
Saatnya sampah tidak dibuang percuma

....Gerakan gotong royong mebersihkan sampah di saluran air dan kawasan permukimam penduduk secara umum perlu digalakkan kembali....
Palembang (ANTARA Sumsel) - Selagi roda kehidupan ini masih berputar, manusia terus memproduksi sampah baik sampah organik maupun anorganik.
Sebagai material sisa atau barang yang tidak diinginkan tentunya tidak ada yang mau menyimpan sampah berlama-lama di rumah atau di suatu tempat beraktivitas karena menimbulkan kesan kotor dan bau kurang sedap.
Karena menimbulkan kesan kotor dan bau kurang sedap, tidak banyak masyarakat yang mau mengelolanya padahal sampah masih bisa memberikan manfaat dan nilai ekonomis.
Berdasarkan kondisi tersebut hingga kini sampah menjadi permasalahan terutama di kota-kota besar tidak terkecuali Kota Palembang yang menjadi ibu kota provinsi Sumatera Selatan itu.
Sekretaris Dearah Kota Palembang Husni Thamrin, pekan ini, mengatakan bahwa sampah masih menimbulkan permasalahan di kota yang telah beberapa kali menerima Piala Adipura ini.
Sampah masih menimbulkan permasalahan karena kesadaran warga kota setempat masih rendah terbukti hingga kini cukup banyak yang sering membuang sampah sembarangan seperti di selokan, sungai, dan jalan protokol.
Sampah yang dibuang sembarangan itu menimbulkan masalah terutama pada saat musim hujan seperti sekarang ini.
Akibat sampah dibuang sembarangan, pada saat hujan lebat mengguyur Bumi Sriwijaya ini beberapa kawasan permukiman penduduk dan jalan protokol sering tergenag air hujan yang bisa mengakibatkan kerugian materi serta menghambat aktivitas warga kota.
Sampah terutama yang anorganik bisa menyumbat saluran air yang ada di sekitar kawasan permukiman dan pinggir jalan.
"Saluran air yang dipenuhi sampah, tidak bisa mengalirkan air hujan dengan lancar sehingga bisa mengakibatkan timbulnya genangan di mana-mana," kata Sekda.
Berdasarkan perhitungan petugas Dinas Kebersihan Kota Palembang, sampah dari rumah tangga dan kegiatan usaha volumenya mencapai 600 ton per hari bahkan pada momentum tertentu misalnya musim buah-buahan atau hari besar keagamaan volumenya bisa lebih banyak lagi.
Pengelolaan sampah tersebut tidak mungkin bisa dilakukan hanya oleh petugas kebersihan sendiri yang jumlahnya terbatas, untuk itu partisipasi warga kota ini sangat diharapkan sehingga sampah tidak lagi menjadi penyebab utama tejadinya "banjir" pada saat hujan lebat mengguyur kota ini.
Gerakan gotong royong mebersihkan sampah di saluran air dan kawasan permukimam penduduk secara umum perlu digalakkan kembali.
Jangan sampai setelah terjadi masalah genangan air yang mengakibatkan kerugian materi dan terganggunya aktivitas rutin, warga baru sibuk melakukan gerakan gotong royong tersebut, kata Husni Thamrin yang menjadikan program pengelolaan sampah sebagai salah satu program andalannya untuk maju dalam Pilkada April 2013 mendampingi bakal calon Wali Kota Palembang H.Mularis Djahri.
Galakkan Bank Sampah
Pemerintah Kota Palembang sejak April 2012 lalu telah mencoba mendorong warga setempat untuk mengembangkan bank sampah agar seluruh sampah yang dihasilkan dari rumah tangga, pasar, dan kegiatan usaha lainnya bisa dikelola dengan baik serta memiliki nilai ekonomis.
Menurut Sekda Palembang Husni Thamri, sampah perlu dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan masalah "banjir", kerusakan lingkungan, menghambat program penataan rumah kumuh dan persoalan yang bisa mengganggu kesehatan warga kota.
Pengelolaan sampah memerlukan dukungan dari semua pihak dan lapisan masyarakat serta konsep bank sampah di kawasan permukiman penduduk yang belum berjalan dengan baikperlu terus digalakkan.
Untuk menggalakkan bank sampah, pihaknya terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat dengan terus melakukan sosialisasi kepada warga kota tentang bahaya sampah bagi lingkungan dan kesehatan jika tidak dikelola dengan baik, kata Husni.
Sementara Kepala Dinas Kebersihan Kota Palembang KMS Abubakar menjelaskan banyak sampah organik maupun anorganik bisa dikelola menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Sampah organik adalah sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi yang mudah membusuk antara lain seperti sampah dapur, sisa makanan, sayuran, sisa-sisa hewan, sampah pertanian dan perkebunan.
