Jakarta (ANTARA) - "Mencegah lebih baik daripada mengobati."
Petuah klasik ini, dan berbagai variannya, sering digaungkan untuk menyoroti pentingnya bersiap-siap sejak awal daripada menuai hasil yang tidak diinginkan.
Prinsip ini juga yang jadi dasar lahirnya Cek Kesehatan Gratis (CKG), salah satu program Presiden Prabowo Subianto di bidang kesehatan, yang bermaksud menggeser paradigma kesehatan Indonesia yang awalnya kuratif menjadi promotif dan preventif.
Setahun sejak diumumkan pada 10 Februari 2025, Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu gerakan terbesar dalam sejarah nasional. Dari target sebanyak sekitar 280 juta orang, di tahun pertamanya CKG menjangkau sekitar 70,2 juta orang peserta yang hadir dari 73,1 juta yang mendaftar, per data Kemenkes pada 29 Desember 2025.
Dengan paket-paket yang disesuaikan faktor risiko tiap kelompok umur, peserta CKG mencakup mulai dari bayi baru lahir hingga lansia, dari Sabang sampai Merauke, dilayani oleh 10.588 fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjadikan kesehatan sebagai sebuah investasi masa depan.
Di panggung global, yakni World Economic Forum (WEF) 2026, Presiden menyebutkan bahwa CKG bukan hanya program populis, melainkan langkah rasional untuk meningkatkan produktivitas melalui deteksi dini penyakit.
Sehat pangkal hemat
Menemukan risiko penyakit sejak awal dapat mengurangi beban biaya kesehatan hingga miliaran dolar AS di kemudian hari, sebuah angka yang signifikan.
Di sepanjang 2025 saja, dari Rp190,3 triliun klaim yang dibayarkan BPJS Kesehatan, sebanyak Rp50,2 triliun digelontorkan untuk 59,9 juta kasus penyakit kronis, seperti sakit jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, sirosis hati, thalassemia, dan hemofilia.
Kepala Humas BPJS Kesehatan Rizzky Anugerah mengatakan, penyakit jantung menduduki peringkat pertama dengan total 29,7 juta kasus dan biaya Rp17,3 triliun. Sementara, gagal ginjal menempati peringkat kasus kedua terbanyak dengan total 12,6 juta kasus dan biaya Rp13,3 triliun, disusul dengan penyakit kanker yang berjumlah 7,2 juta kasus dan menelan biaya Rp10,3 triliun.
Data-data ini relevan dengan apa yang ditemukan oleh CKG. Sejumlah faktor risiko penyakit-penyakit kronis itu, seperti obesitas sentral, aktivitas fisik yang kurang, dan konsumsi gula, garam, lemak berlebih banyak ditemukan di berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak, dewasa, hingga lanjut usia.
Pada kelompok umur dewasa, satu dari tiga orang mengalami obesitas sentral, dan sebanyak tujuh juta mengalami hipertensi atau pre-hipertensi. Kemudian, sebanyak 100 ribu orang memiliki diabetes atau pre-diabetes, di mana gula darahnya di atas kadar yang normal.
Sedangkan pada kelompok lanjut usia, sebanyak 51 persen di antaranya tekanan darahnya di atas normal.
Adapun dalam CKG untuk kelompok usia sekolah dan remaja, 7 dari 100 remaja mengalami gizi lebih dan obesitas. Dari 18 juta anak yang diperiksa, 1,3 juta kurang aktivitas fisik. Selain itu, 1 dari 5 peserta mengalami hipertensi.
Isu yang ditemukan di banyak kelompok usia adalah masalah gigi. 58 persen lansia memiliki masalah gigi. Kemudian, dari 15 juta orang dewasa yang diperiksa giginya, sebanyak 9 juta orang giginya berlubang.
Serupa, gigi berlubang ditemukan pada 31 persen anak usia 1-6 tahun yang ikut CKG dan 47 persen dari kelompok usia sekolah dan remaja.
Selain masalah-masalah kesehatan yang ada di berbagai kelompok usia, CKG juga menemukan berbagai masalah kesehatan spesifik di tiap kelompok usia.
Misalnya, pada 1.686 bayi baru lahir, masalah yang ditemukan antara lain kekurangan G6PD atau enzim pelindung sel darah merah, penyakit jantung bawaan kritis, dan kekurangan hormon tiroid.
