
Kegigihan Asmaniah ciptakan produk berkelas dunia

....Saya sudah tahu kualitas kopi dari tekstur atau baunya ketika diseduh air panas. Ini yang menjadi modal saya menciptakan formula rasa kopi Paiker....
Palembang (ANTARA Sumsel) - Kegigihan Ny. Asmaniah Taslim yang berinovasi dengan memproduksi kopi telah membawanya menapaki kesuksesan sebagai pengusaha muda.
"Kopi Cap Cangkir Paiker" sebagai produk asli Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan dipercaya menjadi minuman resmi dan oleh-oleh dari Palembang pada SEA Games tahun 2011.
Pemerintah Provinsi Sumsel memberikan kepercayaan kepada ibu dua putri ini karena Kopi Paiker telah menembus pasar Eropa yakni Prancis.
"Sebenarnya tidak menyangka bisa membawa kopi dari kampung halaman sendiri ke Prancis, tepatnya bulan September tahun 2011 Kedutaan Indonesia di Marseile mengajak menggelar pameran di sana selama dua minggu, dan juga menjadi minuman resmi SEA Games," ujar Asmaniah di Palembaang, Selasa.
Produk kopi tersebut telah memiliki sertifikat berstandar internasional beserta label halal menjadi jaminan tersendiri sebelum menembus pasar dunia.
Kepatuhan menjaga kualias produk menjadi kunci kesuksesan wanita berusia 39 tahun ini, seperti memilih biji kopi yang sudah tua untuk menghindari rasa asam dan tekstur yang mengapung, serta menggunakan gula pasir dan cremer murni tanpa campuran jagung.
Ia pun mengungkapkan produknya itu sempat diuji salah satu kompetitor di sebuah laboratorium di Surabaya karena penasaran rasanya yang enak.
Ahli kopi yang menguji malah heran, saking herannya sampai menghubungi saya untuk bertanya mengapa membuat produk minuman menggunakan kopi asli.
"Saya juga balik bertanya mengapa harus dicampur karena yang meminum juga keluarga dan anak-anak sendiri, tentunya tidak mau mereka sakit. Tidak apa sedikit untung asal kualitas terjaga," ujar perempuan asal Desa Mayan, Kecamatan Pasemah Air Keruh, Lahat ini.
Latar belakang keluarga sebagai petani kopi telah menggugah nuraninya untuk menciptakan suatu produk kelas dunia yaitu "Kopi Cap Cangkir Paiker".
Nama Paiker sendiri diambil dari Pasemah Air Keruh, Empat Lawang, Lahat, yang merupakan kampung halamannya.
"Sebelumnya sempat mencoba usaha lain karena pada prinsipnya senang berbisnis. Lantas, muncul pertanyaan dalam diri mengapa tidak mengembangkan kopi saja karena kampung halaman merupakan daerah penghasil kualitas ekspor apalagi kedua orangtua dan hampir sebagian besar keluarga merupakan petani," katanya.
Formula rasa kopi
Ia pun mengetahui cara mengelola kopi dari proses penanaman hingga disajikan di atas meja bersama pisang goreng atau dicocol dengan durian yang menjadi kebiasaan daerah asalnya.
"Saya sudah tahu kualitas kopi dari tekstur atau baunya ketika diseduh air panas. Ini yang menjadi modal saya menciptakan formula rasa kopi Paiker," katanya.
Sejak memutuskan fokus untuk mengembangkan kopi, Asmainiah tak jemuh-jemuh berinovasi. Berbagai literatur mengenai kopi hingga cara memasarkan produk mulai dipelajarinya.
"Untuk menemukan rasa saya membutuhkan waktu enam tahun dengan melakukan survei ke beberapa kerabat atau organisasi tempat beraktualisasi.
Mula-mula tidak ada komentar karena rasanya dianggap biasa-biasa saja, namun berkat kegigihan dalam meracik komposisi gula, cream, dan kopi, akhirnya didapatkan formulanya," ujar ibu kelahiran Desa Mayan, 19 Oktober 1974 ini.
Asma mulai memasarkan produknya sejak tahun 2003 dan sejumlah penghargaan mulai mengalir berkat usahanya itu.
Omset pun telah mencapai Rp350 juta hingga Rp500 juta per bulan karena memasarkan ke seluruh Sumatera hingga Jawa karena produk yang ditawarkan memenuhi keinginan konsumen dari segi kemasan hingga harga.
Harga per bungkus Rp1.000 dan mampu bersaing dengan produk lain. Selain itu, ia juga membuat kemasan "gold" untuk menaikkan kelas produk.
Menurut putri dari pasangan H Mahuddin dan Hj Sarum (alm) ini, pada 2003 usahanya itu dipercaya menjadi produk ramah lingkungan pilihan Dinas Tenaga Kerja Kota Palembang sekaligus terpilih sebagai pengusaha kecil terbaik.
Lalu pada 2009 juga mendapat hadiah jalan-jalan ke Singapura dari Dinas Pemuda dan Olahraga atas anugrah pemuda wirausaha. Kemudian mendapat anugrah dari Patani Sumsel sebagai produk UKM berteknologi pada 2011.
Kini Asma berkeinginan membuka seratus warung kopi di Kota Palembang untuk membantu kaum muda yang kesulitan mendapat pekerjaan. Ia merencanakan akan melaunching program itu pada akhir Juni 2012.
Sembari menyelesaikan pendidikan Strata 2-nya, Ia optimistis cita-citanya itu terwujud karena bermula dengan niat baik.
"Saya hanya meminta anak-anak muda menyediakan tempat, masalah kopi dan lainnya akan dibantu. Jika modal sudah kembali baru dibayar karena fokus saat ini bagaimana kopi ini dikenal luas masyarakat Indonesia," ujar
ibu dari Hanny Larasaty (16) dan Riskie Dewanty (8) ini.
Kini harapannya hanya sederhana produk kopinya ada di setiap rumah karena harga yang ditawarkan terjangkau masyarakat.
"Minum kopi telah menjadi gaya hidup era sekarang. Di luar negeri, minum kopi menjadi suatu aktivitas yang berkelas, lantas mengapa kita yang memproduksinya tidak menikmatinya sendiri," katanya. (Dolly Rosana).
Pewarta:
Editor: Yudi Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
