakit demam berdarah karena angka bebas jentik nyamuk masih sangat rendah sekitar 80 persen, sedangkan standarnya 90 persen. Artinya dari seratus rumah sekitar 15 sampai 20 rumah belum terbebas dari jentik nyamuk.

Tahun lalu, lanjut dia, serangan serupa juga terjadi terjadi yang menyebabkan satu warga meninggal sehingga saat ini statusnya sudah menjadi kejadian luar biasa (KLB) dan sekarang sebanyak tujuh warga meninggal dunia sedangkan Desember 2012 sebanyak 30 kasus serangan penyakit itu.

Sementara itu, Sri Handayani (35) ibu korban meninggal Cut Khareani Asri mengatakan, sebelum putrinya meninggal dia bersama tiga orang anaknya terserang penyakit tersebut sejak pertengahan Desember 2012 secara bergantian dan selama itu pula masuk rumah sakit secara bergantian.

Namun, tindakan pencegahan tidak dilakukan maksimal oleh petugas kesehatan setempat, sehingga sejumlah warga terserang secara bergantian namun tidak ada penanganan dari pemerintah setempat.

"Petugas kesehatan baru ramai berdatangan melakukan pengasapan di daerah kami setelah ada korban," kata dia, di hadapan Bupati Lampung Selatan, Rycko Menoza SZP saat mengunjunginya.

Menurut dia, pihak dari dinas kesehatan tidak langsung turun menangani meskipun sudah melapor karena petugas menunggu hasil pemeriksaan dari pasien untuk memastikan positif tidaknya serangan DBD itu, dampaknya tujuk warga pun meninggal karena lambannya penanganan itu.

Hal senada juga disampaikan oleh Sucipto, orang tua Lulut Sartika yang mengatakan penanganan anaknya di rumah sakit jugas sangat lamban dan sejumlah petugas menganggapnya hanya penyakit biasa meskipun sudah buang air mengeluarkan darah.

Menurutnya, anaknya meninggal setelah empat hari terserang penyakit itu yang ditandai dengan demam tinggi kemudian panasnya menurun dan petugas rumah sakit menganggap fase penyembuhan namun ternyata suhu tubuh kembali panas dan akhirnya meninggal dunia.

"Tahun sebelumnya satu orang meninggal seharusnya dinas kesehatan sudah tahu kalu kecamatan ini merupakan daerah endemis DBD hingga perlu penanganan serius setiap memasuki musim penghujan," kata dia menerangkan.

Sementara itu, Bupati Lampung Selatan Selatan Rycko Menoza SZP membenarkan bahwa ada KLB demam berdarah di kecmatan itu dan merenggut tujuh warganya.

"Tujuh warga yang meninggal dari empat desa di Kecamatan Ketapang," kata dia saat mengunjungi korban meninggal dunia di Desa Legundi kemudian mengunjungi keluarga korban lain di Desa Sripendowo, Kecamatan Ketapang.

Ia menjelaskan, penangan itu sebenarnya tidak lamban karena proses penanganan itu prosedurnya selain ada laporan juga adanya pemeriksaan atau uji penyakit itu secara klinis untuk menerjunkan tim ke lokasi serangan penyakit.

Bupati mengharapkan, sejumlah warga di daerah lain hendaknya berhati-hati dengan menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari serangan penyakit mematikan ini.

Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza SZP didampingi Kepala Dinas Kesehatan setempat, Armen Patria, mengunjungi korban meninggal di Desa Legundi kemudian keluarga korban di Desa Sripendowo yang meninggal dua hari lalu.

Selain memberikan bantuan, Bupati juga mendengarkan keluhan dari warga yang kecewa terkait lambannya tindakan pemerintah setempat dalam menangani serangan penyakit itu hingga merenggut tujuh nyawa anak di daerah itu. (ANT)



Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026