Peretas SolarWinds curi data kebijakan sanksi AS
Jumat, 8 Oktober 2021 9:31 WIB
Ilustrasi - Serangan di dunia siber/Internet (Cyber Attack). (Foto ANTARA)
Jakarta (ANTARA) - Kelompok peretas yang menggunakan perangkat lunak Microsoft dan SolarWinds untuk menyusup ke biro federal Amerika Serikat belakangan ini diketahui juga mencuri data tentang kebijakan sanksi terhadap individu Rusia dan kebijakan AS untuk menangani COVID-19.
Salah seorang sumber yang dikutip Reuters menyatakan peretas juga mendapatkan informasi tentang investigasi kontra-intelijen, yang dia sebut sebagai salah satu hal terburuk.
Laporan sebelumnya menyebutkan peretas menerobos jaringan Departemen Kehakiman dan membaca surat elektronik di Departemen Keuangan, Departemen Perdagangan dan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS.
Setidaknya ada sembilan biro federal yang diretas. Peretas juga mencuri sertifikat digital untuk meyakinkan komputer bahwa perangkat lunak adalah sah.
Juru bicara Departemen Kehakiman tidak berkomentar atas temuan ini.
Beberapa narasumber yang terlibat dalam investigasi pemerintah untuk kasus ini menyatakan mereka bisa melihat kata-kata yang digunakan Rusia untuk mencari berkas digital AS, termasuk "sanksi".
Dalam tinjauan tahunan tentang keamanan siber, Microsoft menyatakan mata-mata Rusia mengincar dokumen pemerintah tentang sanksi dan sejumlah kebijakan lainnya yang berkaitan dengan Rusia.
Peretasan ini merupakan salah satu yang terbesar yang dialami Amerika Serikat, mereka menuding badan intelijen Rusia SVR dalam kasus ini. SVR membantah tuduhan tersebut.
Peretas mencari proses produksi kode di SolarWinds, yang digunakan untuk pengaturan jaringan pada perangkat lunak, untuk membobol sistem biro federal.
Mereka juga memanfaatkan kerentanan di Microsoft untuk mengidentifikasi pengguna Office 365 dan meretas korban yang menggunakan perangkat lunak Microsoft, namun, bukan SolarWinds.
Pewarta :
Editor :
Salah seorang sumber yang dikutip Reuters menyatakan peretas juga mendapatkan informasi tentang investigasi kontra-intelijen, yang dia sebut sebagai salah satu hal terburuk.
Laporan sebelumnya menyebutkan peretas menerobos jaringan Departemen Kehakiman dan membaca surat elektronik di Departemen Keuangan, Departemen Perdagangan dan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS.
Setidaknya ada sembilan biro federal yang diretas. Peretas juga mencuri sertifikat digital untuk meyakinkan komputer bahwa perangkat lunak adalah sah.
Juru bicara Departemen Kehakiman tidak berkomentar atas temuan ini.
Beberapa narasumber yang terlibat dalam investigasi pemerintah untuk kasus ini menyatakan mereka bisa melihat kata-kata yang digunakan Rusia untuk mencari berkas digital AS, termasuk "sanksi".
Dalam tinjauan tahunan tentang keamanan siber, Microsoft menyatakan mata-mata Rusia mengincar dokumen pemerintah tentang sanksi dan sejumlah kebijakan lainnya yang berkaitan dengan Rusia.
Peretasan ini merupakan salah satu yang terbesar yang dialami Amerika Serikat, mereka menuding badan intelijen Rusia SVR dalam kasus ini. SVR membantah tuduhan tersebut.
Peretas mencari proses produksi kode di SolarWinds, yang digunakan untuk pengaturan jaringan pada perangkat lunak, untuk membobol sistem biro federal.
Mereka juga memanfaatkan kerentanan di Microsoft untuk mengidentifikasi pengguna Office 365 dan meretas korban yang menggunakan perangkat lunak Microsoft, namun, bukan SolarWinds.
Pewarta :
Editor :
Pewarta : Natisha Andarningtyas
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
FBI peringatkan bahaya gunakan pengisi daya ponsel di fasilitas publik
13 April 2023 13:32 WIB, 2023
Agung pemuda Madiun tersangka peretasan akui jual channel telegram ke Bjorka
17 September 2022 19:28 WIB, 2022
Terpopuler - Polhukam
Lihat Juga
Kasus TPPU eks Jampidsus segera disidangkan, kuasa hukum sebut Febrie kooperatif
16 September 2026 9:16 WIB