Erick Thohir konsolidasikan BUMN bidang geothermal
Kamis, 27 Oktober 2022 14:29 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir. ANTARA/HO-Kementerian BUMN/am.
Jakarta (ANTARA) - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berencana melakukan konsolidasi sejumlah BUMN yang selama ini menggarap energi panas bumi atau geothermal seperti PT Pertamina, PT PLN, dan PT Geo Dipa Energi.
Dia menilai konsolidasi anak usaha atau subholding Pertamina dan PLN yang bergerak di sektor geothermal dengan Geo Dipa akan memperkuat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dalam sektor geothermal.
"Kita mempunyai tiga perusahaan yang sebenarnya sudah melakukan geothermal ini, ada Pertamina, PLN, satu lagi Geo Dipa yang berada di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Memang ini perlu waktu, saya ingin tahap awal melakukan merger ini menjadi satu kesatuan," kata Erick dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Potensi geothermal yang luar biasa dibandingkan jenis energi baru terbarukan (EBT) lain seperti angin dan panel surya. Berbeda dengan tenaga angin dan surya, geothermal juga lebih konsisten dan tidak memiliki hambatan ketersediaan pasokan.
"Geothermal ini sangat luar biasa. Karena ini salah satu baseload, kita tahu kalau solar dan angin itu terbatas, tidak bisa berkelanjutan, tapi baseload itu hanya di geothermal atau di hydro. Nah ini kenapa geothermal ini yang kami dahulukan," kata Erick.
Dengan konsolidasi, dia meyakini pengembangan geothermal akan jauh lebih efektif dan efisien ketimbang BUMN masing-masing menggarap secara mandiri.
Dalam tahap awal, Erick telah melakukan konsolidasi antara Pertamina dan Pertamina Geothermal Energy (PGE) agar bisa mendapat akses pendanaan baru untuk EBT, salah satunya pilihannya dengan Go Public supaya tidak membebani keuangan negara atau terus meningkatkan utang.
Proses konsolidasi anak usaha atau subholding Pertamina dan PLN dengan Geo Dipa akan dilakukan secara bertahap.
"Sementara ini Pertamina duluan yang masuk karena PLN masih di belakang dan (kondisi keuangan) Pertamina sehat sehingga dia maju duluan," kata Erick.
Dia menilai konsolidasi anak usaha atau subholding Pertamina dan PLN yang bergerak di sektor geothermal dengan Geo Dipa akan memperkuat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dalam sektor geothermal.
"Kita mempunyai tiga perusahaan yang sebenarnya sudah melakukan geothermal ini, ada Pertamina, PLN, satu lagi Geo Dipa yang berada di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Memang ini perlu waktu, saya ingin tahap awal melakukan merger ini menjadi satu kesatuan," kata Erick dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Potensi geothermal yang luar biasa dibandingkan jenis energi baru terbarukan (EBT) lain seperti angin dan panel surya. Berbeda dengan tenaga angin dan surya, geothermal juga lebih konsisten dan tidak memiliki hambatan ketersediaan pasokan.
"Geothermal ini sangat luar biasa. Karena ini salah satu baseload, kita tahu kalau solar dan angin itu terbatas, tidak bisa berkelanjutan, tapi baseload itu hanya di geothermal atau di hydro. Nah ini kenapa geothermal ini yang kami dahulukan," kata Erick.
Dengan konsolidasi, dia meyakini pengembangan geothermal akan jauh lebih efektif dan efisien ketimbang BUMN masing-masing menggarap secara mandiri.
Dalam tahap awal, Erick telah melakukan konsolidasi antara Pertamina dan Pertamina Geothermal Energy (PGE) agar bisa mendapat akses pendanaan baru untuk EBT, salah satunya pilihannya dengan Go Public supaya tidak membebani keuangan negara atau terus meningkatkan utang.
Proses konsolidasi anak usaha atau subholding Pertamina dan PLN dengan Geo Dipa akan dilakukan secara bertahap.
"Sementara ini Pertamina duluan yang masuk karena PLN masih di belakang dan (kondisi keuangan) Pertamina sehat sehingga dia maju duluan," kata Erick.
Pewarta : Suharsana Aji Sasra J C
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Lima tahun berturut-turut, Kilang Pertamina Plaju pertahankan Subroto Award bidang keselamatan migas
25 October 2025 17:46 WIB
Terpopuler - Info Bisnis
Lihat Juga
PT Bumi Andalas Permai dukung budidaya kepiting bakau di Desa Sungai Batang OKI
12 February 2026 14:15 WIB
KAI Palembang catat 29.253 tiket Lebaran 2026 terjual, 50 persen dari kapasitas
10 February 2026 19:44 WIB