
Wayang Palembang itu sempat 'mati'

....Wayang ini juga menggunakan "baso Palembang bari" bahasa asli yang memang memiliki kemiripan sejumlah kata dengan bahasa Jawa....
Palembang (ANTARA Sumsel) - Pada waktu tengah hari memasuki kawasan Pasar Tanggabuntung Kecamatan Ilir Barat II Palembang, Sumatera Selatan suasana pasar masih ramai sehingga tidak sulit untuk menemukan rumah pelestari wayang Palembang setelah bertanya kepada salah seorang pedagang.
"Permisi bu, numpang nanya dimana tempat tinggal pedalang wayang Palembang,"?. Pedagang yang merupakan perempuan tua berbaju ungu tersebut langsung memanggil seorang pemuda.
Pemuda tanggung yang sedang menjaga salah satu kios yang berada di luar pasar tersebut secara spontan mengantar dan mengajak masuk ke sebuah gang sempit.
"Inilah yuk, tempat wayang Palembang," katanya sambil mengenalkan kepada si empunya rumah.
Si empunya rumah yang bernama Iwan atau saat mentas dipanggil Dalang Wirawan itu menyuruh menaiki tangga
rumah panggung semi permanen yang dibawahnya terdapat sebuah warung manisan.
Pria sederhana berusia 39 tahun ini ternyata adalah Dalang Wirawan generasi ketiga pelestari wayang Palembang.
Wirawan yang akrab dipanggil Iwan ini mengatakan awalnya tidak tertarik melanjutkan kesenian yang telah digeluti kakek dan bapaknya itu sehingga peralatan mereka punya dibiarkan dalam peti kayu.
Namun, sejak tahun 2003 niat itu muncul ketika Unesco lembaga internasional yang salah satunya konsen mendukung pelestarian warisan budaya dunia berminat membantu keberlangsungan wayang Palembang.
Pada tahun yang sama dengan semangat baru mulai mencari kaset-kaset peninggalan almarhum ayah dan kakeknya untuk belajar musik dan percakapan dengan "baso Plembang bari".
Ia mengatakan, upaya mendalami wayang Palembang yang sebelumnya didalangi secara turun temurun oleh kakek, almarhum Muhammad Rasyd dan alm Muhammad Rusdi sang ayah dilakukan untuk mencintai kesenian tradisional itu. Meskipun dorongan awal karena memang dari kepedulian Unesco.
Tahun 2004 Unesco membantu sanggar yang mereka bentuk dengan nama SRI itu seperangkat gamelan dan 50 buah tokoh wayang.
Sejak mendapat bantuan peralatan itu bersama belasan anak muda di kawasan tersebut mereka efektif berlatih dan sesekali ditanggap untuk manggung.
"Dulu kami rutin mentas di RRI, tetapi ketika pimpinannya berganti tidak lagi," ujar pria yang mengandalkan hidupnya dari berdagang ini.
Sebelum mendapat bantuan peralatan dari Unesco mereka menggunakan wayang dan gamelan yang telah dipakai sejak sebelum tahun 1950-an warisan kakek dan ayahnya.
Berbeda dengan lima tahun lalu, kini mereka jarang sekali mendapatkan panggilan untuk tampil di acara-acara tertentu.
Meskipun dulu sempat beberapa kali tampil di Yogyakarta dan Jakarta tapi tidak untuk saat ini.
Bahkan di dalam Kota Palembang pun mereka tidak pernah lagi ditanggap padahal sebelumnya sempat beberapa kali dewan kesenian setempat yang meminta mereka tampil.
Saat ini, karena jarang ditanggap anggota Sanggar Sri jarang berlatih padahal beberapa tahun lalu mereka rutin mengasah kemampuan seni wayang Palembang karena masih ada yang menanggap grup seni itu.
Dengan raut muka yang tanpa ekspresi pedalang ini mengakui kalau kesulitan untuk memaksakan anggota sanggar berlatih rutin karena memang tidak bisa mengantungkan hidup dari kesenian itu.
Belasan anggota sanggar wayang tersebut bekerja dan mencari nafkah dengan berbagai kegiatan termasuk berdagang.
Ketika ada pesanan untuk tampil biasanya mereka kumpul dan berlatih dengan pementasan mahabrata dan ramayana atau cerita dengan kreasi baru sesuai dengan keinginan penanggap.
Wayang Palembang dari Jawa
Wayang diperkirakan berkembang di Palembang pada abad ke-17 Masehi yang dibawa bangsawan Jawa ke Bumi Sriwijaya, meskipun asal muasalnya dari Jawa tetapi ada perbedaan antara wayang dari pulau asalnya.
Wayang Palembang sama sekali tidak melibatkan sinden atau penyanyi tradisional saat pementasan.
Wayang ini juga menggunakan "baso Plembang bari" bahasa asli yang memang memiliki kemiripan sejumlah kata dengan bahasa Jawa.
Kesenian ini juga tidak memiliki tokoh Bagong seperti wayang Jawa karena diperkirakan saat diadopsi lakon itu belum dilahirkan.
Iwan menambahkan, musik yang mengiringi wayang Palembang juga berbeda dengan bunyi-bunyi yang dikeluarkan gamelan Jawa.
Dia mengatakan, sangat berharap perhatian dari pemerintah agar warisan budaya tersebut dapat lestari.
"Kami tidak perlu bantuan dana atau peralatan mewah dari pemerintah tetapi perhatian mereka dengan menampilkan wayang Palembang dalam sejumlah kegiatan sangat diharapkan," katanya.
Peralatan gamelan dan tokoh pewayangan yang mereka miliki saat ini dinilai cukup untuk mendukung pentas mereka.
Namun, terbatasnya ruang untuk mementaskan wayang tersebut membuat mereka harus berjuang ekstra untuk melestarikan seni dan budaya itu.
Minimnya perhatian pemerintah terhadap kelestarian wayang Palembang tentunya sangat disayangkan karena seni dan budaya tersebut telah menjadi bagian dari warga kota yang dibelah Sungai Musi itu.
Meski tidak mendapatkan perhatian tetapi pencinta wayang Palembang terus berjuang mempertahankan warisan budaya itu.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Palembang Tabrani mengakui selama ini pihaknya belum memfasilitasi wayang Palembang sebagai salah satu kekayaan budaya Bumi Sriwijaya.
Namun, secepatnya akan berkomunikasi dengan dewan kesenian setempat untuk memfasilitasi salah satu kekayaan seni budaya itu.
Dia menambahkan, mempromosikan wayang Palembang akan menjadi salah satu agenda selain tentunya seni budaya lainnya yang menjadi kekayaan daerah itu.
Sejumlah kegiatan seni dan budaya setempat akan diramaikan dengan ditampilkannya wayang Palembang sebagai salah satu ajang promosi.
Dengan semakin dikenalkannya wayang yang telah menjadi hiburan masyarakat Palembang sejak abad ke-17 itu diharapkan mampu mendorong pelestarian "heritage" yang diakui nyaris terlupakan.
Kelak, generasi muda setempat juga akan mengenal secara dekat kesenian tradisional wayang Palembang, Dul Muluk dan warisan seni budaya lainnya. (Nila)
Pewarta: Nila Ertina
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2026
