Kejahatan siber terus menghantui konsumen Indonesia
Senin, 1 November 2021 23:15 WIB
Ilustrasi. (Pexels)
Jakarta (ANTARA) - Kejahatan siber saat ini masih banyak menghantui masyarakat di tengah gencarnya kemajuan teknologi, dan pesatnya perkembangan belanja melalui sistem online.
"Yang paling banyak terjadi itu adalah serangan social engineering, melalui phishing email, sms, whatsapp yang akan memancing kita untuk mengklik tautan yang diberikan seolah-olah itu benar dari Blibli ataupun DANA," ungkap Associate VP Information Security Blibli.com, Ricky Setiadi secara virtual, Senin.
Dalam hal ini, para penipu kejahatan online ini akan memberikan informasi mengenai informasi promo, hadiah yang mengatasnamakan sebuah perusahaan dengan membuat link typo yang ketika seorang tidak fokus akan mudah terpancing untuk membuka.
"Nanti di dalam pesan itu mereka akan disuruh buka link yang sudah didesain semirip mungkin dengan sebuah perusahaan, misal bl1bl1 atau D4NA, ketika kita tidak fokus maka kita masuk ke target mereka," kata dia.
Kejahatan siber ini membuat para konsumen dari Blibli ataupun DANA yang terperangkap dalam situasi ini, nantinya mereka tidak akan bisa melakukan transaksi dan melakukan kegiatan pada saat adanya promo.
Dia juga mengatakan bahwa, kejahatan yang melakukan ini adalah karena terhimpit masalah perekonomian. Dengan membuat website tiruan yang hanya memerlukan modal sedikit, nantinya mereka dapat mendapatkan hasil yang maksimal dari para korban.
"Motif mereka ini ingin mendapatkan ekonomi yang lebih dari cara ini, dengan modal yang minim dan akan mendapatkan hasil yang maksimal dari cara mereka menipu," kata dia.
Selain kejahatan pengambil alihan akun, para penjahat-penjahat in juga banyak melakukan pemeliharaan bot-bot yang disiapkan untuk melakukan pembelian berbagai promo menarik yang hadir di e-commerce.
"Bot itu dipelihara bukan sebatas gitu aja, bot hardware tujuan adanya satu ketika ada promo mereka akan memonopoli kuota nantinya," ucap dia.
"Jadi masyarakat, akan bertanya tanya ketika mereka tidak pernah berhasil mendapatkan flash sale dan itu tentu merugikan kita dan reputasi kita menjadi terganggu," tambah dia.
Untuk mencegah itu semua, tim dari Blibli sudah menghadirkan information security manajemen sistem sebagai tindakan preventif, reaktif dan juga responsif yang dihadirkan oleh Blibli.
Tidak hanya itu, Blibli juga sudah memiliki sertifikat ISO/IEC 27001:2013 dan menjadi satu-satunya e-commerce yang memegang sertifikat tersebut.
Untuk semakin mempersempit ruang para penjahat itu, tim dari Blibli juga sudah membentuk Computer Security Incident Response Team (CSIRT) yang akan menangani kejahatan siber di Blibli, dengan adanya ini diharapkan konsumen dapat berbelanja dengan tenang dan aman.
"Yang paling banyak terjadi itu adalah serangan social engineering, melalui phishing email, sms, whatsapp yang akan memancing kita untuk mengklik tautan yang diberikan seolah-olah itu benar dari Blibli ataupun DANA," ungkap Associate VP Information Security Blibli.com, Ricky Setiadi secara virtual, Senin.
Dalam hal ini, para penipu kejahatan online ini akan memberikan informasi mengenai informasi promo, hadiah yang mengatasnamakan sebuah perusahaan dengan membuat link typo yang ketika seorang tidak fokus akan mudah terpancing untuk membuka.
"Nanti di dalam pesan itu mereka akan disuruh buka link yang sudah didesain semirip mungkin dengan sebuah perusahaan, misal bl1bl1 atau D4NA, ketika kita tidak fokus maka kita masuk ke target mereka," kata dia.
Kejahatan siber ini membuat para konsumen dari Blibli ataupun DANA yang terperangkap dalam situasi ini, nantinya mereka tidak akan bisa melakukan transaksi dan melakukan kegiatan pada saat adanya promo.
Dia juga mengatakan bahwa, kejahatan yang melakukan ini adalah karena terhimpit masalah perekonomian. Dengan membuat website tiruan yang hanya memerlukan modal sedikit, nantinya mereka dapat mendapatkan hasil yang maksimal dari para korban.
"Motif mereka ini ingin mendapatkan ekonomi yang lebih dari cara ini, dengan modal yang minim dan akan mendapatkan hasil yang maksimal dari cara mereka menipu," kata dia.
Selain kejahatan pengambil alihan akun, para penjahat-penjahat in juga banyak melakukan pemeliharaan bot-bot yang disiapkan untuk melakukan pembelian berbagai promo menarik yang hadir di e-commerce.
"Bot itu dipelihara bukan sebatas gitu aja, bot hardware tujuan adanya satu ketika ada promo mereka akan memonopoli kuota nantinya," ucap dia.
"Jadi masyarakat, akan bertanya tanya ketika mereka tidak pernah berhasil mendapatkan flash sale dan itu tentu merugikan kita dan reputasi kita menjadi terganggu," tambah dia.
Untuk mencegah itu semua, tim dari Blibli sudah menghadirkan information security manajemen sistem sebagai tindakan preventif, reaktif dan juga responsif yang dihadirkan oleh Blibli.
Tidak hanya itu, Blibli juga sudah memiliki sertifikat ISO/IEC 27001:2013 dan menjadi satu-satunya e-commerce yang memegang sertifikat tersebut.
Untuk semakin mempersempit ruang para penjahat itu, tim dari Blibli juga sudah membentuk Computer Security Incident Response Team (CSIRT) yang akan menangani kejahatan siber di Blibli, dengan adanya ini diharapkan konsumen dapat berbelanja dengan tenang dan aman.
Pewarta : Chairul Rohman
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kemenag Sumsel kumpulkan dana bantuan Rp1,7 miliar untuk korban bencana Sumatera
22 December 2025 13:58 WIB
Pemprov Sumsel bantu dana perbaikan jalan rusak di Kabupaten OKU Rp7 miliar
02 December 2025 15:35 WIB
Terpopuler - Info Bisnis
Lihat Juga
PT Bumi Andalas Permai dukung budidaya kepiting bakau di Desa Sungai Batang OKI
12 February 2026 14:15 WIB
KAI Palembang catat 29.253 tiket Lebaran 2026 terjual, 50 persen dari kapasitas
10 February 2026 19:44 WIB