Sampah organik ini dapat diolah menjadi pupuk kompos yang cukup baik untuk kesuburan berbagai jenis tanaman.
Sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang tidak mudah membusuk seperti plastik kemasan makanan, berbagai jenis kertas, botol dan cangkir plastik kemasan minuman, kaleng, kayu dan barang lainnya.
Sampah anorganik atau yang tidak bisa diurai tersebut dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya.
Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik bekas wadah pembungkus makanan, botol dan gelas plastik bekas kemasan minuman, kaleng dan kertas baik kertas koran, HVS, karton maupun kardus.
Sampah yang masih bisa digunakan kembali itu sekarang ini sebagian besar baru dimanfaatkan oleh pemulung untuk dijual ke pedagang pengumpul barang bekas sedangkan sampah lainnya masih banyak belum dimanfaatkan dan harus diangkut dan dimusnahkan di tempat pembuangan akhir sampah, kata Abubakar.
Lebih lanjut Sekda Palembang mengatakan, selain berupaya menggalakkan banks sampah di kawasan permukiman penduduk, pihaknya juga akan mengoptimalkan peran petugas Badan Lingkungan Hidup (BLH).
Petugas BLH diharapkan bisa menjadi kader lingkungan yang bisa diandalkan untuk mengatasi persoalan sampah bersama-sama petugas petugas Dinas Kebersihan Kota Palembang.
Selain itu petugas BLH diharapkan juga mampu memotivasi serta mendidik warga kota Palembang tentang cara memanfaatkan dan mengelola sampah organik maupun anorganik agar menjadi sesuatu barang yang memiliki nilai ekonomis.
Kemudian pihaknya juga berupaya mendukung program "Kampung Iklim" Kementerian Lingkungan Hidup untuk menurunkan emisi gas rumah kaca serta melestarikan lingkungan di kawasan permukiman penduduk.
Program yang diungkapkan Menteri Negara Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya ketika menghadiri acara seminar lingkungan di Palembang pada 9 Agustus 2012 lalu akan didukung penuh Pemerintah Kota Palembang yang sekarang ini juga telah mengembangkan kampung ramah lingkungan.
"Kampung iklim ini modelnya hampir sama dengan kampung ramah lingkungan yang pernah dibentuk pada tahun sebelumnya," ujar Husni.
Dalam kampung iklim akan dilakukan penanaman beraneka jenis pohon pelindung dan buah-buahan serta ada kegiatan pengolahan sampah yang diarahkan bisa menghasilkan pupuk organik untuk mendukung kegiatan penghijauan itu
Dengan berbagai program tersebut dan dilibatkannya secara penuh warga kota ini dalam mengelola sampah baik organik maupun anorganik diharapkan Kota Palembang akan semakin bersih dan lestari, jelas Sekda Kota Palembang itu.
Terbitkan UU Sampah
Sementara anggota DPR Komisi VII Nazarudin Kiemas meminta pemerintah daerah mempersiapkan diri menghadapi terbitnya Undang Undang tentang pengelolaan sampah.
"Sekarang ini sedang dipersiapkan UU tentang sampah dan diperkirakan dua atau tiga tahun ke depan mulai diberlakukan," kata anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan itu ketika menghadiri seminar lingkungan di Palembang pada 9 Agustus 2012 lalu.
Menurut dia, waktu dua atau tiga tahun itu tidak terlalu lama, bahkan terasa singkat untuk persiapan pengelolaan sampah yang baik jika tidak dilakukan secara serius.
Selagi masih ada waktu, diminta Pemerintah Kota Palembang dan pemerintah daerah lainnya untuk secara bertahap membuat program pengelolaan sampah yang baik dan memiliki nilai tambah, kata Nazarudin.
Dia menjelaskan, contoh pengelolaan sampah yang baik adalah Australia, di negara tersebut sampah tidak dibuang percuma bahkan banyak berminat membelinya dengan harga tinggi.
"Sampah di Australia dilelang, bagi peminat memberikan penawaran tinggi dia yang dapat," ujarnya.
Dengan UU tentang pengelolaan sampah yang sedang disiapkan itu, dia berharap setiap kabupaten/kota di Indonesia mampu memanfaatkan sampah yang dihasilkan penduduknya menjadi barang bermanfaat dan memiliki nilai keekonomian.
Sampah bisa dimanfaatkan untuk pupuk, didaur ulang menjadi sesuatu barang berharga atau memiliki nilai ekonomis yang tinggi bahkan bisa dimanfaatkan untuk energi, kata anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan itu menambahkan. (ANT-Y009)
Pewarta: Yudi Abdullah
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026