Kemudian, sebanyak 26 dari 100 remaja mengalami masalah telinga. Pada kelompok usia remaja juga ditemukan bahwa 1 dari 4 orang mengalami anemia.
CKG ke depannya
Dengan menemukan lebih banyak masalah kesehatan, maka pencegahan dan penanganannya bisa dilakukan sedari awal.
Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan berencana meningkatkan cakupan CKG hingga sekitar 130-140 juta orang pada 2026, menambahkan dan menggencarkan sejumlah skrining dalam program nasional tersebut, serta memperkuat tata kelola dan tindak lanjut hasil pemeriksaan.
Sebagai contoh, skrining kusta akan disertakan dalam Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai upaya pemerintah mempercepat eliminasi penyakit tersebut, terutama di Indonesia bagian timur. Dalam skrining tersebut, metode PCR akan digunakan.
Kementerian Kesehatan juga mengalokasikan fasilitas tambahan untuk memperluas cakupan CKG. Misalnya saja, bagi Tangerang, Banten, yang berhasil melampaui target CKG hingga mencapai 106 persen, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono berjanji akan memberikan Elektrokardiogram (EKG) di tiap puskesmas daerah itu.
Layanan kesehatan mata juga bakal diperkuat berkat temuan dari deteksi dini gangguan penglihatan dalam CKG. Sepanjang 2025, Kemenkes telah melakukan skrining kesehatan mata terhadap sekitar 55 juta penduduk berusia di atas 7 tahun, dengan hasil temuan sekitar 17 persen di antaranya mengalami gangguan penglihatan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, mulai 2026, tindakan pencegahan dan penanganan penyakit usai Cek Kesehatan Gratis (CKG), digratiskan dalam 15 hari pertama setelah pengecekan, terlepas dari apakah peserta CKG terdaftar di puskesmas tempatnya melakukan pengecekan kesehatan itu.
Penyakit yang diprioritaskan penanganannya dalam 15 hari itu seperti diabetes, yang sering disebut sebagai ibu dari segala penyakit, mengingat dampaknya yang serius dan dapat menjadi awal penyakit lainnya.
Setelah 15 hari itu, penanganan tetap gratis apabila peserta tersebut juga aktif dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Karena itu, Kementerian Kesehatan mengingatkan warga untuk tetap mengaktifkan asuransi kesehatan yang difasilitasi negara itu.
"Hanya dengan membayar iuran yang lebih murah dari sebungkus rokok, manfaat yang didapatkan cukup besar," katanya.
Saat ini, tantangan yang masih ada dalam CKG adalah cakupannya. Baru 24,9 persen penduduk Indonesia yang mengikuti program nasional tersebut.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, mengatakan, dari hasil evaluasi, diketahui baru 45 persen masyarakat yang mengetahui tentang CKG. Survei menunjukkan, ada yang belum berminat ikut CKG karena sejumlah alasan, yakni waktu yang tidak cocok, serta merasa masih sehat. Sebagian besar tidak ikut karena merasa waktunya tidak cocok.
Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) mengatakan, komunikasi, sosialisasi, dan edukasi adalah kunci untuk menaikkan partisipasi publik dalam Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta mengubah cara pandang masyarakat terhadap kesehatan.
Juru Bicara Bakom RI Adita Irawati mengatakan bahwa CKG adalah bentuk dari poin Undang Undang Dasar 1945 yang mewajibkan negara untuk memajukan kesejahteraan umum. Dengan target penerima manfaat terbanyak, yakni seluruh penduduk Indonesia. hal ini tidaklah mudah, sehingga kolaborasi diperlukan agar dapat mengedukasi publik, agar ada perubahan perilaku.
Kesehatan adalah investasi masa depan yang tidak ternilai harganya. Upaya-upaya menjaga kesehatan saat ini bisa jadi terasa berat, seperti harus mengecek kesehatan diri sendiri, konsisten berolahraga, dan menjaga pola makan. Namun, buah manisnya akan dinikmati nanti, bukan cuma oleh diri sendiri, tetapi oleh orang-orang tersayang, bahkan oleh bangsa dan negara.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Setahun CKG, awal sehat pangkal produktif