Eks Napiter sebut rawan mendapat teror setelah "kembali ke NKRI"
Senin, 30 Mei 2022 16:05 WIB
Mantan narapidana terorisme Joko Trihermanto atau Jack Harun (kiri) ketika memberi paparan dalam seminar nasional bertajuk “Pencegahan Radikalisme-Terorisme dan Launching Buku Menjerat Terorisme” yang disiarkan di kanal YouTube Pusat Pembinaan Ideologi UNESA, dipantau dari Jakarta, Senin (30/5/2022). ANTARA/Putu Indah Savitri
Jakarta (ANTARA) - Mantan narapidana terorisme Joko Trihermanto atau Jack Harun mengatakan bahwa para narapidana terorisme yang "kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia" dan meninggalkan paham radikalnya rentan mendapatkan teror dari kelompok mereka yang terdahulu.
"Yang perlu diwaspadai dan yang perlu diingatkan bahwa teman-teman yang sudah kembali ini banyak mendapat teror," kata Jack Harun ketika menyampaikan paparan dalam seminar nasional bertajuk "Pencegahan Radikalisme-Terorisme dan Launching Buku Menjerat Terorisme" yang disiarkan di kanal YouTube Pusat Pembinaan Ideologi UNESA, dipantau dari Jakarta, Senin.
Adapun salah satu mantan narapidana terorisme (eks napiter) yang menjadi contoh adalah Ika, seorang eks napiter yang nyaris bergabung dalam tragedi bom di Bali.
Setelah Ika bebas dari tahanan dan kembali ke masyarakat, kata Jack Harun, Ika bercerai dengan suaminya karena suaminya masih "merah", dalam artian belum dapat kembali ke tengah masyarakat.
Setelah terbebas dari tahanan, Ika mengalami teror dari kelompoknya yang terdahulu, bahkan pada hari Senin, 30 Mei 2022, Ika menjalani perawatan di rumah sakit.
Oleh karena itu, Jack Harun meminta kepada masyarakat, khususnya aparat penegak hukum, untuk lebih memperhatikan keamanan dan keselamatan dari para eks napiter yang sudah kembali ke tengah masyarakat.
Tidak hanya berhadapan dengan stigma masyarakat dan pengasingan, lanjut dia, para eks napiter juga harus menghadapi ketakutan akan ancaman yang diberikan oleh kelompok terorisnya yang terdahulu.
Jack Harun menjelaskan bahwa kelompok teroris akan memandang para eks napiter kembali berpihak pada negara dengan paham yang bertentangan dengan kelompoknya. Dengan demikian, kelompok teroris akan membenarkan penyerangan dan pembunuhan terhadap eks napiter.
Kondisi tersebut mengakibatkan eks napiter berada di dalam kondisi yang rentan dan dipenuhi oleh rasa takut.
"Saya berharap teman-teman eks napiter ini semuanya di-back-up, betul-betul dijamin keamanannya sebelum mereka berani tampil di depan publik. Orang-orang inilah yang rawan," kata Jack Harun.
Ia menambahkan, "Inilah kewajiban kita untuk merangkul mereka (eks napiter)."
"Yang perlu diwaspadai dan yang perlu diingatkan bahwa teman-teman yang sudah kembali ini banyak mendapat teror," kata Jack Harun ketika menyampaikan paparan dalam seminar nasional bertajuk "Pencegahan Radikalisme-Terorisme dan Launching Buku Menjerat Terorisme" yang disiarkan di kanal YouTube Pusat Pembinaan Ideologi UNESA, dipantau dari Jakarta, Senin.
Adapun salah satu mantan narapidana terorisme (eks napiter) yang menjadi contoh adalah Ika, seorang eks napiter yang nyaris bergabung dalam tragedi bom di Bali.
Setelah Ika bebas dari tahanan dan kembali ke masyarakat, kata Jack Harun, Ika bercerai dengan suaminya karena suaminya masih "merah", dalam artian belum dapat kembali ke tengah masyarakat.
Setelah terbebas dari tahanan, Ika mengalami teror dari kelompoknya yang terdahulu, bahkan pada hari Senin, 30 Mei 2022, Ika menjalani perawatan di rumah sakit.
Oleh karena itu, Jack Harun meminta kepada masyarakat, khususnya aparat penegak hukum, untuk lebih memperhatikan keamanan dan keselamatan dari para eks napiter yang sudah kembali ke tengah masyarakat.
Tidak hanya berhadapan dengan stigma masyarakat dan pengasingan, lanjut dia, para eks napiter juga harus menghadapi ketakutan akan ancaman yang diberikan oleh kelompok terorisnya yang terdahulu.
Jack Harun menjelaskan bahwa kelompok teroris akan memandang para eks napiter kembali berpihak pada negara dengan paham yang bertentangan dengan kelompoknya. Dengan demikian, kelompok teroris akan membenarkan penyerangan dan pembunuhan terhadap eks napiter.
Kondisi tersebut mengakibatkan eks napiter berada di dalam kondisi yang rentan dan dipenuhi oleh rasa takut.
"Saya berharap teman-teman eks napiter ini semuanya di-back-up, betul-betul dijamin keamanannya sebelum mereka berani tampil di depan publik. Orang-orang inilah yang rawan," kata Jack Harun.
Ia menambahkan, "Inilah kewajiban kita untuk merangkul mereka (eks napiter)."
Pewarta : Putu Indah Savitri
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Cium "Merah Putih", empat napi terorisme di Sumsel ikrar setia ke NKRI
05 March 2024 14:43 WIB, 2024
Cium Merah Putih, tiga napi terorisme di Lapas Palembang ikrar setia kepada NKRI
27 January 2024 23:24 WIB, 2024
Polri ungkap asal usul 35 kg bahan peledak tersimpan di Gunung Ceremai Jabar
05 October 2021 2:03 WIB, 2021