Memasuki sebuah warung bakso di kawasan Jalan Dwikora Palembang sejumlah pembeli kaget dan langsung bertanya, "Dek, kok harga bakso naik?.
Lelaki tanggung dengan logat Jawa yang kental langsung menjawab, iya sekarang bakso naik menjadi Rp12.000 per porsi.
Jika dibandingkan harga sebelumnya Rp10.000 per mangkok tentunya kenaikan lumayan tinggi Rp2.000.
Adalah Ani (32), salah seorang pedagang bakso mengaku sangat kaget ketika tak bisa membeli daging. Selama 10 tahun berjualan bakso baru kali ini kesulitan mendapatkan daging sapi.
Tepatnya, Kamis dan Jumat pekan lalu sama sekali tidak tersedia daging sapi di pasar tradisional. Dua hari itu mendadak daging sapi menghilang di pasar.
Dia menjelaskan, dua hari berkeliling mencari daging sapi karena pedagang langganan mereka tak berjualan.
Meski telah berkeliling ternyata tak satu pun pedagang daging yang
berjualan selama dua hari itu.
Akibatnya, Jumat (16/11) warung bakso tutup sementara.
"Kami terpaksa tutup karena tak ada daging yang bisa diolah menjadi bakso," ujar dia.
Padahal selama ini sedikitnya 50 kilogram daging sapi yang merupakan bahan utama bakso dibutuhkan setiap hari.
Tetapi kini harga daging pun mahal mencapai Rp100.000 per kilogram.
Produksi bakso yang mereka hasilkan pun berkurang begitu juga dengan penjualan makanan itu menurun.
Bakso merupakan salah satu makanan yang paling digemari warga Kota
Palembang meskipun di daerah ini banyak makanan khas yang juga lezat.
Bakso berbahan utama daging sapi giling dengan campuran sedikit tepung dan bumbu penyedap.
Makanan ini disajikan dengan tambahan mie kuning dan mie putih serta kuah panas yang berbumbu khas Indonesia.
Di Palembang pasokan daging sapi mencapai 11.000 kilogram per hari. Daging tersebut sebagian besar memenuhi kebutuhan pedagang bakso, sisanya untuk restoran dan sedikit dijual kepada warga.
Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kota Palembang, Sudirman Teguh mengatakan menghilangnya daging di pasar tradisional pekan lalu akibat pengurangan pasokan sapi.
Pedagang daging mogok memotong ternak memprotes pengurangan pasokan sapi dan harga melambung.
Biasanya di Kota Pempek sebanyak 55 ekor sapi dengan berat daging sekitar 200 kilogram per ekor dipotong setiap hari.
Tetapi sejak awal pekan lalu terjadi pengurangan pasokan sapi yang berasal dari Lampung.
Dia menjelaskan, Palembang sangat bergantung dengan pasokan sapi dari daerah lain. Sebab, Palembang dan Sumsel umumnya tidak ada peternakan sapi yang bisa memenuhi kebutuhan daging masyarakat setempat.
Sejauh ini, Sudirman menambahkan, daging sapi mayoritas untuk mencukupi kebutuhan pedagang bakso dan restoran. Sedangkan warga umumnya masih sedikit membeli daging sapi secara rutin.
Selain pasar tradisional, pasokan daging sapi juga diperoleh dari pasar modern tetapi sebagian besar hanya menjual daging beku yang tidak menjadi pilihan pedagang bakso.
Tergantung impor
Kebijakan pengurangan impor sapi juga menjadi penyebab berkurangnya pasokan sapi.
Bukan hanya Palembang yang kekurangan tetapi sejumlah daerah di negeri ini juga mengeluhkan hal yang sama.
Sudirman Teguh mengatakan kebijakan pengurangan impor sangat berpengaruh terjadap stok daging sapi.
Tak bisa dipungkiri pasokan utama daging sapi masih berasal dari impor sapi sehingga ketika dikurangi maka wajar saja kalau mendadak pedagang berhenti berjualan.
Di Ibukota Bumi Sriwijaya saja sampai kini pasokan daging sapi belum normal.
Setiap hari biasanya 55 ekor sapi dipotong namun kini hanya 34 ekor sapi.
Meskipun berasal dari Lampung tetapi hewan ternak itu sebagian besar berasal dari luar negeri, seperti Australia.
Sapi impor menjadi primadona karena memang dagingnya lebih banyak satu ekor rata-rata 200 kilogram.
Sementara sapi lokal dagingnya cenderung sedikit sehingga tidak diminati pedagang.
Kebijakan pemerintah mengurangi impor sapi dari 100 ribu ton menjadi 34 ribu ton tahun ini menjadi faktor utama kelangkaan daging.
Sebenarnya, masalah kekurangan daging sapi ini tidak akan terjadi di Sumatra Selatan kalau program sapi-sawit serius dilaksanakan.
Integrasi perkebunan sawit dengan pengemukan sapi telah diluncurkan Pemprov Sumsel beberapa waktu lalu.
Sejak tahun 2009 sebanyak 200 ekor sapi asal Negeri Kangguru telah
dikembangkan di perkebunan sawit plasma tetapi gagal.
Selanjutnya, tahun 2011 dan 2012 masing -masing 400 ekor per tahun disuplai sapi bali ke perkebunan sawit plasma.
Potensi program sapi sawit Sumsel mencapai 300.000 hektare dengan asumsi mampu menghasilkan 600.000 ekor sapi karena per satu hektare dua ekor sapi.
Namun, sejak tahun 2009 program sapi sawit belum optimal karena baru sekitar 25 persen saja terealisasi.
Dalam kondisi demikian, tiba-tiba daging impor menghilang di pasaran, sementara produksi daging sapi lokal masih terlalu jauh dari kebutuhan. Salah satu penerima dampaknya adalah pedagang bakso. (ANT-NE)
