Panpel rancang opsi jika Olimpiade ditunda
Senin, 23 Maret 2020 0:32 WIB
Seorang pejalan kaki sambil mengenakan masker melintas di dekat logo olimpiade di kota Tokyo, Jepang (12/3/2020). ANTARA/Xinhua/Du Xiaoyi/aa.
Jakarta (ANTARA) - Panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 diam-diam tengah merancang opsi alternatif jika pesta olahraga akbar empat tahunan itu harus ditunda karena pandemi COVID-19.
Laporan eksklusif Reuters pada Minggu melansir bahwa sumber dekat panpel menyatakan telah diminta untuk merancang skenario jika penundaan harus ditempuh.
Hal itu berbanding terbalik dari sikap resmi pemerintahan Jepang, yang sepekan terakhir disuarakan Perdana Menteri Shinzo Abe, perihal keyakinan Olimpiade Tokyo bisa digelar sesuai jadwal pada 24 Juli s.d. 9 Agustus nanti.
"Akhirnya, kami sudah diminta membuat simulasi jika ada penundaan," kata salah satu sumber Reuters.
"Kami diminta menyiapkan opsi alternatif, plan B, C, D, dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan rentang waktu penundaan," ujar sumber yang sama, sembari menambahkan skenario tersebut memasukkan perhitungan estimasi biaya yang ditimbulkan.
Sumber Reuters lainnya menyebutkan bahwa panpel Olimpiade Tokyo memang tengah membicarakan opsi penundaan, termasuk jika harus memakan waktu satu hingga dua tahun.
Sebagian besar anggota panpel berharap penundaan hanya memakan waktu sebulan atau 45 hari, demikian kata sumber yang sama.
Keputusan akhir soal kelanjutan Olimpiade Tokyo 2020 nantinya akan ditentukan oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC), yang hingga saat ini masih yakin ajang itu akan tetap digelar sesuai rencana, tetapi sikap pemerintah Jepang dan panpel setempat juga dipertimbangkan.
Komite olimpiade sejumlah negara dalam sepekan terakhir terus menyuarakan kekhawatiran mereka jika Olimpiade Tokyo tetap dipaksakan dilangsungkan sesuai jadwal, mulai dari alasan keamanan hingga kualitas kompetisi turnamen.
Laporan eksklusif Reuters pada Minggu melansir bahwa sumber dekat panpel menyatakan telah diminta untuk merancang skenario jika penundaan harus ditempuh.
Hal itu berbanding terbalik dari sikap resmi pemerintahan Jepang, yang sepekan terakhir disuarakan Perdana Menteri Shinzo Abe, perihal keyakinan Olimpiade Tokyo bisa digelar sesuai jadwal pada 24 Juli s.d. 9 Agustus nanti.
"Akhirnya, kami sudah diminta membuat simulasi jika ada penundaan," kata salah satu sumber Reuters.
"Kami diminta menyiapkan opsi alternatif, plan B, C, D, dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan rentang waktu penundaan," ujar sumber yang sama, sembari menambahkan skenario tersebut memasukkan perhitungan estimasi biaya yang ditimbulkan.
Sumber Reuters lainnya menyebutkan bahwa panpel Olimpiade Tokyo memang tengah membicarakan opsi penundaan, termasuk jika harus memakan waktu satu hingga dua tahun.
Sebagian besar anggota panpel berharap penundaan hanya memakan waktu sebulan atau 45 hari, demikian kata sumber yang sama.
Keputusan akhir soal kelanjutan Olimpiade Tokyo 2020 nantinya akan ditentukan oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC), yang hingga saat ini masih yakin ajang itu akan tetap digelar sesuai rencana, tetapi sikap pemerintah Jepang dan panpel setempat juga dipertimbangkan.
Komite olimpiade sejumlah negara dalam sepekan terakhir terus menyuarakan kekhawatiran mereka jika Olimpiade Tokyo tetap dipaksakan dilangsungkan sesuai jadwal, mulai dari alasan keamanan hingga kualitas kompetisi turnamen.
Pewarta : Gilang Galiartha
Editor : Indra Gultom
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mahasiswa Indonesia juarai lomba di Jepang lewat aplikasi revolusioner
18 October 2023 17:22 WIB, 2023
Manfaat empeng bagi bayi hingga NCT Tokyo jadi ekspansi terakhir unit
26 February 2023 8:57 WIB, 2023
Dubes RI: Kritik atas pemakaman kenegaraan PM Abe dalam koridor demokrasi
26 September 2022 21:43 WIB, 2022