Hamas sebut usaha Israel usir warga Palestina sebagai "angan-angan"
Selasa, 2 Januari 2024 10:14 WIB
Arsip - Warga membawa seorang pria setelah dievakuasi dari reruntuhan bangunan keluarga Bakr yang hancur karena serangan Israel di Al-Shati, Kota Gaza (21/10/2023). Serangan udara Israel masih terus berlanjut hingga hari ke-15 di Gaza. ANTARA FOTO/Ali Jadallah/Anadolu via Reuters/tom.
Gaza (ANTARA) - Kelompok Hamas Palestina pada Senin menyebut pernyataan sejumlah pemimpin Israel tentang pengusiran warga Palestina dari Gaza hanya "angan-angan yang tidak bisa diwujudkan".
Mereka mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa rencana tersebut tidak akan pernah terwujud mengingat "ketabahan dan perlawanan berani rakyat Palestina."
Pernyataan Hamas itu untuk menanggapi komentar dari beberapa pejabat Israel garis keras, termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, yang menyerukan "evakuasi sukarela" warga Palestina dari Gaza dan mendesak berbagai negara untuk menerima warga Palestina dari Gaza.
Pernyataan Hamas tersebut mendesak "masyarakat internasional dan PBB untuk mengaktifkan hukum internasional dalam menghadapi sikap fasis ini, yang tidak lain adalah kejahatan perang."
Pada 26 Desember, Kementerian Luar Negeri Palestina juga mengatakan bahwa pernyataan Israel tentang "evakuasi sukarela" warga Gaza memerlukan "posisi internasional untuk menghentikan kejahatan semacam itu."
Pada pekan lalu, media Israel mengatakan bahwa PM Benjamin Netanyahu mendorong rencana untuk menerapkan "migrasi sukarela" warga Palestina di Gaza ke beberapa negara lain.
Israel menggempur Jalur Gaza sejak serangan lintas batas yang dilakukan kelompok Hamas Palestina pada 7 Oktober, menewaskan sedikitnya 21.978 warga Palestina, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai 57.697 lainnya, menurut otoritas kesehatan setempat.
Sekitar 1.200 warga Israel diyakini telah tewas dalam serangan Hamas pada 7 Oktober, termasuk tentara.
Mereka mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa rencana tersebut tidak akan pernah terwujud mengingat "ketabahan dan perlawanan berani rakyat Palestina."
Pernyataan Hamas itu untuk menanggapi komentar dari beberapa pejabat Israel garis keras, termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, yang menyerukan "evakuasi sukarela" warga Palestina dari Gaza dan mendesak berbagai negara untuk menerima warga Palestina dari Gaza.
Pernyataan Hamas tersebut mendesak "masyarakat internasional dan PBB untuk mengaktifkan hukum internasional dalam menghadapi sikap fasis ini, yang tidak lain adalah kejahatan perang."
Pada 26 Desember, Kementerian Luar Negeri Palestina juga mengatakan bahwa pernyataan Israel tentang "evakuasi sukarela" warga Gaza memerlukan "posisi internasional untuk menghentikan kejahatan semacam itu."
Pada pekan lalu, media Israel mengatakan bahwa PM Benjamin Netanyahu mendorong rencana untuk menerapkan "migrasi sukarela" warga Palestina di Gaza ke beberapa negara lain.
Israel menggempur Jalur Gaza sejak serangan lintas batas yang dilakukan kelompok Hamas Palestina pada 7 Oktober, menewaskan sedikitnya 21.978 warga Palestina, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai 57.697 lainnya, menurut otoritas kesehatan setempat.
Sekitar 1.200 warga Israel diyakini telah tewas dalam serangan Hamas pada 7 Oktober, termasuk tentara.
Pewarta : Katriana
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Iran serahkan 14 poin usulan damai untuk akhiri perang dengan Amerika Serikat dan Israel
03 May 2026 7:53 WIB
Kunjungi Rusia, Menlu Iran Abbas Araghchi bahas konflik AS dan Israel dengan Putin
27 April 2026 20:19 WIB
Lebih dari 9.600 warga Palestina mendekam di penjara Israel hingga April 2026
17 April 2026 19:38 WIB
PM Nawaf Salam minta dukungan Pakistan untuk hentikan serangan Israel di Lebanon
10 April 2026 7:25 WIB
PBB: Kematian penjaga perdamaian Indonesian di Lebanon disebabkan tembakan Israel
08 April 2026 10:39 WIB
PM Spanyol Pedro Sanchez tegaskan serangan terhadap UNIFIL di Lebanon harus dihentikan
07 April 2026 6:36 WIB