Logo Header Antaranews Sumsel

Program KB nyaris stagnan

Sabtu, 29 Desember 2012 17:27 WIB
Image Print
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional(BKKBN) (Antarasumsel.com/logo/Ist)
...Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukan kinerja program KKB selama lima tahun (2007-2012) berjalan stagnan...

Jakarta (ANTARA Sumsel) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus menggalakkan program KB di Indonesia khususnya di sepuluh provinsi penyangga yang menjadi fokus utama agar tidak berjalan stagnan.

"Sepuluh provinsi tersebut adalah Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI

Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung dan Sulawesi Selatan," kata Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN Sudibyo Alimoeso di Jakarta, Sabtu.

Sudibyo menjelaskan, Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukan kinerja program KKB selama lima tahun (2007-2012) berjalan stagnan.

"SDKI 2012 menunjukan perjalanan KB selama lima tahun stagnan. Akibatnya, target pembangunan milenium (MDGs) pada 2015 nanti hampir mustahil tercapai," katanya.

SDKI merupakan survei statistik kesehatan/kependudukan yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap lima tahun sekali.

Untuk mengatasi hal tersebut, kata Sudibyo, perlu dilakukan sejumlah perubahan strategi dalam pelaksanaan KB ke depan.

Dia mencontohkan adanya peserta KB aktif (contraceptive prevalence rate-CPR) tinggi namun rata-rata wanita subur yang melahirkan (total fertility rate-TFR) tidak juga turun. Ini menunjukan strategi KB sebelumnya perlu dimodifikasi.

"Idealnya jika peserta KB kebanyakan menggunakan kontrasepsi jangka pendek, maka upaya pembinaan harus kuat. Idealnya petugas dan kader aktif membawakan pil KB serta mengingatkan peserta untuk mengulang suntik setiap tiga bulan pada peserta," katanya.

Selain CPR, SDKI 2012 mencatat TFR pada tahun ini masih berada di kisaran 2,6 per perempuan usia subur. Ini artinya rata-rata TFR 2012 masih sama dengan 2007 dan gagal mencapai target 2,4 pada tahun ini.

Karena itu, BKKBN juga akan melakukan penggarapan yang kuat terhadap remaja. Sebanyak 62 juta remaja di Indonesia saat ini sangat potensial melahirkan. Ini sudah dibuktikan dalam SDKI 2012, di mana remaja 20-24 tahun, khususnya di desa-desa saat ini sudah menjadi ibu.

"Ini menunjukkan bahwa usia pernikahan sudah semakin dini. Padahal target awal adalah 30 per 1000 pernikahan. Ini mengingat tingkat pernikahan awalnya mencapai 35 per 1000 naik menjadi 41 per 1000 pernikahan. Ini pekerjaan berat," kata Sudibyo.

Lebih jauh Sudibyo mengatakan, dengan KB yang stagnan, otomatis target MDGs seperti penurunan angka kematian ibu bakal sulit dicapai Indonesia.

"Ke depan, agar KB bisa kembali bangkit, tidak bisa lain peran pemerintah daerah harus lebih ditingkatkan. Pasalnya sejak otonomi daerah diberlakukan, sesuai undang-undang urusan KB mutlak menjadi urusan kab/kota dan sepuluh provinsi penyangga akan menjadi fokus utama penggarapan KB," katanya.
(ANT-W004)



Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026