Logo Header Antaranews Sumsel

Pilih bus kota atau transmusi?

Minggu, 2 Desember 2012 13:48 WIB
Image Print
Sejumlah penumpang tengah menunggu bus transmusi di halte Ampera 16 Ilir Palembang, Kamis (8/11). (Foto Antarasumsel.com/Feny Selly)
....Sesungguhnya, mengerikan naik bus kota tetapi jasa transportasi lainnya justru belum bisa dijangkau secara merata....

"Dije! matiin lampunya"! suara itu terdengar samar di antara hentakan musik yang memekakkan telinga ketika memasuki sebuah bus kota jurusan Perumnas-Plaju Palembang.

Saat baru saja duduk di salah satu kursi kosong dengan hanya beralaskan besi tua yang berbau karat, seorang anak mendekati dan meminta sedekah.

Minta duit seribu bu! belum makan, bu minta duit seribu mau makan, kata lelaki kecil berusia sekitar enam tahun itu.

Sang anak jalanan tersebut berkeliling dari satu penumpang ke penumpang lain yang jumlahnya tak sampai sepuluh orang.

Siti (44) salah seorang penumpang mengaku sampai sekarang masih setia menggunakan bus kota meski sudah dioperasikan bus transmusi yang lebih nyaman dan aman.

Bus kota bisa berhenti dimana saja dan lebih mudah menjumpainya ketimbang jasa transportasi lain dan ongkosnya Rp2.500 per penumpang jarak dekat.

Namun, memilih bus kota sungguh berisiko karena bukan hanya armadanya yang sudah tua tetapi pengemudi kerap ugal-ugalan.

Dia mengatakan kadang-kadang kaki baru sebelah menginjak lantai bus, pengemudi sudah tancap gas kendaraan tersebut secara mengejutkan.

Kalau saja belum terbiasa menumpang bus mungkin sering terjerembab, apalagi pengemudi juga kerap dijumpai menyetir sembari meminum minuman beralkohol.

"Sesungguhnya, mengerikan naik bus kota tetapi jasa transportasi lainnya justru belum bisa dijangkau secara merata," katanya.

Tidak semua pengemudi bus kota ugal-ugalan, hanya segelintir anak muda yang biasanya menggantikan sopir utama mengendara sarana transportasi tersebut, kata Abah (56).

Sekitar 15 tahun mengemudi bus kota jurusan Ampera - Bukit Besar belum pernah terjadi keluhan penumpang kehilangan barang atau kecopetan.

Pengguna jasa bus kota aman-aman saja karena sebagai sopir tentunya bertanggung jawab menjaga keamanan penumpang.

Ia mengatakan kondektur yang menjadi rekan kerjanya pun bukan orang lain tetapi memang dikenal.

"Biasanya, saya mengajak anak atau keponakan bergantian menjadi kondektur sehingga benar-benar tau siapa rekan kerja," ujarnya.

Meski membantah kalau setiap bus kota pengemudinya ugal-ugalan dan rawan tindak kriminalitas.

Kondisi bus yang tua dengan bau karat menyengat dan kaca jendela yang pecah di sana sini dibenarkan lelaki tua itu.

Ia mengaku dirinya bingung harus bekerja apa kalau nanti bus kota benar-benar dihapuskan beroperasi di Ibukota Bumi Sriwijaya ini.

Usia renta dan hanya mempunyai keahlian menyetir membuat dia tak percaya berkesempatan mendapat pekerjaan baru.

Padahal sebagai kepala rumah tangga, bertanggung jawab memenuhi kebutuhan hidup layak anak dan istri.

Dengan menyetir bus kota bisa membawa pulang sekitar Rp100.000 per hari.

Bahkan ketika bus kota masih menjadi primadona tak kurang dari Rp250.000 per hari upah mereka dapatkan. Jumlah bus kota sampai kini memang terus berkurang.

Pemkot Palembang mengeluarkan kebijakan bus-bus tua tidak layak beroperasi tak lagi diizinkan melayani penumpang dalam kota.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Palembang, Masripin mengatakan kini jumlah bus kota tua yang beroperasi semakin berkurang.

Sebelumnya, tak kurang dari 600 unit armada bus beroperasi di kota pempek melayani sejumlah jururan.

Secara bertahap kebijakan pengurangan sarana transportasi layak akan dilakukan.

Dia menjelaskan, bus yang beroperasi hanya boleh sebatas usia 10 tahun kalau lebih tidak diberikan izin trayek lagi.

Karena itu, sampai kini jumlah bus kota yang beroperasi tidak lebih dari 300 unit.

Pembatasan operasional bus tua tersebut sebagai upaya memberikan pelayanan jasa transportasi yang berkualitas kepada masyarakat.

Bus harus nyaman, aman dan tentunya bebas pencemaran lingkungan dengan ongkos juga murah.

Angkutan nyaman
Sekarang tak perlu takut lagi menelpon di atas transportasi umum.

"Kalau menggunakan bus kota, penumpang takut mengeluarkan telepon genggam dan memasukan barang tersebut ke bagian paling dalam tas," kata Wali Kota Palembang, Eddy Santana Putra.

Sejak beroperasinya bus rapid transportation atau transmusi kini penumpang bisa berkomunikasi dengan aman dan nyaman ketika menumpang bus itu.

Setiap kali menumpang transmusi, senang sekali melihat pengguna jasa angkutan massal bisa nyaman bertelpon.

Sebelum transmusi beroperasi warga kota hanya memanfaatkan bus kota dan angkutan perkotaan yang kurang nyaman serta tak dijamin keamannya.

Sejak, Februari 2010 bus transmusi telah beroperasi yang diawali hanyamelayani dua koridor yaitu Alang-alang Lebar-Ampera dan Sako-PIM.

Beroperasinya transmusi juga akan mengurangi pencemaran karena armada bus disiapkan berbahan bakar gas.

Pemkot terus berupaya mendorong angkutan massal yang aman, nyaman dan minim pencemaran.

Secara berkelanjutan program transportasi publik akan terus dikembangkan.

Direktur Utama PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya, Bahder Johan mengatakan saat ini penumpang transmusi mencapai 20.000 penumpang dengan tarif Rp4.000 per orang.

Transmusi kini telah menjadi pilihan utama warga Palembang. Sebanyak 120 unit bus transmusi yang telah beroperasi melayani delapan koridor.

Tahun depan ditargetkan penambahan 30 unit armada ukuran besar. Dari 120 unit bus transmusi yang kini beroperasi 80 unit ukuran sedang dengan kapasitas 25 penumpang.

Sedangkan 40 unit armada bus transmusi mampu mengangkut lebih dari 40 penumpang duduk dan berdiri.

Bukan hanya armada yang akan ditambah tetapi pembangunan halte dan koridor baru juga dilakukan untuk mendukung terealisasinya transportasi massal yang nyaman, aman, dan murah serta berwawasan lingkungan. (NE*I016)



Pewarta:
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026