Palembang (ANTARA) - Badan Pusat Stastik (BPS) mencatat Provinsi Sumatera Selatan mengalami deflasi sebesar 0,41 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Februari 2025.

"Sumsel mengalami deflasi sebesar 0,41 persen secara mtm pada Februari 2025. Deflasi ini lebih rendah dibanding jika dibandingkan inflasi pada Februari 2024 sebesar 0,01 persen," kata Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto di Palembang, Senin.

Ia menjelaskan terdapat lima komoditas utama penyumbang deflasi pada Februari 2025, yaitu penurunan harga tarif listrik, cabai merah, daging ayam ras dan bawang merah.

Kemudian, terdapat dua kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan perubahan indeks 0,79 persen dengan andil deflasi 0,24 persen. 


Sedangkan, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan perubahan indeks 3,58 persen dengan andil deflasi 0,46 persen

"Komoditas utama penyumbang deflasi yaitu perubahan harga tarif listrik," jelasnya.

Lalu, secara tahunan (year on year/yoy) Sumsel mengalami inflasi sebesar 0,49 persen pada Februari 2025.

Kelompok yang menjadi penyumbang utama inflasi Februari secara yoy, yaitu perawatan pribadi dan jasa lainnya yang memberikan andil mencapai 0,84 persen.

“Untuk komoditas yang menjadi pendorong utama inflasi yoy meliputi emas perhiasan, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, cabai rawit dan sigaret kretek mesin,” kata Wahyu.