Penenun Songket Palembang manfaatkan KUR dan UMI
Sabtu, 30 Juli 2022 17:07 WIB
Penenun kain Songket Palembang. ANTARA/Dolly Rosana.
Palembang (ANTARA) - Sejumlah penenun kain tradisional Songket Palembang memanfaatkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pinjaman Ultra Mikro (UMi) untuk mengembangkan usaha.
Penenun songket di kawasan kenten Palembang Rita Zahara di Palembang, Sabtu, mengatakan dirinya mendapatkan pinjaman KUR dari Bank Mandiri pada awal tahun lalu yang digunakan untuk menambah jumlah karyawan.
“Permintaan tinggi, tapi saya susah untuk penuhi karena jumlah karyawan terbatas,” kata dia.
Lantaran adanya tambahan modal dari pinjaman KUR itu, dirinya dapat menambah karyawan dari delapan orang menjadi 20 orang. Dengan begitu, ia pun dapat memanfaatkan momen bangkitnya ekonomi pasca pandemi karena saat ini pesanan kain songket bisa dikatakan melonjak signifikan.
Baca juga: Erick Thohir bagikan alat tenun songket ke pelaku UMKM Ogan Ilir
Usaha pembuatan kainnya kini dapat memproduksi 20 lembar per bulan dari sebelumnya hanya 4-5 lembar dengan harga jual Rp1,5 juta-Rp10 juta per steel (kain dan selendang).
“Omzet kini bertambah dari satu bulan hanya Rp40-50 juta saat pandemi, menjadi sekitar 100 juta,” kata dia.
Sri Wahyuni, pelaku usaha kain jumputan di Lorong Sawah, Kelurahan Tuan Kentang, Palembang, Sumatera Selatan, juga mendapatkan tambahan modal melalui skema pembiayaan UMi yang diberikan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) dalam program Mekaar.
PNM merupakan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) yang dipercaya Layanan Umum (BLU) Pusat Investasi Pemerintah (PIP) untuk menyalurkan pembiayaan UMi. Pemerintah menunjuk BLU-PIP sebagai coordinated fund pembiayaan UMi.
Baca juga: Penenun Songket Palembang tertarik gunakan pewarna alami
Awalnya ia bergabung dalam kelompok usaha untuk mendapatkan pinjaman PNM Mekaar berkisar Rp2 juta hingga Rp10 juta.
Pinjaman dibayar secara mencicil senilai Rp100 ribu per pekan, dan jika ada anggota kelompok yang tidak membayar angsuran maka akan ditanggung bersama (tanggung renteng). Sejak September 2021, Sri sudah mengakses pinjaman tersebut bersama sembilan orang lainnya dari beragam jenis usaha.
Dengan adanya tambahan modal Rp2 juta itu, setidaknya Sri dapat menambah produksi dari semula Rp80 lembar menjadi Rp100 lembar untuk satu kali periode pengiriman ke distributor di Pasar 16 Ilir Palembang dan komplek perbelanjaan Ramayana.
Walau keuntungan belum begitu signifikan karena ibu dua anak ini hanya mendapatkan margin Rp20.000 per lembar kain tapi setidaknya usahanya mulai berkembang dari biasanya.
Dengan menjual kain senilai Rp150.000 per lembar, Sri sudah memperkerjakan dua remaja putus sekolah.
Baca juga: Diambang kepunahan, Dekranasda bentuk kampung kerajinan khas Palembang 'Angkinan'
Penenun songket di kawasan kenten Palembang Rita Zahara di Palembang, Sabtu, mengatakan dirinya mendapatkan pinjaman KUR dari Bank Mandiri pada awal tahun lalu yang digunakan untuk menambah jumlah karyawan.
“Permintaan tinggi, tapi saya susah untuk penuhi karena jumlah karyawan terbatas,” kata dia.
Lantaran adanya tambahan modal dari pinjaman KUR itu, dirinya dapat menambah karyawan dari delapan orang menjadi 20 orang. Dengan begitu, ia pun dapat memanfaatkan momen bangkitnya ekonomi pasca pandemi karena saat ini pesanan kain songket bisa dikatakan melonjak signifikan.
Baca juga: Erick Thohir bagikan alat tenun songket ke pelaku UMKM Ogan Ilir
Usaha pembuatan kainnya kini dapat memproduksi 20 lembar per bulan dari sebelumnya hanya 4-5 lembar dengan harga jual Rp1,5 juta-Rp10 juta per steel (kain dan selendang).
“Omzet kini bertambah dari satu bulan hanya Rp40-50 juta saat pandemi, menjadi sekitar 100 juta,” kata dia.
Sri Wahyuni, pelaku usaha kain jumputan di Lorong Sawah, Kelurahan Tuan Kentang, Palembang, Sumatera Selatan, juga mendapatkan tambahan modal melalui skema pembiayaan UMi yang diberikan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) dalam program Mekaar.
PNM merupakan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) yang dipercaya Layanan Umum (BLU) Pusat Investasi Pemerintah (PIP) untuk menyalurkan pembiayaan UMi. Pemerintah menunjuk BLU-PIP sebagai coordinated fund pembiayaan UMi.
Baca juga: Penenun Songket Palembang tertarik gunakan pewarna alami
Awalnya ia bergabung dalam kelompok usaha untuk mendapatkan pinjaman PNM Mekaar berkisar Rp2 juta hingga Rp10 juta.
Pinjaman dibayar secara mencicil senilai Rp100 ribu per pekan, dan jika ada anggota kelompok yang tidak membayar angsuran maka akan ditanggung bersama (tanggung renteng). Sejak September 2021, Sri sudah mengakses pinjaman tersebut bersama sembilan orang lainnya dari beragam jenis usaha.
Dengan adanya tambahan modal Rp2 juta itu, setidaknya Sri dapat menambah produksi dari semula Rp80 lembar menjadi Rp100 lembar untuk satu kali periode pengiriman ke distributor di Pasar 16 Ilir Palembang dan komplek perbelanjaan Ramayana.
Walau keuntungan belum begitu signifikan karena ibu dua anak ini hanya mendapatkan margin Rp20.000 per lembar kain tapi setidaknya usahanya mulai berkembang dari biasanya.
Dengan menjual kain senilai Rp150.000 per lembar, Sri sudah memperkerjakan dua remaja putus sekolah.
Baca juga: Diambang kepunahan, Dekranasda bentuk kampung kerajinan khas Palembang 'Angkinan'
Pewarta : Dolly Rosana
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Anggota Komisi VII DPR RI Bane Manalu dorong penguatan daya saing tenun ulos
02 December 2025 8:10 WIB
Pemkot Palembang beri pelatihan tenun songket bagi anak putus sekolah
12 November 2024 16:35 WIB, 2024
Jamu akan ditetapkan jadi warisan budaya oleh UNESCO, tenun menyusul
17 November 2023 11:13 WIB, 2023
Dekranasda-Bank SumselBabel berikan subsidi harga benang untuk petenun songket
29 December 2022 15:54 WIB, 2022
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
KAI Palembang catat 29.253 tiket Lebaran 2026 terjual, 50 persen dari kapasitas
10 February 2026 19:44 WIB
Kejati Sumsel tetapkan tiga tersangka kasus korupsi distribusi semen Rp74,3 miliar
10 February 2026 1:04 WIB
Harga Emas Palembang naik ke Rp16,6 Juta per suku, naik Rp1 Juta dari pekan lalu
09 February 2026 6:07 WIB