Penundaan Olimpiade beri kesempatan setara bagi atlet
Rabu, 8 April 2020 0:11 WIB
Ekspresi atlet judo asal Prancis Teddy Riner saat bertarung melawan atlet judo asal Jepang Kokoro Kaguera dalam ajang Paris Grand Slam di Paris (9/2/2020). (REUTERS/Panoramic/Gwendoline Le Goff)
Jakarta (ANTARA) - Olimpian peraih medali emas dua kali cabang judo Teddy Riner menganggap penundaan Olimpiade 2020 Tokyo yang penyelenggaraannya diundur ke tahun depan merupakan hal yang positif sebab memberikan kesempatan yang setara kepada para atlet agar bisa tampil di pesta olahraga empat tahunan tersebut.
"Kenapa harus marah (dengan penundaan Olimpiade)? Orang-orang meninggal. Anda harus memberikan para atlet kesempatan yang sama dan saat ini semua atlet tidak sedang berada di pijakan yang sama," ujar Riner kepada harian olahraga Prancis, L'Equipe seperti dilaporkan Reuters yang dikutip di Jakarta, Selasa.
Riner yang sudah memastikan tampil di Tokyo 2020 itu mengatakan bahwa menunggu satu tahun menuju Olimpiade bukanlah sesuatu yang buruk. Hal itu menurutnya justru dapat memberi lebih banyak waktu bagi atlet untuk menghadapi kejuaraan kualifikasi nanti.
"Menunggu satu tahun lagi bukanlah akhir dari segalanya. Kita hanya harus bersabar. Saya rasa kualifikasi tidak akan adil apabila Olimpiade ditunda hingga musim gugur," kata Riner yang mengalami kekalahan perdananya pada Februari lalu dalam 10 tahun terakhir berkarier sebagai petarung judo.
Meski Olimpiade ditunda, atlet judo asal Prancis itu mengatakan dirinya tetap melakukan latihan mandiri di rumahnya setelah pemerintah setempat memberlakukan kebijakan lockdown atau karantina wilayah sejak 17 Maret lalu. Rutinitas olahraga yang ketat pun tetap dilakukan demi menjaga kebugaran tubuhnya di tengah pandemi COVID-19.
Riner merupakan atlet judo yang berhasil mencatatkan rekor 154 kemenangan beruntun. Namun catatan fantastis tersebut harus terhenti saat berhadapan dengan atlet judo asal Jepang Kokoro Kaguera dalam ajang Grand Slam Paris pada Februari lalu.
Pandemi virus corona telah membuat banyak kejuaraan kualifikasi Olimpiade 2020 terganggu bahkan terpaksa dibatalkan. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan soal proses kualifikasi, apakah akan terus berlanjut atau dihentikan.
Tercatat, sudah ada sekitar 57 persen dari total 11 ribu atlet yang lolos Olimpiade, sedangkan 43 persen kuota tersisa masih akan terus dibahas oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan seluruh federasi olahraga internasional.
"Kenapa harus marah (dengan penundaan Olimpiade)? Orang-orang meninggal. Anda harus memberikan para atlet kesempatan yang sama dan saat ini semua atlet tidak sedang berada di pijakan yang sama," ujar Riner kepada harian olahraga Prancis, L'Equipe seperti dilaporkan Reuters yang dikutip di Jakarta, Selasa.
Riner yang sudah memastikan tampil di Tokyo 2020 itu mengatakan bahwa menunggu satu tahun menuju Olimpiade bukanlah sesuatu yang buruk. Hal itu menurutnya justru dapat memberi lebih banyak waktu bagi atlet untuk menghadapi kejuaraan kualifikasi nanti.
"Menunggu satu tahun lagi bukanlah akhir dari segalanya. Kita hanya harus bersabar. Saya rasa kualifikasi tidak akan adil apabila Olimpiade ditunda hingga musim gugur," kata Riner yang mengalami kekalahan perdananya pada Februari lalu dalam 10 tahun terakhir berkarier sebagai petarung judo.
Meski Olimpiade ditunda, atlet judo asal Prancis itu mengatakan dirinya tetap melakukan latihan mandiri di rumahnya setelah pemerintah setempat memberlakukan kebijakan lockdown atau karantina wilayah sejak 17 Maret lalu. Rutinitas olahraga yang ketat pun tetap dilakukan demi menjaga kebugaran tubuhnya di tengah pandemi COVID-19.
Riner merupakan atlet judo yang berhasil mencatatkan rekor 154 kemenangan beruntun. Namun catatan fantastis tersebut harus terhenti saat berhadapan dengan atlet judo asal Jepang Kokoro Kaguera dalam ajang Grand Slam Paris pada Februari lalu.
Pandemi virus corona telah membuat banyak kejuaraan kualifikasi Olimpiade 2020 terganggu bahkan terpaksa dibatalkan. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan soal proses kualifikasi, apakah akan terus berlanjut atau dihentikan.
Tercatat, sudah ada sekitar 57 persen dari total 11 ribu atlet yang lolos Olimpiade, sedangkan 43 persen kuota tersisa masih akan terus dibahas oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan seluruh federasi olahraga internasional.
Pewarta : Shofi Ayudiana
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kurs rupiah dinilai masih jauh lebih baik dibanding periode 2019-2020
08 November 2023 16:20 WIB, 2023
Johnny G Plate siap jadi "justice collaborator" di kasus BTS Kominfo 2020-2022
12 June 2023 13:01 WIB, 2023
Jaksa tetapkan Ketua Bawaslu Ogan Ilir jadi tersangka korupsi dana hibah
01 June 2023 20:10 WIB, 2023
Pemerintah mengucurkan anggaran PEN Rp1.645,45 triliun selama 2020-2022
26 January 2023 12:38 WIB, 2023
Chicago Bulls menang 126-108 perpanjang dominasi atas Pistons sejak 2020
20 January 2023 9:04 WIB, 2023